JAKARTA- PT Vale Indonesia Tbk secara resmi mengumumkan hasil produksi dan keuangan untuk triwulan pertama tahun 2026 (“1T26”), Kamis (30/04/2026).
Meski di tengah produksi dan pengiriman nikel matte lebih rendah dari periode sebelumnya, PT Vale berhasil mencapai kinerja keuangan yang kuat dengan dukungan harga jual lebih tinggi, manajemen biaya yang disiplin, dan peningkatan efisiensi operasional.
CEO dan Presiden Direktur PT Vale Indonesia Tbk, Bernardus Irmanto menjelaskan bahwa, perseroan terus berkomitmen pada alokasi modal yang bijaksana dan manajemen likuiditas yang disiplin untuk menjaga ketahanan keuanngan sekaligus terus mendukung pertumbuhan jangka panjang.
“Terlepas dari tantangan yang terus berlanjut dan lingkungan operasional yang tidak pasti, kami terus menunjukkan kemampuan kami untuk mempertahankan margin positif dan disiplin keuangan,” katanya.
Di saat yang sama, kata Bernardus, PT Vale memperluas portofolio komesial perseroan melalui penjualan limonit dari blok Pomalaa yang menandai langkah penting dalam memperkuat diversifikasi pendapatan dan meningkatkan keberlanjutan bisnis perseroan ke depannya.
“Kami berharap pembaca melihat ikhtisar pencapaian Perseroan. Pencapaian operasional dan hasil keuangan interim telah dirangkum dan dijelaskan. Semua angkat dinyatakan dalam AS$ kecuali untuk produksi nikel dalam matte dan pengirimannya yang dinyatakan dalam metrik ton,” bebernya.
Lebih jauh Bernardus menjelaskan bahwa, ikhtisar produksi nikel dalam mette PT Vale yaitu 1T26 4T25 produksi nikel dalam matte (t) 13.620, 17.052, 17.027 pada triwulan pertama tahun 2026.
“Di triwulan pertama ini, kami mencatat produksi nikel matte sebesar 13.629 metrikton (ton), dibanding dengan 17.052 mertikton pada triwulan keempat tahun 2025 dan 17.027 metrikton ada triwulan pertama tahun 2025,” ungkapnya.
Menurut Presiden Direktur PT Vale, hasil tersebut sesuai rencana Perseroan yang mencerminkan optimalisai kegiatan pemeliharaan yang terencana. Termasuk pembangunan kembali Furnace 3 yang dijadwalkan selesai pada semerter pertama tahun 2026 ini.
“Serta dampak dari persetujuan RKAB 2026. Hal ini sudah sejalan dengan penyesuaian produksi yang direncakan, dimana pengiriman nikel matte menurun sebesar 25% secara triwulan,” ucap Bernardus.
Lebih lanjut Bernardus mengungkapkan bahwa, ke depan, PT Vale akan tetap berada di jalur yang tepat untuk mencapi target produksi satu tahun penuh sebesar 67.645 ton dan berada pada posisi yang baik untuk memperoleh peningkatan dari harga nikel LME yang lebih tinggi.
“Selain produksi nikel matte, tahun 2026 juga merupakan tahun penting dalam lintasa pertumbuhan PT Vale, sebab perseroan mulai memproduksi tiga blok pertambangan yaitu Sorowako, Bahodopi, dan Pomalaa secara bersamaan,” ungkapnya.
Tonggak strategis ini kata Dia, ditunjukkan oleh volume produksi yang dapat ditingkatkan di setiap blok pertambangan, dan penjualan pertama bijih nikel lmonit dari area Pomalaa di awal tahun 2026.
“Volume produksi ini, sekaligus menandai perluasan signifikan portofolio komersial PT Vale dan memperkuat diversifikasi pendapatan di masa mendatanga. Dimana volume penjualan bijih nikel saprolit dan limonit 1T26, 4T25, dan 1T25 blok Bahodopi (dalam wmt) sebesar 886.094-1.499.245-Blok Pomalaa (dalam wmt) sebesar 88.983-19,” beber Bernardus.
Selain itu, kata Bernardus, perseroan telah memperoleh keuntungan dari membaiknya dinamika nikel dunia selama triwulan tersebut. PT Vale sendiri mencatat harga rata-rata nikel matte sebesar AS$14.213 per metrik ton.
