HeadlineDaerahLingkungan Hidup

PT Vale Dukung Kolaborasi Multipihak Dan Inisiatif Pelestarian Danau Matano

×

PT Vale Dukung Kolaborasi Multipihak Dan Inisiatif Pelestarian Danau Matano

Sebarkan artikel ini
PT VALE FGD e1790238789286
Focus Group Discussion (FDG) Deklarasi bersama Kolaborasi Multipihak Pengelolaan Danau Matano Berkelanjutan yang dilaksanakan oleh Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Kementerian Kehutanan, di Hotel Mireya,Rabu (23/09/2026).
62 / 100 Skor SEO

SOROWAKO- Sebagai bagian dari ekosistem di sekitar Danau Matano, PT Vale Indonesia Tbk mendukung kolaborasi dalam berbagai inisiatif pelestarian Danau Matano yang membutuhkan kolaborasi multipihak dan melibatkan pemerintah, dunia usaha, lembaga pemerhati lingkungan, masyarakat, serta berbagai pemangku kepentingan lainnya, Kamis (24/09/2026).

Komitmen itu disampaikan PT Vale dalam Focus Group Discussion (FDG) Deklarasi bersama Kolaborasi Multipihak Pengelolaan Danau Matano Berkelanjutan yang dilaksanakan oleh Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Kementerian Kehutanan, dengan dukungan PT Vale di Hotel Mireya, pada Rabu (23/09/2026) kemarin.

Dalam forum tersebut, PT Vale memaparkan berbagai upaya yang telah dilakukan dalam mendukung keberlanjutan ekosistem Danau Matano, baik melalui program konservasi dan pemberdayaan masyarakat, pengelolaan kualitas air dari kegiatan operasional, maupun reklamasi progresif pada area yang telah selesai ditambang.

Senior Coordinator PTPM Livelihood PT Vale Indonesia, Sainab Husain Paragay menjelaskan bahwa, pendekatan koservasi yang dilakukan PT Vale tidak hanya berorientasi pada aspek lingkungan, namun juga mendorong keterlibatan masyarakat dan terciptanya manfaat sosial-ekonomi yang dapat mendukung keberlanjutan program.

“Salah satunya yaitu melalui Program PPM Konservasi Matano Iniaku, yang dilaksanakan melalui sejumlah kegiatan seperti pengembangan agroforestry dan nursery komunitas, rehabilitasi daerah aliran sungai, pengembangan ekowisata, penguatan ekonomi kreatif, serta peningkatan kapasitas masyarakat dalam menghadapi bencana,” terangnya.

Upaya konservasi ini, menurut Sainab, tidak dapat berdiri sendiri, namun membutuhkan keterlibatan masyarakat dan dukungan dari berbagai pihak agar program yang dilakukan dapat memberikan dampak yang berkelanjutan.

“Oleh karena itu, kolaborasi multipihak seperti ini menjadi bagian penting dalam menjaga ekosistem Danau Matano. Selain Matano Iniaku, PT Vale juga menjalankan sejumlah inisiatif yang juga membutuhkan upaya konservasi dengan pemberdayaan masyarkat,” ujarnya.

“Inisiatif tersebut diantaranya pemanfaatan tanaman invasive Hydrilla sebagai bahan baku pupuk kompos, serta pemanfaatan ikan invasih seperti Sapu-Sapu dan lauhan sebagai bahan baku tepung ikan atau pakan ternak,” tambah Sainab.

Program ini, lanjut Sainab, melibatkan kelompok pemuda peduli lingkungan, nelayan, serta kelompok spearfishing.

“Melalui pendekatan ini, diharapkan diharapkan tidak hanya membantu pengendalian spesies invasive, namun juga membuka peluang pemanfaatan sumber daya tersebut menjadi produk yang memiliki nilai ekonomi bagi masyarakat,” ucapnya.

Di kesempatan itu, Spesialist Biodiversity PT Vale Indonesia, Andri Ardiansyah memaparkan bahwa, air yang berasal dari area operasional dikendalikan dan melalui proses pengolahan sebelum dilepas ke lingkungan.

“Pemantauan dan pengelolaan kualitas air ini dilakukan untuk memastikan parameter air yang dilepas memenuhi baku mutu lingkungan sesuai ketentuan yang berlaku. Pendekatan ini merupakan bagian dari upaya PT Vale untuk memastikan kegiatan operasional berjalan dengan tetap memperhatikan perlindungan terhadap kualitas lingkungan dan badan air di sekitarnya,” paparnya.

Selain pengelolaan air, lanjut Andri, perlindungan juga dilakukan melalui rekalamsi progresif yaitu reklamasi secara bertahap pada area yang telah selesai digunakan untuk kegiatan penambangan, sehingga proses pemulihan lahan dapat berjalan seiring dengan aktivitas operasional.

“Tahap reklamasi ini meliputi backfilling, penyiapan dan pembentukan kontur lahan, topsoil spreading, pengendalian erosi, pemupukan menggunakan kompos dan NPK, penanaman tanaman penutup dan tanaman pionir, serta perawatan hingga terbentuk vegetasi yang berkelanjutan,” terangnya.

“Pendekatan ini menunjukkan bahwa pengelolaan lingkungan tidak hanya dilakukan ketika kegiatan operasional berlangsung, namun juga mencakup proses pemulihan lahan secara bertahap setelah aktivitas penambangan selesai pada suatu area,” tambah Andri.

Selain itu, kata Andri, PT Vale memandang keberlanjutan Danau Matano sebagai kepentingan bersama yang membutuhkan pendekatan lintas sektor. Pemerintah dan instansi terkait memiliki peran penting dalam aspek kebijakan dan regulasi.

“Sementara lembaga pemerhati lingkungan, akademisi, masyarakat, komunitas, dan dunia usaha dapat berkontribusi melalui keahlian, invasi, partisipasi, maupun dukungan sumber daya,” ucapnya.

“Oleh karena itu, PT Vale terbuka terhadap berbagai peluang program kolaborasi yang dapat dilakukan bersama para pemangku kepentingan untuk mendukung pelestarian Danau Matano,” tandas Andri.

Sementara itu, Kepala Bidang Teknis Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (KSDA) Sulawesi Selatan, Eru N. Dahlan mengungkapkan bahwa, kolaborasi strategis multipihak sangat krusial mengingat tantangan kelestarian Danau Matano yang kian meningkat akibat  minimnya integrasi antarlembaga.

“Kami melihat upaya pelestarian Danau Matano membutuhkan sinergi dan kerja bersama semua pihak dan stakeholder terkait. Banyak pihak bekerja sendiri-sendiri, sehingga bisa jadi kegiatan itu malah slaing tumpeng tindih atau malah ada kegiatan yang seharusnya dilakukan namun tidak dilakukan,” ujarnya.

Eru Dahlan juga menambahkan, koordinasi bersama ini bertujuan menyatukan visi seluruh pihak terkait.

“Untuk itu, kami coba undang semua stakeholder yang terkait untuk sama-sama menyampaikan pandangan, apa yang sudah dilakukan, dan apa rencana ke depan. Kalau ada rencana ke depan yang bisa dikolaborasi, mari dikerjakan secara bersama-sama dan lebih serius. Dengan kegiatan ini diharapkan akan memudahkan kolaborasi dan koordinasi ke depan,” terangnya.

Focus Group Discussion yang digelar ini, menjadi ruang untuk memperkuat perspektif dan komitmen bersama dalam mendorong pengelolaan Danau Matano secara berkelanjutan.

Kolaborasi multipihak ini juga diharapkan dapat menghasilkan pendekatan yang lebih terintegrasi. Sehingga upaya menjaga Danau Matano tidak hanya menjadi agenda masing-masing pihak, namun juga berkembang menjadi gerakan bersama untuk memastikan keberlanjutan fungsi ekologis, sosial, dan ekonomi bagi generasi saat ini dan mendatang. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *