Direktur RSUD Batara Guru Dinilai Arogan, Keluarga Pasien Kecewa Terhadap Layanan

Keluarga pasien MR merasa kecewa dengan layanan RSUD Batara Guru Belopa.

LUWU – Sebuah peristiwa tragis menimpa keluarga MR (13), yang menjadi salah satu korban dalam lakalantas di Ponrang, Kabupaten Luwu.

Meski berjuang keras untuk bertahan, MR akhirnya meninggal dunia saat dirawat di RSUD Batara Guru.

Bacaan Lainnya

Namun, keluarga korban mengungkapkan kekecewaan mereka terhadap pelayanan yang diberikan oleh rumah sakit tersebut.

Ketika diwawancara, terlihat jelas betapa kecewa dan frustrasinya keluarga korban terhadap RSUD Batara Guru.

Mereka merasa bahwa pelayanan medis yang diberikan kepada MR sangat minim, meskipun korban telah berada di rumah sakit selama satu hari satu malam.

“Kami sudah berada di rumah sakit selama satu hari satu malam, tetapi kami tidak melihat tindakan medis yang memadai. Malam sebelumnya, kami dijanjikan bahwa seorang dokter akan memeriksa MR keesokan harinya, tetapi kami terkejut karena tidak tersedia alat pemindai (scan) untuk memeriksa kondisinya,” ungkap salah satu anggota keluarga korban yang enggan disebutkan namanya Sabtu (14/10/2023) malam.

Keluarga korban mencoba untuk memohon agar MR dirujuk ke rumah sakit lain karena kondisinya terus memburuk. Mereka merasa bahwa keberadaan mereka di RSUD Batara Guru menjadi sia-sia tanpa kehadiran seorang dokter.

“Namun, pihak rumah sakit tetap bersikeras untuk menunggu kedatangan seorang dokter, yang sayangnya tidak pernah datang. Bahkan setelah berjam-jam, kami terus memohon agar MR dirujuk ke rumah sakit lain,” tambahnya.

Keluarga korban juga mengecam Direktur RSUD Batara Guru karena penggunaan kata-kata yang tidak pantas. Ia dinilai arogan.

Hal itu terjadi setelah salah satu kelurga korban menghubungi Direktur RS tersebut, dalam rangka mempertanyakan kondisi korban yang belum di rujuk.

“Waktu saya menghubungi direktur untuk mempertanyakan mengapa korban tidak dirujuk, penjelasan yang diberikan sangat sulit untuk diterima. Bahkan, dalam percakapan terakhir, direktur menggunakan kata-kata yang sangat tidak pantas sebelum saya mengakhiri panggilan telepon, ‘Ah, Telas* te‘. Saya pun mempertanyakan maksudnya apa,” ungkap anggota keluarga korban sambil menirukan pernyataan Direktur RS. (*)































Pos terkait