Ekonomi

Kolaborasi Pertamina dan Warga; Limbah MBG Jadi Berkah, Ekonomi Desa Bergerak

×

Kolaborasi Pertamina dan Warga; Limbah MBG Jadi Berkah, Ekonomi Desa Bergerak

Sebarkan artikel ini
WhatsApp Image 2025 08 31 at 18.43.20 e1756691549186
Warga bersama karyawan Pertamina AFT Hasanuddin menyiapkan pakan untuk bebek. (FOTO: IMAM DZULKIFLI/RITMEE/SC)

Siapa sangka, dari dapur produksi Makanan Bergizi Gratis (MBG) untuk anak sekolah, Pertamina punya ide mengubah limbah jadi rupiah untuk masyarakat.

***

Dapur MBG atau diistilahkan dengan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) memang memproduksi limbah yang lumayan. Kulit-kulit wortel, potongan sawi, sisa tempe dan tahu, hingga bagian ayam yang tak terpakai.

Belum lagi pada siang atau sore hari, saat nampan-nampan aluminium itu telah kembali dari sekolah. Kadang masih ada sisa makanan dan memang sering terjadi.

Pertanyaannya, itu mau diapakan? Dibuang begitu saja akan menimbulkan masalah lingkungan karena jumlahnya tidak sedikit.

Kebetulan, PT Pertamina Patra Niaga melalui Aviation Fuel Terminal (AFT) Hasanuddin di Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, punya probiotik hasil limbah cair mereka. Kebetulan juga, mereka punya kelompok binaan peternak bebek di Desa Baji Mangngai, tak jauh dari operasional.

Hasil riset yang dilakukan, ucap Fajar Syamsurya, Spv HSSE Pertamina AFT Hasanuddin, menunjukkan, probiotik yang dicampur dengan limbah dari dapur-dapur MBG, punya nilai gizi yang sangat tinggi untuk bebek. Maka ketemulah solusinya. SPPG tidak perlu repot lagi buang sampah di mana, Pertamina AFT Hasanuddin bisa memanfaatkan probiotiknya, para peternak juga tak perlu lagi beli pakan untuk bebek-bebek petelur mereka.

Bayangkan, satu SPPG di kecamatan saja bisa menghasilkan 100 hingga 150 kilogram setiap hari. Bakal jadi problem jika tidak dengan baik. Namun, dengan inisiasi dan kolaborasi Pertamina bersama warga, itu menjadi berkah bagi bebek-bebek itu karena mendapatkan makanan bergizi juga, untuk menghasilkan telur. Telur yang dijual dan jadi sumber penghasilan untuk warga desa. Telur yang kembali jadi makanan bergizi bagi anak-anak sekolah.

Sirkular ekonomi berbasis komunitas pun tercipta. Hanya dari dapur MBG, yang mungkin oleh banyak orang, tak pernah terpikirkan sebelumnya.

“Pakan bagi ternak bebek warga binaan kami memang jadi masalah terbesar selama ini. Namun setelah dikolaborasikan dengan program pemerintahan Presiden Prabowo, semua itu bisa teratasi,” tutur Fajar.

Tekan Biaya

Hari yang cerah, Senin, 11 Agustus 2025. Tampak hamparan sawah di Desa Baji Mangngai. Padi sebentar lagi siap dipanen.

Tidak jauh dari situ, ada area yang tidak begitu luas, namun cukup untuk menjadi tempat bermain dan makan bagi bebek-bebek yang diternakkan warga secara urunan dalam kelompok Laleng Kassie.

Peternakan itu cukup sederhana. Hanya dipagari bambu. Namun kandang bebeknya cukup nyaman. Pertamina dan warga membuat kanopi yang diberi pembatas kira-kira 20 sentimeter. Maryama, salah seorang warga, mengarahkan bebek-bebek untuk segera berkumpul. Beberapa pohon pisang tumbuh subur di tengah-tengahnya.

Makan siang sudah siap. Menunya adalah pakan dari limbah MBG yang dicampur beberapa probiotik. Disajikan dalam baskom berwarna biru. Ternak-ternak itu tampak begitu patuh, langsung berkumpul untuk segera menyantap makanannya.

Maryama tersenyum menyaksikan bebek-bebek makan dengan semangat. Pakan yang disediakan tampaknya memang lezat. Langsung ludes dalam hitungan menit. Itu akan menghasilkan energi yang cukup bagi bebek-bebek itu terus tumbuh dan menghasilkan telur.

