DaerahLingkungan Hidup

Komitmen PT Masmindo Dwi Area Perkuat Kesiapsiagaan Masyarakat melalui DESTANA

×

Komitmen PT Masmindo Dwi Area Perkuat Kesiapsiagaan Masyarakat melalui DESTANA

Sebarkan artikel ini
9813a116 a572 4f69 b03d 8c04be743bf7 e1782897388924
Simulasi evkuasi korban bencana oleh masyarakat sebagai program lanjutan dari Desa Tangguh Bencana (DESTANA) PT Masmindo Dwi Area bersama Universitas Cokroaminoto Palopo (UNCP).
55 / 100 Skor SEO

LUWU- Setelah menginisiasi pembentukan DESTANA (Desa Tangguh Bencana) bersama Universitas Cokoroaminoto Palopo (UNCP), PT Masmindo Dwi Area kini terus memperkuat kesiapsiagaan masyarakat di wilayah Kecamatan Latimojong dengan melaksanakan tahapan lanjutan berupa penguatan kelembagaan dan simulasi kesiapsiagaan bencana di Desa Boneposi dan Desa Tolajuk, Rabu (01/07/2026).

Kepala Teknik Tambang (KTT) PT Masmindo Dwi Area, Mustafa Ibrahim, mengatakan bahwa, kesiapsiagaan masyarakat tidak dapat dibangun hanya melalui teori, namun harus dibarengi dengan Latihan dan simulasi agar setiap unsur memahami peran serta tanggung jawab saat menghadapi kondisi darurat.

“Tujuan kami bukan hanya membentuk kelembagaan DESTANA, namun memastikan kelembagaan tersebut benar-benar siap berfungsi Ketika dibutuhkan. Sebab itu, masyarakat kami libatkan langsung dalam simulasi, mulai dari mengenali jalur evakuasi, menentukan titik kumpul dan Lokasi pengungsuan, hingga membangun koordinasi antarunsur desa,” terangnya.

“Harapan dari DESTANA ini ialah ketika terjadi kondisi darurat, masyarakat tidak lagi bingung harus berbuat apa, sebab mekanisme respons sudah dipahami dan pernah dipraktikkan bersama,” tambah Mustafa Ibrahim.

Ketua PUSPENA Universitas Cokroaminoto Palopo, Ichwan Muis menjelaskan bahwa, simulasi tersebut menjadi tahapan penting untuk memastikan system kesiapsiagaan yang telah disusun benar-benar dapat diterapkan secara efektif di lapangan.

“Tujuan kami bukan sekadar membentuk organisasi DESTANA, namun untuk memastikan seluruh unsur di desa memahami fungsi dan tanggung jawab Ketika menghadapi kondisi darurat,” katanya.

“Simulasi seperti ini menjadi pembelajaran terbaik sebab masyarakat tidak hanya mengetahui teorinya, namun juga mengalami langsung proses koordinasi, evakuasi, dan pengambilan keputusan di lapangan,” tambah Ichwan Muis.

Sementara Kepala Desa Boneposi, M. Hamka memberikan apresiasi atas terlaksananya kegiatan tersebut. Menurut Hamka, simulasi tersebut memberikan pengalaman nyata kepada masyarakat dalam menghadapi potensi bencana.

“Melalui simulasi ini, masyarakat dapat memahami secara langsung apa yang harus dilakukan ketika terjadi bencana, mulai dari mengenali jalur evakuasi, mengetahui titik kumpul, hingga memahami peran masing-masing dalam membantu proses evakuasi. Ini juga menjadi bekal yang sangat penting bagi masyarakat kami,” ujarnya.

Kepala Desa Tolajuk, Badarudin juga menyampaikan hal senada dengan M. Hamka. Badarudin menilai bahwa, penguatan kelembagaan DESTANA menjadi fondasi dalam membangun budaya kesiapsiagaan di tingkat desa.

“Kami juga mengapresiasi kolaborasi yang melibatkan pemerintah, perguruan tinggi, dunia usaha, dan masyarakat dalam kegiatan ini. Kehadiran DESTANA bukan hanya membentuk sebuah lembaga, namun juga membangun budaya gotong royong, koordinasi, dan kesiapsiagaan yang diharapkan terus bertumbuh di tangah masyarakat,” ucapnya.

Diinformasikan, program penguatan DESTANA ini telah dilaksanakan di Desa Bonelemo dan Ulusalu pada 2025 lalu.

Memasuki tahun 2026, program serupa dilanjutkan di Desa Boneposi dan Desa Tolajuk melalui rangkaian sosialisasi, penguatan kelembagaan, simulasi kesiapsiagaan, hingga pemasangan rambu evakuasi sebagai bagian dari penguatan system mitigasi bencana di tingkat desa.

Ke depan, PT Masmindo Dwi Area besama pemangku kepentingan berencana akan mempeluar program tersebut secara bertahap ke desa-desa lainnya di Kecamatan Latimojong.

Langkah tersebut menjadi bagian dari Upaya berkelanjutan untuk memperkuat kapasitas masyarakat serta kelembagaan Desa Tangguh Bencana demi menciptakan wilayah yang lebih siap dan tangguh dalam menghadapi berbagai potensi bencana.

Kegiatan yang berlangsung pada 30 Juni 2026 itu, merupakan implementasi Program Jaga Keselamatan Desa, yang juga merupakan salah satu pilar dalam Program Desa yang lahir dari aspirasi masyarakat melalui FORDES MATAPP.

Dimana program ini dirancang tidak berhenti pada tahap sosialisasi, namun terus berlanjut hingga masyarakat memiliki kapasitas dan mekanisme yang siap dijalankan Ketika menghadapi kondisi darurat.

Pelaksanaan program kegiatan tersebut, masyarakat tidak hanya menerima materi tentnag mitigasi bencana, namun juga terlibat langsung dalam simulasi penanganan bencana.

Masyarakat mempraktikkan berbagai scenario mulai dari pembagian tugas kepengurusan DESTANA, penyusunan mekanisme koordinasi, penentuan titik kumpul dan lokasi pengungsian sementara, penyusunan jalur evakuasi, pemasangan rambu evakuasi, hingga simulasi komunikasi darurat sebagai bagian dari uji kesiapsiagaan masyarakat.

Selain masyarakat, program DESTANA ini juga melibatkan berbagai pihak diantaranya Pemerintah Kabupaten Luwu melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Dinas Sosial, Palang Merah Indonesia (PMI), pemerintah desa FORDES MATAPPA, Pusat Pengembangan dan Pengabdian Masyarakat (PUSPENA) serta Universitas Cokroaminoto Palopo.

Kolaborasi lintas sektor ini diharapkan mampu membangun system kesiapsiagaan yang dapat dijalankan secara mandiri oleh masyarakat jika ke depannya terjadi bencana. (rls/*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *