Headline

Feature: “Bu…Aku Ingin Sembuh”

×

Feature: “Bu…Aku Ingin Sembuh”

Sebarkan artikel ini
651b40c0 f646 42c0 b864 9b92ec38c0d1 e1782117919529
Potret Muhammad Aswan, anak berusia 12 tahun yang enam tahun terakhir harus menghabiskan waktu terbaring karena didiagnosa menderita penyakit epilepsi.

LUWU- Namanya Muhammad Aswan, kini ia berumur 12 tahun. Dulu, Aswan tumbuh selayaknya anak-anak, bermain, tertawa dan menjadi salah satu sumber kebahagiaan kedua orang tuanya, Senin (22/06/2026).

Namun, ketika Aswan berusia 3 tahun tepatnya di tahun 2017, semuanya berubah, ia tak lagi seceria dulu, kebahagiaan orang tuanya pun perlahan memudar berganti perjuangan yang seakan tak pernah mencapai garis kemanangan. Itu terjadi setelah anak laki-lakinya didiagnosa mengidap epilepsy.

Sejak didiagnosa mengidap epilepsy, system saraf pusat Aswan mengalami gangguan, tubuhnya kerap mengalami kejang tanpa penyebab yang jelas. Ia tak lagi bermain seperti biasanya, penyakit itu merenggut suara tawa, mimpi dan cita-citanya.

Sembilan tahun sudah, Aswan menghabiskan waktu hanya terbaring di lantai beralas karpet sederhana. Anggota tubuhnya bahkan mulai menekuk kaku dikarenakan penyakit yang menggerogoki tubuh ringkihnya.

Ia hanya mampu menggerakkan mata menatap wajah sang ibu dan ayahnya. Tak ada suara, hanya hening dan mata yang menatap seolah berkata “Bu…aku ingin sembuh”.

Kedua orang tua Aswan yakni Sabran dan Nur Daniah bukanlah dari keluarga yang berada secara finansial. Namun dalam keterbatasannya, ia terus berupaya agar anak laki-lakinya mendapatkan perawatan yang layak bahkan berupaya agar anaknya sembuh dari penyakit itu.

Menurut orang tuanya, Aswan sempat menjalani perawatan di Rumah Sakit Universitas Hasanuddin Makassar. Bahkan demi kesembuhan sang buah hati, Sabran sebagai kepala keluarga memutuskan untuk bertahan hidup di Makassar sembari mendampingi Aswan berobat.

Namun karena keterbatasan finansial, dan biaya hidup yang cukup besar di Kota Makassar, mereka menyerah hingga memutuskan untuk kembali ke Kabupaten Luwu dan menyewa sebuah rumah kontrakan sederhana di Kelurahan Sabe, Kecamatan Belopa Utara.

Sabran sang ayah hanyalah seorang buruh harian lepas, ia menopangkan semua kebutuhan Aswan dari penghasilannya. Sementara sang ibu, Nur Daniah tak tinggal berpangku tangan.

Ia membantu sang suami dengan berjualan kue di tepi jalan, jika tak ada pekerjaan, sang suami turut membantu Daniah berjualan, berharap dari tepi jalan Belopa Utara, mereka dapat mengumpulkan rupiah demi rupiah untuk mencukupi kebutuhan sang anak.

Bagi keduanya, setiap rupiah yang mereka hasilkan di hari ini, adalah untuk memenuhi kebutuhan sang anak. Semuanya telah mereka atur agar modal jualan untuk keesokan harinya tercukupi, membeli popok, susu, obat untuk Aswan ada. Bahkan mereka masih harus menyisihkan sedikit untuk membayar kontrakan.

Dari rumah kontrakan sederhana itu, Sabran dan Daniah hanya ingin anaknya (Aswan) memiliki susu yang cukup, popok yang selalu tersedia, obat yang tak pernah terputus, dan kesempatan untuk mendapatkan pelayanan yang layak.

Selain kebutuhan anaknya tercukupi, keluarga Sabran juga berharap perhatian dari pemerintah, instansi terkait, dan uluran tangan dari para dermawan agar sang buah hati mendapatkan perawatan yang layak.

Permintan sederhana namun menjadi sebuah alasan bagi keluarga Sabran untuk tetap bertahan di tengah keterbatasan. Dari dinding rumah kontrakan sederhana itu, ada perjuangan Sabran dan Nur Dainah.

Dari setiap kue yang dijajahkan Sabran dan Dainah di tepi jalan Belopa Utara, ada cinta dan harapan agar sang anak sembuh dan menjalani hidup layak. (**)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *