LUWU- Melalui program Penguatan Kapasitas Desa Tangguh Bencana yang diinisiasi oleh PT Masmindo Dwi Area bersama sejumlah mitra, Desa Kadundung, Kecamatan Latimojong, Kabupaten Luwu resmi menjadi Desa Tangguh Bencana (DESTANA), Rabu (29/07/2026).
Kepala Teknik Tambang (KTT) PT Masmindo Dwi Area, Mustafa Ibrahim mengatakan bahwa penguatan kapasitas masyarakat merupakan bagian penting dari komitmen perusahaan dalam mewujudkan operasional pertambangan yang bertanggung jawab dan berkelanjutan.
“Bagi MDA, keselamatan tidak hanya menjadi budaya di lingkungan kerja, namun juga nilai yang ingin kami tumbuhkan bersama masyarakat di sekitar wilayah operasional. Oleh karena itu, melalui Jaga Keselamatan Desa kami terus memperkuat kolaborasi dengan pemerintah, perguruan tinggi, organisasi kemanusiaan, dan masyarakat agar setiap desa memiliki kapasitas yang semakin baik dalam mengenali risiko, Menyusun mekanisme respons, dan bertindak cepat ketika menghadapi kondisi darurat,” terangnya.
Ketua PUSPENA Universitas Cokroaminoto Palopo, Ichwan Muis menegaskan bahwa, membangun desa tangguh memerlukan proses pendampingan yang berkelanjutan agar kesiapsiagaan benar-benar menjadi budaya di tengah masyarakat.
“Ketangguhan desa tidak dibangun dalam satu pelatihan, namun melalui proses belajar, latihan, dan evaluasi yang dilakukan secara konsisten. Ketika masyarakat memahami risiko di wilayahnya, mengetahui peran masing-masing, dan terbiasa berlatih bersama, maka kemampuan desa dalam menghadapi bencana akan semakin kuat,” tegasnya.
Sementara itu, Kepala Desa Kadundung, Parambung memberikan apresiasi atas kolaborasi yang dibangun oleh MDA bersama PUSPENA UNCP, BPBD Kabupaten Luwu, dan PMI dalam meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat.
“Atas kolaborasi yang dibangun ini, masyarakat tidak hanya memperoleh pengetahuan, namun juga kesempatan untuk mempraktikkan secara langsung langkah-langkah penanganan darurat,” ujarnya.
“Kami merasakan manfaat yang nyata dari program ini. Kegiatan seperti ini membuat masyarakat semakin memahami bagaimana harus bertindak, saling berkoordinasi, dan membantu sesama ketika menghadapi situasi darurat,” tambah Parambung.
Melalui program DESTANA ini, PT Masmindo Dwi Area kembali menegaskan bahwa membangun desa tangguh bukan sekadar program jangka pendek, melainkan investasi sosial yang terus tumbuh bersama masyarakat.
Melalui Program Jaga Desa, perusahaan terbut berkomitmen melanjutkan kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan agar desa-desa di wilayah operasional memiliki kapasitas yang semakin baik dalam menghadapi berbagai tantangan, termasuk potensi bencana.
Program ini sendiri, merupakan bagian dari implementasi Jaga Keselamatan Desa, yang menjadi salah satu pilar dalam Program Jaga Desa yang dijalankan oleh MDA. Kegiatan tersebut dilaksanakan melalui kolaborasi dengan Pusat Studi Pemetaan dan Bencana (PUSPENA) Universitas Cokroaminoto Palopo (UNCP), Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Luwu, serta Palang Merah Indonesia (PMI).
Dengan bergabung dan resmi menjadi Desa Tangguh Bencana (DESTANA), Desa Kadundung menjadi desa kelima yang secara langsung mendapat pendampingan DESTANA sejak program tersebut mulai dijalankan pada 2024 silam.
Program DESTANA ini sendiri berawal dari aspirasi masyarakat yang dihimpun melalui Forum Desa MATAPPA (FORDES MATAPPA). Aspirasi tersebut kemudian diwujudkan menjadi program kolaboratif yang bertujuan memperkuat kapasitas masyarakat dalam menghadapi berbagai potensi bencana.
Pendampingannya sendiri dilakukan melalui pemetaan risiko, penyusunan mekanisme respons desa, simulasi kebencanaan, hingga pelatihan penanganan awal kondisi darurat di mana seluruh tahapannya disesuaikan dengan karakteristik dan kebutuhan masing-masing desa.
DESTANA ini pertama kali diterapkan di Desa Bonelemo dan Ulusalu pada 2024, program ini kemudian diperluas ke Desa Boneposi, Tolajuk, dan kini Desa Kadundung sepanjang tahun 2026.
Langkah tersebut menjadi bagian dari komitmen MDA bersama para mitra dalam membangun sistem kesiapsiagaan yang berkelanjutan di wilayah Latimojong. Di Desa Kadundung sendiri, masyarakat mendapatkan pembekalan mengenai mitigasi bencana, mekanisme koordinasi saat kondisi darurat, serta penyusunan respons desa.
Kegiatannya kemudian dilanjutkan dengan simulasi pertolongan pertama yang dipandu oleh tim PMI bersama Emergency Response Team (ERT) PT Masmindo Dwi Area. Melalui simulasi tersebut, peserta mempraktikkan penanganan korban, prosedur evakuasi awal, hingga koordinasi antar unsur desa agar memiliki pengalaman langsung dalam menghadapi situasi darurat. (*)












