LUWU TIMUR- Pasca tumpahan minyak jenis Marine Fuel Oil (MFO), PT Vale Indonesia Tbk (“Vale Indonesia” atau “Perusahaan”) terus berkomitmen dalam menyelenggarakan operasional pertambangan yang bertanggung jawab melalui upaya menjaga keberlangsungan ketahanan pangan masyarakat pada area operasional, Sabtu (17/10/2026).
Head of External Relations Sorowako & Outer Area Vale Indonesia, Yusri Yunus menjelaskan bahwa, untuk memastikan keberlangsungan ketahanan pangan masyarakat yang terdampak, Vale Indonesia bekerja sama dengan berbagai institusi ahli seperti; IPB Consulting, Laboratorium ICBB, Laboratorium BRMP Pascapanen Pertanian.
“Selain itu kami juga bekerja sama dengan Kementerian Pertanian RI, serta Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Luwu Timur. Kerja sama ini bertujuan untuk menganalisa dan menguji dampak tumpahan minyak pada tanaman pangan dengan pendekatan ilmiah,” katanya.
“Dan hasil analisa dari seluruh sampel gabah/padi yang dipanen dari area demplot, tim ahli menyatakan bahwa area yang terdampak masih memenuhi standar mutu dan keamanan pangan, sehingga padi dinyatakan aman untuk dikonsumsi,” tambah Yusri.
Pengujian hasil demplot padi tersebut, kata Yusri merupakan bagian dari rangkaian proses remediasi yang diinisiasi oleh Vale Indonesia berkolaborasi dengan Pemerintah Kabupaten Luwu Timur, Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Towoti, dan Institusi Pertanian Bogor (IPB).
“Kami memiliki komitmen tinggi untuk menjalankan operasional Perusahaan yang bertanggung jawab, termasuk pada kondisi khusus di mana risiko operasional terjadi. Sehubungan dengan kejadian ini, selain membersihkan area terdampak segera setelah kejadian, kami juga memastikan bahwa lahan pertanian masyarakat setempat bersih dan dapat kembali produktif dengan hasil yang aman untuk dikonsumsi,” ucapnya.
Pengujian ilmiah ini, lanjut Yusri menjadi bagian dari wujud komitmen Perusahaan bahwa seluruh rantai roda perekonomian sektor pertanian di Kecamatan Towuti harus kembali berjalan normal tanpa hambatan ekologis.
“Kami memahami sepenuhnya kekhawatiran yang dihadapi oleh para petani sejak insiden tumpahan minyak ini terjadi. Untuk mengatasi hal tersebut, kami mengambil langkah mitigasi untuk mengembalikan rasa aman dan kepastian mata pencaharian warga,” ucapnya.
Yusri mengatakan bahwa, hasil laboratorium independent tersebut menjadi bukti bahwa melalui penanganan yang tepat, lahan sawah tetap priduktif dengan hasil pangan yang aman dikonsumsi.
“Perusahaan telah melakukan program pendampingan pertanian yang terdampak MFO di Kecamatan Towuti segera setelah kejadian untuk memastikan kegiatan pertanian dapat dilaksanakan selama satu siklus budidaya penuh dari bulan Februari hingga September 2026 di lahan-lahan yang terdampak, yaitu Desa Lioka Dusun Molindowe, Lioka Dusun Polapi, Baruga, Langkea Raya, Matompi, dan Timampu,” bebernya.
Bupati Luwu Timur, Irwan Bachri Syam yang hadir dan memimpin langsung kegiatan pemaparan Hasil Uji Demplot Penanaman padi menyampaikan apresiasi atas kolaborasi dan sinergi semua pihak yang ikut mengambil peran pada berbagai upaya penanganan insiden kebocoran pipa minyak, mulai dari pembersihan di seluruh area terdampak, identifikasi objek terdampak, pembayaran kompensasi, program demplot padi, sampai dengan pengujian padi hasil demplot yang dinyatakan aman.
“Apa yang menjadi keraguan dan keresahan kita, alhamdulillah hari ini sudah terjawab semua. Dengan hasil dari dua lab ini, kami berharap musim tanam kedua bisa disegerakan, semoga Oktober atau paling lambat November bisa dilaksanakan,” ungkapnya.
“Saya juga berharap tidak ada lagi kecemasan ataupun keraguan kita. Vale Indonesia akan mendampingi musim tanam kedua dan memberikan bantuan bibit. Kami dari Pemda Luwu Timur juga siap memberikan bantuan bibit,” tandas Bupati Luwu Timur.
Sementara petani Desa Timampu, Mursalim di kesempatan itu menyampaikan bahwa, dua hasil dari lab yang disampaikan itu, menyimpulkan bahwa penanaman berikutnya dapat dilakukan sebab hasilnya sudah layak untuk dikonsumsi.
Rangkaian penanganan holistic yang telah berjalan sejak awal insiden hingga fase pengujian laboratorium tersebut merupakan bentuk komitmen konkret perusahaan.
Seluruh upaya itu difokuskan secara penuh untuk memastikan bahwa masyarakat dapat kembali melanjutkan kegiatan pertanian mereka dengan rasa aman, serta mencapai tingkat produktivitas yang lebih baik. (*)