“Nilai ini mewakili peningkatan 15% dari AS$12.308 per metric ton pada triwulan keempat tahun 2025, dan menghasilkan total pendapatan sebesar AS$252,7 juta. Yang perlu diperhatikan ialah tahun 2026 yang juga menandai tahun pertama penjualan nikel matte dengan tingkat pembayaran 82% sehingga memberikan basis pendapatan yang lebih kuat dan vasibilitas margin yang baik,” tuturnya.
“Kedepannya, dengan harga nikel LME yang diperkirakan akan tetap berada pada tren kenaikan, dipastikan perseroan akan berada pada posisi yang baik untuk lebih meningkatkan nilai dari struktur komersialnya yang telah dioptimalkan,” tambah Bernardus.
Disisi lain, lanjut Bernardus, biaya tunai per unit penualan nikel matte pada triwulan pertama tahun 2026 juga dipastikan tetap kompetitif di AS$10.382 per ton, sedikit lebih tinggi dari tahun 2025.
“Ini mencerminkan harga input komodutas yang lebih tinggi. Untuk bisnis bijih nikel, biaya per unit ini tetap stabil, dengan Bahodopo di AS$21 per tin dan Pomalaa di AS$13 per ton, termasuk royalty dan logistik,” katanya.
Di katakan Bernardus, dalam waktu dekat, PT Vale mengharapkan bahwa, oprimalisasi biaya tunai akan didorong oleh volume penjualan yang lebih tinggi dari blok Pomalaa seiring dengan peningkatan skala operasional.
“Peningkatan volume ini diharapkan dapat meningkatkan efisiensi biaya dan menghasilkan skala ekonomi yang lebih besar, dimana sebagian besarnya akan mengimbangi basis biaya secara struktural lebih tinggi di Bahodopi dan mendukung profil biaya keseluruhan yang lebih seimbang,” teranganya.
Pendapatan Triwulan Pertama Tahun 2026 PT Vale Indonesia Tbk
Triwulan pertama tahun 2026, PT Vale Indonesia mencatata pendapatan yang kuat, dengan peningkatan EBITDA sebesar 29% secara triwulanan menjadi AS$80.1 juta dan laba bersih melonjak sebesar 85% secara triwulanan menjadi AS$42,6 juta didukung oleh kenaikan harga dan peningkatan efisiensi yang berkelanjutan.
Meski pendapatan mencapai AS$252,7 juta, fundamental pertumbuhan tatap kokoh. Kedepannya, PT Vale berharap kinerja EBITDA, pendapatan, dan laba yang lebih kuat, dengan dorongan harga nikel LME yang lebih tinggim peningkatan leverage operasional, dan perluasan margin seiring dengan peningkatan volume produksi.
Perbandingan Triwulan Sebelumnya
Dibanding triwulan sebelumnya, konsumsi bahan bakar PT Vale pada 1T26, menurun sesuai rencana perseroan. Hal itu sejalan dengan pembangunan kembali Furnace 3.
Sementara stok penyangga yang cukup juga memastikan operasi berjalan tanpa gangguan. Dukungan itu diperoleh dengan adanya pengadaan yang disiplindan inisiatif efisiensi, harga rata-rata HSFO, diesel, dan batu bara menurun, sehingga memperkuat optimalisasi biaya dan mendukung agenda pengurangan konsumsi dan emisi Perseroan yang berkelanjutan.
Di 23 April 2026, PT Vale Indonesia Tbk mencapai tonggak penting dengan penandatanganan Pinjaman Terkait Keberlanjutan (Sustainability-Linked Loan/SLL).
Transaksi ini juga memperkuat strategi keuangan berkelanjutan perseroan melalui fasilitas pnjaman sindikat terkait ESG senilai AS$750 juta. Yang perlu diperhatian ialah menandai Pinjaman Terkait Keberlanjutan pertama di industry pertambangan di Asia Tenggara, memperkaut kepemimpinan PT Vale dalam menanamkan keberlanjutan ke dalam kerangka pembiayaannya.
Selama triwulan tersebut, PT Vale Indonesia Tbk telah mengeluarkan sekitar AS$139,0 juta belanja modal, untuk mendukung aktivitas berkelanjutan dan proyek pertumbuhan strategis.
Per 31 Maret 2026, PT Vale mencatat kas dan setara kas berada di angka AS$220,1 juta, dibanding dengan AS$376,4 juta per 31 Desember 2025. (**)













