BELOPA — Badan Usaha Logistik (Bulog) diseluruh Indonesia menutup pengadaan beras petani. Itu artinya, Bulog tak lagi membeli beras dari petani.
Kepala Bulog Palopo, Lisnawati membenarkan kebijakan tersebut.” Iya benar, penutupan pengadaan beras petani ini sudah keputusan dari Bulog pusat sejak 19 Mei 2021 lalu, dan ini berlaku untuk se Indonesia,” katanya kamis (17/06/2021). Kondisi ini akan berpengaruh pada perekonomian para petani khususnya di Kabupaten Luwu
Anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPRD) Luwu, Wahyu Napeng mengatakan bahwa keputusan Bulog untuk menutup pengadaan beras ini seolah tidak berpihak kepada nasib dan pendapatan para petani. Apalagi, saat ini dampak virus Covid-19 masih sangat terasa.
“ Keberadaan Bulog sudah diatur dalam undang-undang nomor 12 tahun 2021, dimana dalam penyerapan beras petani dijadikan stok beras pemerintah,” tuturnya.
Ia menambahkan, penyerapan beras petani yang dijadikan stok beras pemerintah ini kemudian diberikan kepada Aparatur Negeri Sipil (ASN) sebagai tunjangan.
“ Namun belakangan tunjangan ini juga ditiadakan dan digantikan dengan uang. Stok beras yang ada di gudang Bulog melimpah. Tentunya ini sangat berpengaruh kepada petani sawah, khususnya di Kabupaten Luwu,” kata legislator Partai Amanat Nasional (PAN) ini.
Wahyu mengatakan, atas kebijakan tersebut pihaknya akan menggelar rapat dengan Bulog dan pihak terkait, Jumat (18/06/2021) besok. Wahyu Napeng yang juga Ketua Perpadi Luwu menambahkan, jika pengadaan ini ditutup, maka nasib petani akan semakin memprihatikan.
“ Sebelum ada keputusan seperti ini, setiap bulannya bulog bisa menyerap hasil panen petani kurang lebih 100 ton, dan hal ini sangat membantu petani dalam proses penanaman setelah masa panen. Petani mengeluh, karena merasa bingung harus menjual hasil panen mereka kemana,” katanya. (fit)












