Pertamina Bakal Sanksi SPBU di Palopo yang Layani Pengisian Solar Ilegal

Tangkapan layar BBM subsidi jenis solar tengah dipindahkan menggunakan selang dari mobil ke tandon.

PALOPO — Pihak pertamina menegaskan tidak akan tinggal diam jika menemukan adanya SPBU yang nakal. Termasuk di Luwu Raya dan Tana Toraja.

Diketahui, beberapa hari terakhir kembali marak dugaan penimbunan BBM subsidi jenis solar secara ilegal. Diduga ada pembiaran SPBU terhadap oknum yang tidak bertanggungjawab.

Bacaan Lainnya

Modusnya, pelaku menggunakan mobil Isuzu Panter dan Pickup yang tangkinya sudah di modifikasi lebih besar agar mampu menampung solar lebih banyak.

Mobil tersebut selanjutnya membeli solar subsidi di SPBU dan ditampung atau ditimbun di sebuah lokasi atau gudang. Nanti setelah terkumpul hingga menyentuh ton, baru di distribusikan. Solar yang didapatkan secara ilegal itu diduga disalurkan oleh beberapa perusahaan. Ada ke Luwu Timur hingga Kabupaten Morowali Utara menggunakan mobil tangki.

Senior Supervisor Communication and Relation Pertamina Regional Sulawesi, Taufik saat dikonfirmasi menegaskan, pihaknya tidak akan tinggal diam jika ada yang menyalahgunakan BBM.

“(Sanksi bagi SPBU) ada mas. Videokan lengkap, tanggal dan jam. Pembelian tanpa rekomendasi, itu ilegal,” kata Taufik saat dikonfirmasi belum lama ini.

Adapun sanksi yang dimaksud kata Taufik ialah berjenjang. Sesuai dengan pelanggaran yang dilakukan oleh SPBU itu sendiri.

“Kalau dari pihak pertamina, sanksi internal. Tergantung dari tingkat pelanggarannya. Berjenjang, mulai dari teguran lisan atau tulisan. Pencabutan alokasi dan pembinaan SPBU hingga pemutusan hubungan usaha,” tegas Taufik.

“Kalau dari pihak kepolisian, bisa langsung pidana,” tambah dia.

Informasi dihimpun, ada tiga perusahaan yang diduga kerap melakukan pengiriman solar ilegal itu hingga ke Morowali Utara. Perusahaan yang diduga melakukan itu ialah PT Amana Putra, PT. Energi 21 dan CV. Aisyah Luwu Pratama.

Bahkan kadang melakukan pengiriman sebanyak 3 hingga 4 kali dalam sebulan.

“Sekali jalan, mobil tangki ini memuat sebanyak 8 hingga 10 ton solar. Bahkan mereka juga memuhi permintaan solar di Kabupaten Luwu Timur, cara kerjanya sistem kontrak, atau sesuai dengan permintaan para pembeli mereka,” kata N sumber media ini, Minggu (15/05/2022).

“Kalau ke Malili itu mereka mengirim solar sebanyak 4 kali dalam seminggu, yang melakukan pengiriman ke Malili CV. Aisyah Luwu Pratama, dan ini sudah pengiriman yang ke dua, begitupun denga dua perusahaan lainnya, sistem kerja mereka sama,” tambahnya.

N menambahkan, ketiga perusahaan ini membeli solar di SPBU Palopo dan Tana Toraja dengan harga Rp5.150 dan menjualnya dengan harga Rp10.000.

“Perusahaan ini meraup untuk sebesar Rp4.850 perliter solar,” ungkapnya.

Terpisah, salah satu perusahaan yang diduga terlibat, saat dikonfirmasi, tidak bisa memberikan jawaban pasti terkait keterlibatannya dalam praktek dugaan penimbunan dan penyelundupan BBM jenis solar.

“Saya minta tolong, bisa tidak beritanya dihapus,” katanya saat ditemui di salah satu Warkop di Kota Palopo, Minggu (15/05/2022) malam.

Polisi saat menggerebek salah satu gudang di duga tempat penimbunan BBM ilegal jenis solar, Minggu (15/5/2022). Aparat tidak menemukan barang bukti, diduga diamankan sebelum mereka datang. Nampak juga lantai gudang lembab diduga bekas solar.

Polisi telah melakukan sidak ke gudang penampungan solar pada Minggu kemarin. Hasilnya, tidak ditemukan adanya tempat penampungan solar ilegal yang dimaksud.

Diduga kuat, informasi kedatangan polisi sudah tersebar duluan sebelum aparat datang. Nampak juga bekas solar masih menempel di lantai tanah. Termasuk bau solar yang menyengat. (*)

Pos terkait