“Celana cingkrang adalah masalah besar bangsa ini,” kata Ade Armando di acara Rosi dua malam lalu. Pakaiannya serba hitam, mungkin hatinya juga.Beberapa detik sebelumnya dia bilang siapa saja yang ingin menerapkan syariah adalah ancaman.
Bakal menjadi lawan utama pemerintah periode ini. Nah (saya dengar di sebuah ceramah) syariah dalam Islam itu identik dengan salat, puasa, haji, zakat, dan banyak ibadah lain. Berarti pemerintah, versi Ade, tak senang dengan rakyat yang beribadah.
Rocky Gerung yang bukan muslim menyebut Ade berhalusinasi. Rosi menengahi dengan iklan. Seingat saya iklan camilan cokelat dengan tambahan rasa anggur. Tetapi saya tetap sepakat dengan pernyataan Rocky setelah jeda. “Hari-hari awal pemerintahan ini langsung mempertontonkan kecemasan.” Kecemasan yang tidak perlu.
Yang presiden dan beberapa menterinya takuti adalah kesimpulan yang mereka bangun di kepala masing-masing. Bukan hal yang benar-benar terjadi.
Tetangga dan teman saya banyak yang bercelana dengan ujung kain di atas tumit. Tak pernah saya mendengar mereka membenci Indonesia. Kenalan saya ada yang bercadar, foto profilnya bendera merah putih.
Saya yang memelihara janggut berurai air mata menyanyikan lagu kebangsaan di sebuah workshop jurnalistik. Saya sungguh mencintai Indonesia. Saking cintanya, saya memilih memperistri orang Indonesia, bukan gadis Uzbekistan.
Andai cuma Ade yang cemas, tak masalah. Negeri ini akan baik-baik saja walau dia pindah ke Kepulauan Faroe misalnya. Apa pula yang kita harapkan dari lelaki yang memanjangkan rambut tetapi tidak gagah seperti dia. Merawat kumis namun tumbuhnya tak rata.
Tetapi yang cemas ini menteri agama. Membawa-bawa titah presiden.Pemimpin bangsa ini sedang mengkhawatirkan pilihan fashion sebagian rakyatnya. Tetapi mereka sama sekali tidak cemas ada anak bangsa yang naik asam lambungnya memikirkan iuran BPJS yang naik. Suami yang entah harus mencari kerja tambahan di mana agar kepesertaan istri dan anak-anaknya tak dicoret merah di komputer JKN.
Istri yang nyambi jadi tukang cuci di rumah orang demi membayar premi kelas tiga. Lalu orang-orang lain yang juga tidak cemas soal itu bilang mereka yang protes silakan keluar dari negara ini. Dengan enteng mereka bicara bahwa warga yang tak mampu akan dibayarkan, kasbon di APBN.
Entah tidak tahu atau pura-pura tidak tahu betapa rumitnya mendaftarkan diri untuk menjadi tanggungan negara. Mereka mungkin juga benar-benar tak tahu, orang-orang yang di lingkungannya dianggap kaum menengah, terengah-engah membayar iuran BPJS-nya.
Sebab amplop berisi nominal UMR yang mereka terima dari bendahara kantornya setiap bulan sudah ditunggu oleh banyak pos lain. Listrik, air, cicilan rumah, kredit sepeda motor untuk dipakai kerja, susu dan popok tiga hingga empat orang anak.
Tetapi tidak ada yang mencemaskan hal-hal yang sudah terjadi itu. Beberapa orang di Jakarta malah mengkhawatirkan fiksi yang mereka rangkai sendiri di pikirannya. Kebijakan-kebijakan diambil dengan menjadikan saldo ATM Raffi Ahmad sebagai patokan. Adakah yang lebih radikal dari itu?
Imam Dzulkifli (Penulis Beranda dan mantan Wartawan Harian Fajar)