JAKARTA- Belakangan ini, wabah hantavirus menyita perhatian publik setelah tiga orang penumpang kapal pesiar MV Hondius dinyatakan meninggal dunia karena positif hantavirus saat kapal tersebut yang berlayar dari Argentina, Sabtu (09/05/2026).
Menyikapi hal itu, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan bahwa, pihaknya siap mengantisipasi penyebaran hantavirus Andes yang disebut-sebut masih terkonsentrasi di kapal tersebut.
“Kita telah memiliki panduan skrining untuk hantavirus ini, termasuk dalam bentuk rapid test seperti Covid-19 atau reagen yang digunakan di mesin PCR,” katanya.
“Hantavirus ini bukanlah penyakit baru di Indonesia, dalam tiga tahun terakhir ini sudah lebih dari 250 kasus suspek hantavirus yang ditemukan, namun hanya 23 yang dinyatakan positif,” tambah Menkes Budi.
Sementara Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Publik Kementerian Kesehatan, Aji Muhawarman menyebukan bahwa, saat ini ada dua kasus suspek hantavirus di Jakarta dan Yogyakarta.
“Meski suspek, hasil pemeriksaan menyatakan keduanya negatif dan sudah dinyatakan pulih, dan keduanya tidak ada riwayat perjalanan ke luar negeri,” ungkapnya.
Aji juga menjelaskan bahwa, sepanjang tahun 2024 hingga 2026, di Indonesia ada 23 kasus terkonfirmasi positif hantavirus dengan jumlah korban yang meninggal sebanyak tiga orang.
“Puluhan kasus ini tersebar di sembilan provinsi yakni Yogyakarta, Jawa Barat, Jakarta, Sulawesi Utara, Nusa Tenggara Timur, Sumatera Barat, Banten, Jawa Timur, dan Kalimantan Barat,” terangnya.
“Rinciannya itu Jakarta dan Yogyakarta masing-masing mencatat ada enam kasus positif, Jawa Barat lima kasus, sementara enam provinsi lainnya masing-masing satu kasus,” tambah Aji.
Seberapa Bahayanya Hantavirus?
Situs resmi Badan Kesehatan Dunian (WHO), hantavirus merupakan virus zoonosis yang secara alami menginfeksi hewan pengerat dan terkadang ditularkan ke manusia.
Namun menurut epidemiologi Masdalina Pane, dari puluhan hingga ratusan jenis hantavirus yang ditemukan pada hewan pengerat, tidak semua spesies hantavirus berbahaya bagi manusia.
“Saat ini, jenis hantavirus yang paling virulen atau paling berbahaya hanya ditemmukan di kawasan Amerika Utara, Amerika Tengah, dan Amerika Selatan, termasuk kasus yang baru-baru ini ditemukan di Argentina,” katanya.
Epidemiologi Masdalina Pane mengungkapkan bahwa, salah satu jenis hantavirus yang paling virulen ialah varian Andes dengann tingkat kemaian yang cukup tinggi yaitu sekitar 12%-60%.
“Angka kematian ini dapat berbeda-beda tergantung kondisi pasien, kecepatan penanganan, dan tingkat keparahan infeksi. Kalau yang berusia muda itu akan lebih kuat (menahan laju infeksi), tetapi bagi orang yang berusia lanjut jika terinfeksi tingkat kematiannya lebih tinggi,” ujar Masdalina Pane dikutip dari BBC News Indonesia.
Sebab kata Masdalina Pane, penularan varian Andes ini dari manusia ke manusia melalui kontak langsung. Sementara varian lain belum ditemukan penularan dari manusia ke manusia dan masih dianggap penyakit zoonotik atau dari hewan ke manusia.
“Sementara jenis hantavirus yang ditemukan di Indonesia itu. Serta yang umum di temukan di kawasan Asia dan Eropa bukan termasuk tipe yang paling fatal dibandingkan jenis yang ada di benua Amerika,”katanya.
Meski demikian, lanjut Masdalina, virus yang ditemukan di Asia dan Eropa ini tetap saja dapat berakitab serius. Jika berkaca pada kasusu suspek di Indonesia, 23 orang terkonfirmasi positif dengan tiga pasien meninggal.
“Artinya, tingkat fatalitas jenis hantavirus ini berada di kisaran 10%-15%. Jadi yang ganas tadi, yang menyebabkan kematian, virusnya menyerang jantung, pembuluh darah, serta paru-paru,” katanya.
“Sementara yang ada di Asia, Eropa, termasuk Indonesia itu menyebabkan demam berdarah dengan sindrom ginjal,” tambah Masdalina Pane.
Selain itu, Masdalina Pane dalam pemaparannya menyebutkan bahwa, varian Andes dapat masuk dan menular di Indonesia bergantung dari beberapa faktor. Salah satunya yaitu jenis hantavirus.
“Biasanya hanya dapat hidup dan berkembang pada spesies hewan pengerta tertentu. Dan jenis hewan pengerat seperti tikus di Indonesia sedikit berbeda dengan yang ada di wilayah asal virus andes di Amerika Utara maupun Argentina.
“Namun karena virus Ande ini memiliki karekteristik khusus yakni dapat menular dari manusia ke manusia, itu artinya penularan hantavirus tersebut tidak selalu membutuhkan perantara tikus,” paparnya.
“Kemungkinan virus ini masuk ke Indonesia melalui mobilitas manusia yang sulit dibatasai tetap ada. Misalnya, ada orang yang terinfeksi atau memiliki gejala dan membawa virus Andes lalu datang ke Indonesia, maka potensi penularannya tatap ada,” terang Masdalina Pane.
Meski demikian, lanjut Masdalina, penularan hantavirus varian Andest tidak semudah penularan Covid-19. Menurut dia, Covid-19 dapat menyebar melalui droplet atau percikan ludah di udara, hantavirus varian Andes umumnya membutuhkan kontak langsung untuk penularannya.
“Inilah yang membuat penyebaran relatif lebih sulit dan lebih terbatas. Kontak langsung seperti hubungan seksual, kemudian berciuman atau antara melalui air susu ibu kepada anak. Itu yang kontak langsung dan durasinya (harus) cukup signifikan,” beberanya.
Masa inkubasi hantavirus varian Andes sendiri, lanjut Masdalina, terbilang sedikit lama, antara 9-40 hari, itupun tergantung pada daya tahan tubuh seseorang dengan rata-rata masa inkubasi muncul di 18 hari sampai tiga minggu. (**)













