HeadlineDaerah

FEATURE: Bripka Riana Handayani, Dua Seragam, Tiga Peran Dalam Satu Raga

×

FEATURE: Bripka Riana Handayani, Dua Seragam, Tiga Peran Dalam Satu Raga

Sebarkan artikel ini
WhatsApp Image 2026 08 29 at 21.21.04
Brigadir Polisi Kepala (Bripka) Riana Handayani, Kanit Binmas Sat Binmas Polres Luwu.
63 / 100 Skor SEO

Ritmee.co.id- Korps Polisi Wanita (Polwan) Indonesia merayakan hari jadinya setiap 1 September. Tahun ini adalah peringatan ke-78. Di balik upacara, defile, dan foto bersama, ada cerita Panjang tentang perempuan-perempuan yang memilih mengabdikan hidupnya dalam seragam cokelat.

Awal Mula Terbentuknya Polwan Indonesia

Sebelum tahun 1948, wanita belum diperbolehkan untuk mengikuti pendidikan kepolisian atau menjadi anggota polisi. Kala itu profesi sebagai polisi hanya boleh dilakoni oleh laki-laki.

Hingga pada satu kesempatan, polisi laki-laki tak mampu melaksanakan sebuah tugas, tepatnya saat Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI) menghadapi Agresi Militer Belanda II.

Saat itu, terjadi pengungsian besar-besaran yang meliputi pria, wanita, dan anak-anak, mereka meninggalkan rumah untuk menjauhi titik-titik peperangan, dan untuk mencegah terjadinya penyusupan, para pengungsi harus diperiksa oleh polisi, namun para pengungsi wanita menolak diperiksa terlebih digeledah secara fisik oleh polisi pria.

Karena persoalan inilah, organisasi wanita dan organisasi wanita Islam di Bukittinggi, Sumatera Barat kemudian mengusulkan kepada pemerintah agar wanita diikutsertakan dalam pendidikan kepolisian.

Berangkat dari usulan itulah, Cabang Djawatan Kepolisian Negara untuk Sumatera yang berkedudukan di Bukittinggi akhirnya memberikan kesempatan kepada wanita-wanita pilihan untuk menjadi polisi.

1 September 1948, 6 siswa wanita pilihan resmi diikutsertakan dalam pendidikan kepolisian. Mereka adalah Mariana Saanin, Nelly Pauna, Rosmalina Loekman, Dahniar Sukotjo, Djasmainar, dan Rosnalia Taher.

Keenam wanita ini mengikuti pendidikan kepolisian bersama 44 siswa laki-laki di SPN Bukittinggi, yang kemudian menjadi cikal bakal perjalanan perempuan-perempuan hebat menjadi seorang Polisi Wanita (Polwan) yang diperingati setiap 1 September.

WhatsApp Image 2026 08 29 at 21.21.32
Selain aktif sebagai Polisi Wanita (Polwan) di Polres Luwu, Bripka Riana juga aktif di organisasi Bhayangkari.

Dari Enam Jadi Puluhan Ribu Polwan Indonesia

1 Mei 1951, keenam calon inspektur polisi wanita tersebut berhasil menyelesaikan pendidikan dan memulai tugas pertamanya di Djawatan Kepolisian Negara dan Komisariat Polisi Jakarta Raya.

Di Djawatan Kepolisian Negara dan Komisariat Polisi Jakarta Raya, mereka diberikan tugas khusus menyangkut kepolisian berkaitan dengan wanita, anak-anak, dan masalah-masalah sosial seperti mengusut, memberantas, dan mencegah kejahatan yang dilakukan oleh atau terhadap wanita dan anak-anak. Memeriksa fisik kaum wanita baik terdakwa ataupun saksi, mengawasi dan memberantas pelacuran, perdagangan perempuan dan anak.

Seiring perkembangan zaman, perempuan-perempuan Indonesia semakin banyak memilih untuk mengabdikan diri sebagai Polisi Wanita (Polwan). Terhitung sejak terbentuknya Polwan tahun 1948 hingga tahun 2026 ini, jumlah Polwan di Indonesia mengalami peningkatan signifikan. Dari hanya 6 personel menjadi 28.300 personel Polwan yang tersebar di seluruh Indonesia.

Salah satu di antara puluhan ribu personel Polwan Indonesia saat ini ialah, Brigadir Kepala Polisi (Bripka) Riana Handayani Azis. Perempuan kelahiran Palopo, 31 Januari 1989 itu, saat ini bertugas di Polres Luwu sebagai Kanit Binmas Satuan Bimbingan Masyarakat.

