Kisah Pilu Dandim 1403 Sawerigading Saat Pemakaman Jenazah Positif Corona di Luwu

  • Whatsapp
Jenazah NR yang positif corona menuju pemakaman di gunung yang ada di kecamatan Walenrang. Dalam perjalanan, jenazah sempat dipindahkan dari ambulance ke mobil hardtop, lalu ditandu beberapa kilometer karena jalan yang ekstrem.
9

Covid-19 begitu cepat menyebar ke seluruh dunia. Termasuk ke Tana Luwu. Sebuah wilayah yang ada di Provinsi Sulsel. Tana Luwu kini menjadi 4 daerah yakni kabupaten Luwu, Kabupaten Luwu Utara, Kabupaten Luwu Timur dan kota Palopo.

Kasus positif covid-19 pertama yang cukup menggemparkan se antreo Tana Luwu ialah NR warga Desa Lalong, Kecamatan Walenrang, Kabupaten Luwu yang menghembuskan nafas terakhirnya di RS Haji Makassar pada Kamis (2/4/2020) lalu.

Bacaan Lainnya

Jenazah NR telah dimakamkan pada Jumat (3/4/2020) sesuai standar pemakaman pasien corona di desa asalnya meski saat itu masih dalam status Pasien Dalam Pengawasan (PDP). Ia baru diketahui positif corona setelah beberapa hari meninggal.

Meski sudah lama dimakamkan, namun ada cerita pilu yang disampaikan Dandim 1403 Sawerigading, Letkol Inf Gunawan saat rapat koordinasi sekaligus evaluasi dengan unsur muspida di lantai III Kantor walikota Palopo baru-baru ini.

Dandim 1403 Sawerigading, Letkol Inf Gunawan menyampaikan pengalaman selama pencegahan virus corona dihadapan unsur muspida dan gugus tugas Covid-19 Palopo.

Dandim berharap, kejadian seperti ini tidak terulang lagi. Ia berharap semua lebih tanggap, termasuk persiapan pemakaman jenazah PDP atau bahkan positif corona.

“Jenazah warga Lalong (NR) saat tiba di Desa Lalong dari Makassar sekitar pukul 05.00 WITA dini hari. Ambulance sempat keliling pemakaman membawa jenazah, mencari tempat pemakaman. Tapi warga menolak,” kata Dandim memulai ceritanya dihadapan walikota, Kapolres, Kajari dan Tim Gugus Covid-19.

“Ambulance keliling dari jam 5 subuh hingga jam 7 pagi, semua warga menolak dimakamkan di tempat pemakaman umum. Akhirnya disepakati, dikubur jauh dari pemukiman, yakni diatas gunung,” tambah Dandim.

Belum sampai di situ, medan menuju gunung yang dimaksud sangat ekstrem. Ambulance hanya mampu mengantar jenazah separuh jalan. Separuhnya dibantu mobil kepala Desa Lalong.

“Untung ada mobil hardtop milik pak desa. Tetapi mobil itu juga tidak mampu membawa hingga tempat pemakaman. Akhirnya, enam orang penggali kubur yang menggotong jenazah hingga ke tempat pemakaman,” katanya.

“Ini juga harus safety, karena enam yang menggotong itu tidak dilengkapi alat pelindung diri. Tapi kita bersyukur mereka (penggali kubur) negatif corona,” jelas Dandim.

Di separuh jalan menuju pemakaman, jenazah NR dipindahkan dari ambulance ke mobil hardtop milik kepala Desa Lalong.

Berkaca dari pengalaman yang ada, pada rapat itu Dandim mengusulkan kepada pemkot Palopo agar menyediakan pemakaman khusus pasien corona di setiap kecamatan. “Lebih baik disiapkan (pemakaman khusus), ini untuk antisipasi. Tapi mudah-mudahan tidak digunakan. Jangan sampai kejadian kemarin di Lalong terulang, keliling cari pemakaman. Termasuk kita siapkan tim khusus pemakaman lengkap APD,” harapnya.

Di Tana Luwu, Dandim mengapresiasi RS PT Vale. Vale kata dia sangat tanggap. “Vale ini paling sigap. Disaat yang bersamaan, kemarin ada dua pasien PDP corona di Lutim meninggal. Saya hitung waktu pemakaman dua jenazah dengan satu jenazah di Luwu sangat beda jauh. Kita semua harus sigap,” tandasnya. (asm)

Pos terkait