“Sebelum adanya Pertamina dengan program Agrokompleks-nya, kami susah mendapatkan makanan untuk bebek. Terkadang kami harus pergi ke pasar atau pabrik-pabrik untuk mencari. Alhamdulillah sekarang sudah tidak pusing lagi soal itu,” ujar Maryama yang juga Ketua Kelompok Laleng Kassie itu.

Tidak hanya menjadi mudah mendapatkan pakan, namun tak perlu lagi membeli. Biaya produksi untuk peternakan para emak-emak itu pun bisa ditekan drastis. Apalagi, pakan memang menjadi pengeluaran terbesar bagi mereka selama ini.

Kini, mereka tinggal menunggu limbah MBG datang. Limbah organik yang dihasilkan dari dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) kini tidak lagi menjadi sisa buangan yang mencemari lingkungan. Sebanyak tiga SPPG telah menjalin kerja sama dalam pengelolaan limbah tersebut, yaitu SPPG Mandai Bontoa 1, SPPG Mandai Bontoa 2, dan SPPG Biringkanaya Bakung 1.

Setiap hari secara rutin, limbah yang diangkut berkisar antara 100 hingga 150 kilogram. Limbah dapur tersebut dipilah, ditimbang, dan diangkut secara profesional oleh tim Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Baji Mangngai menuju lokasi peternakan bebek milik Kelompok Laleng Kassie yang terletak di Dusun Tamarunang, Desa Baji Mangngai, Kecamatan Mandai, Kabupaten Maros.

Asisten Lapangan SPPG Mandai Bontoa 2, Nur Fahrizal pun mengakui kecepatan dan kecekatan Pertamina dan warga mengambil limbah MBG. Pertama-tama dengan melakukan pemilahan, lalu pengangkutan.

Foto 3 e1756691756842
Aktivitas di salah satu dapur MBG mitra Pertamina AFT Hasanuddin.

“Sebelum adanya kerja sama ini, kami memang cukup disibukkan untuk mengelola limbah. Belum lagi yang terhambur diusik kucing,” ucap Nur Fahrizal.

Gandeng BGN

Pemanfaatan limbah makan bergizi gratis untuk peternak bebek di Desa Baji Mangngai bukan sekadar kesepakatan di bibir. Pada sebuah hari yang sejuk di kantor PT Pertamina Patra Niaga melalui Aviation Fuel Terminal (AFT) Hasanuddin, 18 Juli lalu, digelar penandatanganan MoU dengan Badan Gizi Nasional (BGN) dan kelompok peternak lokal Laleng Kassie, serta tentu saja AFT Hasanuddin.

Program ini menandai upaya pertama di Sulawesi yang mengintegrasikan pengelolaan limbah organik dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) ke dalam model ekonomi sirkular berbasis masyarakat.

Aviation Fuel Terminal Manager Hasanuddin, Andreas Yanuar Arinawan, menjelaskan, kerja sama ini merupakan bentuk nyata komitmen Pertamina dalam mendukung program strategis nasional, dengan menekankan aspek keberlanjutan lingkungan dan pemberdayaan masyarakat.

“Melalui program ini, kami tidak hanya mengurangi limbah, tapi juga mendorong ketahanan pangan lokal dan pemberdayaan peternak,” jelasnya.

Kerja sama ini juga memuat diskusi teknis tentang alur distribusi limbah, penyerapan hasil peternakan, hingga mekanisme kolaborasi berkelanjutan antara pihak terkait. Direktur Wilayah III Badan Gizi Nasional, Enny Indarty, menilai inisiatif ini sebagai langkah konkret yang bisa direplikasi di daerah lain.

“Program ini bukan sekadar urusan limbah, tapi membuka peluang ekonomi baru dan mendukung ketahanan gizi masyarakat,” ujarnya.

Foto 1 1 e1756691826825
Proses pengolahan limbah MBG menjadi pakan bebek.

Area Manager Communication, Relations & CSR Pertamina Patra Niaga Regional Sulawesi, Tengku Muhammad Rum, menambahkan bahwa inisiatif ini turut mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya SDG 2 tentang pengentasan kelaparan dan SDG 12 tentang konsumsi dan ketahanan pangan.

Binaan Andalan

Kelompok peternak bebek Laleng Kassie di Desa Baji Mangngai telah jadi binaan Pertamina AFT Hasanuddin sejak 2021. Warga mendapatkan pendampingan berkelanjutan melalui Program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) perusahaan. Mereka kini menjadi contoh sukses pemanfaatan limbah organik untuk mendukung usaha peternakan masyarakat secara berkelanjutan.