Impian Sejak Kecil Bripka Riana

Bagi Riana, menjadi Polisi Wanita (Polwan) merupakan cita-citanya sejak kecil. Sejak masih duduk di bangku sekolah, ia sudah bermimpi mengenakan seragam Polisi. Ia melihat profesi itu sebagai pelindung masyarakat, menjaga keamanan dan memberi rasa aman khususnya untuk perempuan dan anak.

WhatsApp Image 2026 08 29 at 18.16.37
Bripka Riana Handayani bersama sang suami, Ipda Hisrul.

Keinginan itulah yang mendorongnya untuk mengabdikan diri menjadi seorang Polwan. Karena keinginan itu pula Riana mengejar cita-citanya hingga merasakan 3 kali kegagalan saat mendaftar sebagai anggota Polri.

“Saya daftar Polwan tidak sekali atau dua kali, tapi 4 kali. Kegagalan yang saya alami saat mendaftarkan diri, saya jadikan sebagai pelajaran dan motivasi, bagi saya menjadi anggota Polri adalah hidup dan mimpi yang harus saya perjuangkan dan harus saya raih,” kata Bripka Riana.

18 tahun pengabdian sebagai Polwan tidaklah mudah, bagi Bripka Riana, setiap tahun profesi yang ia pilih adalah pelajaran baru. Semakin lama bertugas, semakin terasa bahwa profesi ini bukan sekadar pekerjaan, namun juga pengabdian.

“Menjadi Polwan di era sekarang ini harus betul-betul bisa menjadi polisi seutuhnya bukan sekadar penegak hukum, dalam artian polwan harus mampu mengimbangi kemampuan anggota polisi laki-laki, sebab saat ini sudah tidak ada perbedaan tugas. Polwan juga dituntut jadi sosok yang humanis, jadi pendengar, jadi sahabat masyarakat, dan jadi jembatan antara hukum dan hati masyarakat. Terlebih di era media sosial seperti sekarang, setiap tindakan kita adalah contoh bagi masyarakat,” ucap Riana.

Seragam Cokelat, Tanggung Jawab Negara

Memilih jalur kepolisian, apalagi di bidang yang menuntut ketelitian dan mental kuat, bukan keputusan mudah. Dunia tugas Polri identik dengan ketidakpastian waktu. Kadang harus siaga 24 jam, kadang harus meninggalkan rumah saat keluarga sedang butuh.

Seragam cokelat yang dikenakan oleh Bripka Riana berarti tanggung jawab Negara, bertugas sebagai Kepala Unit (Kanit) Binmas Satuan Binmas Polres Luwu tidaklah mudah, ada momen yang menuntutnya harus siap kapan saja dan terus mengedepankan sisi humanis dan profesionalitas sebagai seorang anggota Polwan.

“Tantangan terbesarnya itu bagaimana saya harus mampu menjadi jembatan kepercayaan antara institusi kepolisian dan masyarakat dengan mengedepankan pola persuasif dan humanis seorang Polri. Tetap menjaga profesionalitas sekaligus menyeimbangkan emosi. Di lapangan Polwan tetap harus tegas, namun di saat yang bersamaan kita juga harus punya empati,” ujarnya.

“Tantangan lainnya adalah waktu. Tugas Polri tidak mengenal jam kantor, kadang kita harus siap 24 jam, sementara di rumah keluarga juga membutuhkan kehadiran kita sebagai seorang ibu dan istri,” kata Bripka Riana.

Baginya, seragam cokelat bukan sekadar atribut. Seragam itu adalah pengingat bahwa ada masyarakat yang menaruh harapan. Ada hukum yang harus ditegakkan. Ada keamanan dan kenyamanan yang harus di jaga, dan ada keadilan yang harus dicari.

Seragam Bhayangkari, Jembatan Pengabdian Sosial

Di luar tugas utama sebagai seorang anggota Polwan, berarti melepas satu peran untuk menjalankan peran lainnya.

Selain menjadi salah satu personel Polwan, Bripka Riana juga dikenal sebagai salah satu anggota Bhyangkari Polres Luwu. Bhayangkari bukan sekadar organisasi istri anggota Polri. Di dalamnya ada kegiatan sosial, pembinaan keluarga, pelatihan UMKM untuk ibu-ibu, hingga bakti sosial ke panti dan desa.

