Usai Ajak Keliling Kota Palopo, Komunitas EGP Lepas Rombongan Pesepeda ke Toraja

  • Whatsapp
Komunitas EGP mengajak tujuh pemuda komunitas sepeda dari Depok, Jawa Barat yang tergabung dalam Omah Jangan Diam Terus, berada di depan kantor Dinas Pariwisata Palopo. Kantor ini juga merupakan salah satu bangunan tua.
13

PALOPO — Komunitas Eksekutif Gowes Palopo (EGP) menyempatkan mengajak tujuh pemuda asal Depok, Jawa Barat yang punya misi menaklukkan pulau Sulawesi dengan bersepeda, Minggu (20/12/2020).

Salah satu anggota komunitas EGP, Ilham Hamid mengatakan, dirinya bersama komunitas EGP mengantar para pemuda itu menikmati sejumlah tempat bersejarah dan ikon di kota Palopo. Seperti istana Datu Luwu, kantor walikota, tugu I Love U hingga titik nol kilometer Palopo.

Bacaan Lainnya

Komunitas EGP dan Komunitas Omah Jangan Diam Terus foto bersama di depan masjid Al-Khaeriyah sebelum keliling kota.

“Tadi pagi kita ajak keliling kota, mereka takjub dan kagum dengan keindahan kota. Setelah itu, kita antar dan lepas di jembatan gantung Battang Barat untuk selanjutnya melanjutkan perjalanan ke Toraja,” kata Ilham Hamid.

“Sebenarnya kita mau ajak juga ke beberapa objek wisata, tetapi mereka harus berangkat lagi setelah semalam tinggal di Masjid Al-Khaeriyah. Kurang lebih dua bulan lagi, mereka diperkirakan sudah sampai di Manado,” jelas Ilham yang tak lain Kadis Pariwisata dan Ekonomi Kreatif itu.

Nyantai di depan kantor walikota Palopo.

Sebelumnya diberitakan, sebanyak tujuh pemuda komunitas sepeda dari Depok, Jawa Barat yang tergabung dalam Omah Jangan Diam Terus tiba di kota Palopo pada Sabtu (19/12/2020) setelah mengayuh sepeda dari Lasusua. Mereka saat ini melakukan misi menaklukkan Pulau Sulawesi menggunakan sepeda. “Kami berangkat ke Sulawesi 6 Oktober 2020. Rencananya kami berpetualang disini selama enam bulan,” kata salah satu rombongan, Rafi Puji Berkah (23), Sabtu (19/12/2020) malam.

Foto bersama di Taman I Love U Palopo.

Selain berpetualang, para pemuda lajang tersebut belajar budaya, arsitektur, kopi dan kuliner khas Sulawesi. “Kami juga melakukan gerakan sosial, seperti buka cukur gratis dan membuatkan warga kopi gratis yang kami bawa dari tanah Jawa,” ujarnya.

Dalam perjalanan, tidak semua hal baik mereka temui. Tak jarang pengalaman buruk juga mereka jumpai sebagai bumbu perjalanan. Seperti saat rombongan tersebut kecurian empat handphone milik rombongan.

“Saat itu kami di Baubau. Empat handphone kami diambil pencuri. Tapi karena keteledoran kami juga. Itu menjadikan kami lebih waspada lagi agar terhindar dari hal yang tidak diinginkan,” tuturnya.

Rafi mengaku, usai menuntaskan misi mereka berkeliling Sulawesi, para pemuda tersebut akan membuat pameran di Depok, Jawa Barat. Mereka akan memamerkan semua hal yang mereka dapatkan selama melakukan perjalanan di Pulau Celebes.

“Image orang Sulawesi yang keras dan kasar tidak sepenuhnya betul. Banyak orang Sulawesi yang kami jumpai sangat baik. Kalau dipersentasikan, 90 persen orang Sulawesi baik,” pungkasnya. (liq)

Foto di tugu Toddopuli Temmalara, halaman istana Datu Luwu.

Pos terkait