LUWU- Laksanakan pertemuan Koordinasi Jejaring Pemberian Makanan Tambahan (PMT), Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Luwu, Kurniah Patahudding dorong penguatan kolaborasi lintas sektor dalam pelaksanaan PMT berbasis pangan lokal bagi ibu hamil dan balita bermasalah gizi. Pertemuan itu dilaksanakan di Palopo Beach Hotel, Kota Palopo, Senin (19/10/2026).
Dalam sambutannya, Kurniah menegaskan bahwa, pemenuhan gizi ibu hamil dan balita merupakan tanggung jawab bersama yang membutuhkan keterlibatan pemerintah, TP-PKK, tenaga kesehatan, serta masyarakat.
“Pemanfaatan pangan lokal sebagai sumber makanan bergizi beragam, dan aman bagi keluarga. Ini merupakan salah satu langkah yang dapat dilakukan yaitu mengoptimalkan pekarangan rumah untuk menanam berbagai kebutuhan pangan keluarga,” tegasnya.
Di kesempatan itu, Ketua TP-PKK Kabupaten Luwu juga mengajak para ketua TP-PKK kecamatan hingga desa dan kelurahan untuk menjadi teladan dalam menerapkan kebiasaan tersebut sebelum mengajak masyarakat melakukannya.
“Kita harus mengawali dari diri sendiri terlebih dahulu, baru kemudian masyarakat melihat contohnya. Kalau ibu camat sudah melaksanakan, otomatis ibu desa juga akan mencontoh,” ucap Kurniah.
Selain pemanfaatan pekarangan, Ketua TP-PKK Kabupaten Luwu juga meminta dukungan pemerintah kecamatan untuk menjaga kebersihan dan ketertiban lingkungan, termasuk menertibkan hewan peliharaan yang berkeliaran.
“Lingkungan yang bersih dan tertata menjadi salah satu faktor pendukung kesehatan keluarga. Untuk itu, mari kita bekerja dengan hati, bergerak dengan sinergi, dan memberikan yang terbaik untuk generasi penerus Kabupaten Luwu,” katanya.
Selain itu, Kurniah juga berharap, pertemuan koordinasi tersebut dapat menghasilkan komitmen bersama, pembagian peran yang jelas, serta rencana tindak lanjut yang dapat diterapkan hingga tingkat desa, kelurahan, dan keluarga.
Sementara Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Luwu dr. Rosnawary memaparkan data status gizi sebagai Gambaran tantangan yang masih perlu ditangani bersama. Menurut dr. Rosnawary, data status gizi tersebut menjadi dasar bagi pemerintah daerah dan seluruh pemangku kepentingan untuk memperkuat intervensi gizi yang tepat sasaran.
“Angka-angka dari Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) harus menjadi pendorong sekaligus pekerjaan rumah bagi kita bersama. Tujuannya bukan sekadar menurunkan angka statistik, namun juga memastikan masyarakat terutama bayi, balita, dan ibu hamil di Kabupaten Luwu dapat hidup lebih sehat,” tegasnya.
Adapun angka berdasarkan Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) Tahun 2024, prevelansi stunting di Kabupaten Luwu tercatat sebesar 23,6 persen, lebih tinggi dibandingkan angka nasional sebesar 21,5 persen.
Sementara prevalensi wasting atau kondisi anak kurus dan sangat kurus tercatat sebesar 4,5 persen, lebih rendah dibandingkan angka nasional sebesar 8,5 persen.
Adapun prevalensi anak dengan kondisi kelebihan berat badan (overweight) tercatat sebesar 4,2 persen, sedangkan prevalensi underweight atau berat badan di bawah standar mencapai 17,5 persen.
Melalui pertemuan itu, jejaring kerja antara Dinas Kesehatan, TP-PKK, puskesmas, pemerintah kecamatan, serta pemerintah desa dan kelurahan diharapkan semakin kuat. Kolaborasi tersebut diperlukan agar pelaksanaan PMT berbasis pangan lokal tidak hanya berfokus pada pemberian makanan tambahan, namun juga disertai edukasi gizi, pemantauan pertumbuhan anak, dan pendampingan bagi keluarga yang membutuhkan perhatian khusus.
Kegiatan tersebut, juga dihadiri oleh Ketua Bidang I TP-PKK Kabupaten Luwu, Nilasary Dhevy, Ketua Dharma Wanita Kabupaten, Rafika Liakta, serta narasumber dari Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Selatan, Shamsuddin, dan Rahmatiya. Hadir pula para kepala puskesmas se-Kabupaten Luwu. (*)