Sebagai istri dari Inspektur Dua Polisi (Ipda) Hisrul, Bripka Riana melihat langsung bagaimana keluarga besar Polri punya tanggung jawab sosial yang luas.

“Sebagai Bhayangkari, tentu saya memberikan support terhadap tugas-tugas yang diembankan kepada suami saya, terlebih kami berada di institusi yang sama. Bhanyangkari itu penyangga di belakang, kalau suami bertugas menjaga keamanan di luar, maka kami sebagai Bhayangkari menjaga ketahanan keluarga dari dalam,” katanya.

Melalui kegiatan Bhayangkari, Bripka Riana bertemu banyak perempuan hebat. Ada yang mengurus koperasi, ada yang mengajar anak-anak, ada yang terjun ke desa binaan. Dari situlah ia belajar bahwa pengabdian tidak harus selalu di garis depan dengan senjata. Kadang pengabdian dimulai dari dapur, dari kelas mengaji, dari pelatihan untuk mengembangkan sumber daya perempuan.

Tanpa Seragam, Peran Sebagai Ibu Rumah Tangga

Ketika di kantor Bripka Riana mengenakan seragam cokelat dan menjalakan tugas sebagai anggota Polwan, ketika di organisasi Bhayangkati ia menjadi penyanggah bagi tugas sang suami suami, di rumah Bripka Riana melepaskan semua atribut itu, ia fokus menjalankan perannya sebagai seorang ibu dari dua anak yang membutuhkan perhatian.

Sudah menjadi rutinitas di pagi hari sebelum mengenakan seragam cokelatnya dan menjalankan tugas sebagai abdi negara (Kanit Binmas Sat Binmas Polres Luwu), Riana terlebih dulu menjalankan perannya sebagai ibu rumah tangga dengan telaten.

Mempersiapkan kebutuhan suami yang akan berangkat kerja dan kebutuhan kedua anaknya yang akan berangkat sekolah. Peran ini ia lakoni setiap hari, pagi hingga sore di kantor, kemudian kembali menjadi ibu rumah tangga di malam hari.

“Kuncinya manajemen waktu dan prioritas. Saat di kantor, saya fokus 100% untuk tugas. Saat di rumah, saya fokus untuk anak dan suami. Untuk kegiatan Bhayangkari saya sesuaikan dengan jadwal yang tidak bentrok dengan tugas utama dan keluarga. Komunikasi dengan keluarga juga penting,” tuturnya.

Pilihan Berat Antara Tugas Negara dan Keluarga

Menjadi seorang Polwan berarti harus siap meninggalkan keluarga kapan saja. Apel pagi, patroli, siaga, hingga dinas luar kota. Tidak ada kata “nanti” saat negara memanggil. Sama halnya dengan Bripka Riana, yang di pundaknya mengemban amanah yang harus ia jalankan beriringan.

“Kami anggota Polri disumpah untuk melindungi, mengayomi, dan melayani masyarakat. Namun di balik seragam yang kami kenakan, ada rumah yang juga harus kami urus dengan baik dan telaten. Ada anak yang menunggu kami pulang, ada suami yang butuh teman berdiskusi. Seperti ditarik dua tali, melepas satu tali berarti mengecewakan satu tali yang lain,” ungkapnya.

Pilihan antara tugas dan keluarga ini juga kerap dirasakan oleh Bripka Riana, di mana saat bertugas di luar kota anak-anak sedang sakit di rumah sehingga sehingga ia dituntut untuk lebih fokus menjalani perannya sebagai ibu.

“Namanya manusia, terlebih seorang ibu yang juga berprofesi sebagai Polwan, situasi ini pasti menghampiri kami. Saya pernah menjalankan tugas di luar kota, sementara di rumah anak-anak saya lagi sakit, sehingga saya harus kembali ke rumah untuk menemani mereka. Tentunya terlebih dulu saya meminta izin ke pimpinan. Rasa bersalah pasti ada, namun ini yang membuat saya semakin menghargai setiap waktu bersama keluarga dan waktu saat menjalankan tugas negara,” ucapnya.

Suami dan Anak Jadi Support Sistem Terbesar

Mengabdi sebagai seorang anggota Polri, menjadi penyanggah tugas-tugas suami sebagai anggota Bhayangkari, dan menjalankan tugas mulia sebagai ibu tentu membutuhkan dukungan besar.

Dalam melakoni ketiga peran itu, Bripka Riana menjadikan dukungan dari sang suami Ipda Hisrul dan kedua anaknya sebagai doa. Pengertian suami dan anak-anaknya sebagai kekuatan terbesar.

“Menjalani tiga peran sekaligus tentunya tidak mudah, lelah sudah pasti, tapi doa, dukungan, dan pengertian dari suami dan anak-anak saya jadikan sebagai support sistem terbesar saya. Terlebih suami saya bukanlah kepala rumah tangga yang patriarki, ia memahami betul bahwa tugas sebagai anggota Polri adalah sebuah amanah, kadang ia turun tangan menjaga anak-anak, terlebih ketika saya mendapat tugas dadakan. Tanpa restu dan doa dari suami serta anak-anak, saya tidak akan bisa menjalani tiga peran sekaligus,” ungkapnya.

Tiga Peran Saling Melengkapi dengan Tantangan dan Kebahagiaan Berbeda

Ada tantangan tersendiri yang dilalui oleh Bripka Riana selama 18 tahun pengabdian sebagai seorang Polwan. Di mana ia harus bisa mengimbangi kinerja anggota Polisi laki-laki, tanpa melupkaan dua tanggung jawabnya yang lain sebagai Bhayangkari dan seorang ibu.

“Namun sejatinya yang paling menantang itu menjalankan tugas sebagai seorang ibu rumah tangga, sebab tidak ada jam ‘pulang kerja’, 24 jam kita dipanggil untuk terus hadir tanpa mengenal tempat. Namun juga paling membahagiakan,” katanya.

Bagi Bripka Riana, melihat kedua anaknya tumbuh cerdas dan sehat, adalah kebahagiaan yang tidak akan bisa digantikan dengan apa pun.

“Mendengar cerita mereka, dan jadi tempat pulang mereka itu sangat membahagiakan. Di kantor mungkin saya bisa tegas, di organisasi Bhayangkari saya bersosial, namun di rumah, anak-anak, dan suami saya menemukan kebahagiaan dan ketenangan. Ketiga peran ini saling melengkapi bagi saya,” ucapnya.

1 September-Hari Polwan Indonesia

Bagi institusi, Bripka Riana Handayani Aziz adalah seorang anggota Polri. Bagi organisasi ia adalah anggota Bhanyakari, namun bagi anak dan suaminya ia adalah seorang ibu yang penyayang dan istri yang telaten. Tiga peran, dua seragam, yang Bripka Riana lakoni adalah satu komitmen: mengabdi.

Di momen Hari Polwan ini, ia berharap sinergi antara Polwan dan Bhayangkari semakin kuat. Karena keduanya punya tujuan sama: menciptakan keluarga Polri yang sehat, kuat, dan bermanfaat bagi masyarakat.

“Hari Polwan adalah pengingat. Bahwa menjadi Polwan tidak berarti berhenti menjadi perempuan. Tidak berarti berhenti menjadi istri dan ibu,” katanya.

“Jangan takut bermimpi jadi Polwan. Memang berat. Tapi kalau niatnya untuk mengabdi dan keluarga mendukung, Tuhan akan kuatkan,” pesan Bripka Riana untuk generasi muda perempuan Indonesia.

Di usia pengabdiannya sebagai Polwan yang terus bertambah, Bripka Riana tidak pernah berhenti belajar. Belajar menjadi anggota Polri yang humanis, belajar menjadi istri yang suportif, belajar menjadi ibu yang hadir.

Tiga peran itu kadang bertabrakan. Tapi justru dari situlah Bripka Riana menemukan kekuatannya. Karena pada akhirnya, baik di balik meja kerja, di kegiatan sosial, maupun di meja makan rumah, yang ia lakukan adalah satu hal: mengabdi.

Mengabdi untuk negara. Mengabdi untuk keluarga besar Polri. Mengabdi untuk keluarga kecilnya. “Menjadi Polwan tidak membuat saya berhenti jadi seorang ibu. Dan menjadi ibu, tidak membuat saya berhenti mengabdi untuk negeri,” tandas Bripka Riana.

Peringatan Hari Jadi ke-78 Polisi Wanita (Polwan) Republik Indonesia pada 1 September 2026 ini mengusung tema “One Police Women, Extraordinary Impact”, yang berarti satu orang Polisi Wanita (Polwan) mampu menghadirkan dampak, pengaruh, dan perubahan luar biasa yang signifikan bagi masyarakat, bangsa, dan institusi Kepolisian. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *