DaerahHeadlineLuwu Raya

Unjuk Rasa Tuntut DOB Luwu Tengah dan Provinsi Luwu Raya Masih Berlanjut, Demonstran Pra-Kondisi Pertempuran Bosa Melawan NICA dan KNIL

×

Unjuk Rasa Tuntut DOB Luwu Tengah dan Provinsi Luwu Raya Masih Berlanjut, Demonstran Pra-Kondisi Pertempuran Bosa Melawan NICA dan KNIL

Sebarkan artikel ini
f077aed0 c542 4f99 bf8b f64833eb2997 1536x690 1 e1769494051825
Gelombang unjuk rasa tuntut pemekaran wilayah Daerah Otonomi Baru (DOB) Provinsi Luwu Raya dan Kabupaten Luwu Tengah terus berlanjut, demonstran pra-kondisi Pertempuran Bosa melawan NICA dan KNIL tepat di depan Monumen Peringatan Pertempuran Bosa, di Desa Toddopuli, Kecamatan Bua, Kabupaten Luwu, Senin (26/01/2026) malam.

LUWU RAYA- Blokade jalan Trans Sulawesi, Aliansi Perjuangan Masyarakat Tana Luwu menggelar aksi pra-kondisi di depan Monumen Peringatan Pertempuran Bosa, di Desa Toddopuli, Kecamatan Bua, Kabupaten Luwu, Senin (26/01/2026) malam.

Aksi pra-kondisi yang dilakukan oleh Aliansi Perjuangan Masyarakat Tana Luwu itu sebagai bentuk tekanan kepada pemerintah agar segera merealisasikan pembentukan Daerah Otonomi Baru (DOB) Kabupaten Luwu Tengah dan Provinsi Tana Luwu atau Luwu Raya.

Dalam aksi tersebut, massa membentangkan spanduk bertuliskan “Selamat Datang di Provinsi Tana Luwu”. Selain itu, masaa juga membakar ban bekas dan menyampaikan orasi secara bergantian di badan jalan trans Sulawesi sehingga mengakibatkan arus lalu lintas dari dua arah macet dan menyebabkan antrean kendaraan.

Krinyol dalam selaku coordinator Lapangan Aksi dalam orasinya menyampaikann bahwa ada dua tuntutan utama yang ditujukan ke pemerintah daerah dan pemerintah pusat.

“Pertama, kami mendesak Gubernur Provinsi Sulawesi Selatan untuk mengeluarkan rekomendasi serta pernyataan sikap resmi yang mendukung pembentukan Provinsi Luwu Raya dan DOB Kabupaten Luwu Tengah. Kedua, kami mendesak Presiden Republik Indonesia untuk mengeluarkan sidkresi sebagai bentik keberpihakan terhadap aspirasi masyarakat Tana Luwu,” tegasnya.

Sekadar diinformasikan, lokasi unjuk rasa di kawasan monumen bersejarah itu dipilih sebab bertepatan dengan peringatan Pertempuran Bosa yang merupakan salah satu peristiwa perlawanan rakyat Wija’ To Luwu terhadap pasukan Nederlandsch Indie Civil Administration (NICA) dan Koninklijke Nederlands Indische Leger (KNIL) pasca Proklamasi Kemerdekan Republik Indonesia.

Dimana pada monument tersebut tercatat sejarah pertempuran antara anggota Batalyon D Ponrang PRI/PKR Luwu melawan Belanda pada 26 Januari 1946 silam.

Di bangunan monument itu, juga memuat tulisan sebagai simbolik “Pattimpa Bajae” dan “Toddopuli Tammalara” serta lambang garuda yang terpasang dibagian atas bangunan sebagai tanda semangat perjuangan Bosa. (**)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *