Dosen STIPER Mogok Ngajar Karena Belum Digaji, Anggota DPRD Kutim : Ada Sistem yang Tidak Jelas

Anggota DPRD Kutai Timur, dr Novel Tyty Paemboman.

KUTIM – Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kutai Timur (Kutim), dr Novel Tyty Paemboman mengomentari mogoknya sejumlah dosen Sekolah tinggi pertanian (STIPER) Kutim. Hal itu dia ungkapkan kepada awak media beberapa waktu lalu.

Politisi Partai Gerindra itu mengatakan, mogoknya sejumlah dosen STIPER menandakan adanya sistem yang salah dalam Sekolah Tinggi itu. Untuk itu, dia menyarankan agar pengelola STIPER haruslah memiliki sistem yang baik sebagai perguruan tinggi.

Bacaan Lainnya

“Persoalan ini muncul karena ada sistem yang tidak jelas. Kemungkinan mereka mengharapkan hibah dari Pemkab Kutim untuk membayarkan gaji para dosen STIPER,” kata dr Novel Tyty Paemboman.

Dia menjelaskan hibah kepada STIPER ini membutuhkan proses dalam pencairannya. Tidak langsung turun. “Hibah tidak turun langsung begini. Perlu proses dulu. Bisa jadi bulan 9 dan 10 baru, terus mereka mau beli beras hari ini darimana,” jelasnya.

Untuk itu, bila tak ingin masalah ini berlarut-larut, maka dibutuhkan sistem yang baik dalam menjalankan STIPER Kutim. Dengan baiknya sistem, maka hak-hak mahasiswa untuk mendapatkan ilmu juga dapat terpenuhi.

Selain itu, adanya isu untuk menegerikan STIPER Kutim, dr Novel Tyty Paemboman meminta Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kutim untuk mengambil langkah berani mengambil keputusan tentang status STIPER.

Selain itu juga, tidak ada lagi hak-hak dosen yang tak diberikan. “Mahasiswanya juga harus dibantu melalui misalnya SPP gratis, atau memberikan beasiswa kepada mereka,” katanya.

Novel Tyty Paemboman mengaku akan mendukung penuh Pemerintah Kabupaten Kutai Timur bila hal itu berkaitan dengan peningkatan pendidikan di Kutim. Termasuk dalam menegerikan STIPER.

“Tentu akan kami dukung. Kesehatan dan pendidikan adalah dua hal yang penting bagaimana ekonomi bisa dijalankan dengan bagus,” tandasnya. (adv)

Pos terkait