“Hal ini merupakan bagian dari komitmen kami untuk mendukung program Makan Siang Bergizi Gratis, sekaligus memperkuat ketahanan pangan nasional. Melalui inisiatif ini, kami menghadirkan solusi berkelanjutan yang tidak hanya mengurangi limbah organik, tetapi juga mendorong pemberdayaan ekonomi masyarakat di sekitar wilayah operasional kami,” ungkap Andreas Yanuar Arinawan, Aviation Fuel Terminal Manager Hasanuddin.

Sejak program ini berjalan, Kelompok Laleng Kassie mampu memproduksi ratusan butir telur bebek segar setiap minggu secara konsisten. Tak hanya berhenti pada produksi telur konsumsi, kelompok ini juga telah berhasil melakukan diversifikasi produk dengan mengolah telur menjadi telur asin berkualitas tinggi. Produk olahan ini memiliki nilai ekonomi lebih tinggi dan masa simpan yang lebih lama, sehingga turut meningkatkan pendapatan kelompok secara signifikan.

Setelah menggunakan limbah MBG, produksi telur memang meningkat. Sebagian limbah makanan yang tidak langsung digunakan sebagai pakan bebek juga dimanfaatkan untuk budidaya maggot atau larva Black Soldier Fly (BSF). Maggot merupakan sumber protein ternak berkualitas tinggi, alami, dan ramah lingkungan. Larva ini digunakan sebagai pakan tambahan untuk mendukung pertumbuhan bebek, sekaligus meningkatkan efisiensi biaya dan produktivitas. Inisiatif ini tidak hanya memperkecil jejak lingkungan, tetapi juga membuka peluang usaha baru di desa.

Area Manager Communication, Relation, & CSR Sulawesi, Tengku Muhammad Rum, menyampaikan bahwa program ini menjadi bagian dari strategi CSR Pertamina Patra Niaga yang berfokus pada pemberdayaan masyarakat melalui optimalisasi sumber daya lokal.

“Pendekatan ini memberikan kontribusi nyata terhadap pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals) khususnya SDG 2 – Tanpa Kelaparan dan SDG 12 – Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab,” ujar Rum.

Ke depan, program pengelolaan limbah makanan menjadi pakan ini diharapkan dapat direplikasi di berbagai daerah lain di Indonesia, sebagai solusi cerdas yang menggabungkan pengurangan limbah, pemberdayaan masyarakat, dan penguatan ketahanan pangan nasional secara berkelanjutan.

Kepala Desa Baji Mangngai, Abdul Latif menyampaikan rasa terima kasih atas kontribusi nyata dari Pertamina Patra Niaga.

“Kami sangat bersyukur dan mengapresiasi dukungan nyata dari Pertamina Patra Niaga AFT Hasanuddin kepada warga kami selama ini,” tutur Latif.

Pertamina memang tidak hanya hadir untuk peternak bebek di Desa Baji Mangngai. Per Juli 2025, Pertamina meluncurkan Kelas Pangan Lestari di Pao-Pao, dusun lain di Desa Baji Mangngai.

Kegiatan ini menyasar Kelompok Wanita Tani (KWT) Baji Minasa dan bertujuan memberdayakan Masyarakat, khususnya ibu rumah tangga. Mereka diharapkan mampu memanfaatkan pekarangan rumah sebagai sumber pangan sekaligus penghasilan tambahan yang berkelanjutan.

“Kegiatan ini tidak hanya meningkatkan ketahanan pangan keluarga, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru yang berdampak langsung terhadap kesejahteraan masyarakat kami,” ujar Latif.

Pelaksanaan Kelas Pangan Lestari mencakup berbagai pelatihan teknis, seperti pengolahan tanah, budidaya hidroponik, pembuatan pupuk organik, hingga pemanfaatan limbah rumah tangga menjadi bahan yang produktif. Peserta juga dibekali kemampuan untuk mengidentifikasi potensi lokal dan mengembangkan produk bernilai ekonomi dari hasil pekarangan.

Kegiatan ini dilaksanakan secara rutin setiap awal bulan dan menjadi agenda tetap bagi anggota kelompok tani binaan. Materi setiap sesi disesuaikan dengan kebutuhan peserta, mulai dari teknik pertanian berkelanjutan hingga strategi pemasaran hasil panen. (imam dzulkifli)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *