Ekonomi

Limbah Jadi Berkah; Inovasi Probiotik Pertamina Aliri Rantai Ekonomi Sirkular di Desa

×

Limbah Jadi Berkah; Inovasi Probiotik Pertamina Aliri Rantai Ekonomi Sirkular di Desa

Sebarkan artikel ini
WhatsApp Image 2025 08 31 at 18.43.20 e1756691549186
Warga bersama karyawan Pertamina AFT Hasanuddin menyiapkan pakan untuk bebek. (FOTO: IMAM DZULKIFLI/RITMEE/SC)
8 / 100 Skor SEO

Siapa sangka, dari riuh dapur produksi Makanan Bergizi Gratis (MBG) untuk anak sekolah, lahir sebuah gagasan inovatif yang mampu mengubah sampah organik menjadi rupiah bagi warga desa.

Dapur MBG atau Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di tingkat kecamatan saban hari memproduksi limbah organik yang tak sedikit. Mulai dari kulit wortel, potongan sawi, sisa tempe, hingga sisa makanan di nampan aluminium anak-anak sekolah.

Dalam sehari, satu SPPG dapat menghasilkan 100 hingga 150 kilogram sisa bahan organik. Tanpa pengelolaan yang tepat, tumpukan sampah ini berpotensi menjadi ancaman pencemaran lingkungan.

Namun, di tangan PT Pertamina Patra Niaga melalui Aviation Fuel Terminal (AFT) Hasanuddin di Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, potensi masalah itu disulap menjadi peluang emas melalui konsep ekonomi sirkular berbasis komunitas yang mengusung semangat Energizing Innovation.

Inti dari terobosan ini terletak pada kepiawaian AFT Hasanuddin dalam memaksimalkan riset dan teknologi. Mengandalkan inovasi internal, Pertamina mengembangkan formula probiotik yang diolah dari pemanfaatan limbah cair operasional mereka yang telah melalui uji standar higienitas dan keamanan lingkungan.

Ketika probiotik ini dicampurkan dengan limbah dapur organik dari dapur MBG (seperti kulit wortel, potongan sawi, dan sisa tempe tersebut) formula ini berubah menjadi pakan ternak bernilai nutrisi tinggi. Secara ilmiah, langkah ini memotong mata rantai biaya produksi konvensional sekaligus menaikkan standar kualitas pakan secara signifikan.

Peneliti teknologi pakan terapan, Prof Lellah Rahim menegaskan, fermentasi limbah dapur menggunakan konsorsium mikroba probiotik memberikan dampak ganda yang luar biasa bagi sektor peternakan rakyat.

“Limbah dapur organik yang difermentasi dengan probiotik tidak hanya menaikkan nilai nutrisi pakan, tetapi juga menekan keberadaan bakteri patogen seperti Salmonella dan E. coli. Hasilnya, kecernaan pakan pada unggas meningkat, kekebalan tubuh ternak lebih kuat, dan efisiensi konversi pakan atau Feed Conversion Ratio (FCR) menjadi jauh lebih baik,” papar akademisi pakar peternakan tersebut.

Inovasi terintegrasi ini mempertemukan dua kepentingan strategis nasional; SPPG memperoleh solusi penanganan limbah yang higienis, sementara kelompok peternak bebek binaan Pertamina di Desa Baji Mangngai, Kecamatan Mandai, mendapatkan pasokan pakan gratis berkualitas tinggi yang memangkas biaya operasional hingga 40–60 persen.

Menghidupkan Ekonomi Sirkular di Sentra Peternakan Rakyat

Senin pagi, 11 Agustus, hamparan sawah di Desa Baji Mangngai tampak menghijau. Di peternakan sederhana berpagar bambu milik Kelompok Laleng Kassie di Dusun Tamarunang, Maryama sibuk menyiapkan makan siang untuk puluhan bebek petelurnya.

Menu hari itu adalah ramuan limbah organik MBG yang telah disulap dengan probiotik buatan Pertamina. Begitu disajikan dalam baskom biru, bebek-bebek tersebut langsung berkumpul dan melahap habis pakan kaya gizi itu dalam hitungan menit.

“Sebelum ada program Agrokompleks Pertamina ini, kami susah sekali mencari makanan bebek. Kadang harus keliling pasar atau pabrik dengan biaya mahal. Alhamdulillah, sekarang tidak pusing lagi dan tidak perlu beli pakan,” tutur Maryama, Ketua Kelompok Laleng Kassie, dengan senyum mengembang.

Rantai pasok inovasi ini digerakkan secara kolektif. Pengangkutan limbah dari tiga dapur SPPG; yakni SPPG Mandai Bontoa 1, SPPG Mandai Bontoa 2, dan SPPG Biringkanaya Bakung 1, dilakukan secara rutin dan terorganisir oleh Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Baji Mangngai.

Foto 3
Aktivitas di salah satu dapur MBG mitra Pertamina AFT Hasanuddin.

“Sebelum ada kerja sama ini, kami cukup disibukkan mengelola sampah dapur. Sekarang, tim BUMDes dan warga bergerak cepat memilah dan mengangkutnya secara profesional,” puji Nur Fahrizal, Asisten Lapangan SPPG Mandai Bontoa 2.

Kolaborasi Hulu-Hilir Menuju Kemandirian Pangan

Sinergi lintas sektoral ini dikukuhkan secara resmi melalui penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) antara Pertamina AFT Hasanuddin, Badan Gizi Nasional (BGN), and Kelompok Laleng Kassie, beberapa waktu lalu. Langkah ini sekaligus menjadi model percontohan pertama di Sulawesi yang memadukan hilirisasi program makan bergizi dengan ekosistem energi bersih dan ramah lingkungan.

Aviation Fuel Terminal Manager Hasanuddin, Andreas Yanuar Arinawan, menjelaskan bahwa program TJSL yang dibina sejak 2021 ini dirancang agar mandiri dan berkelanjutan (self-sustaining).

“Melalui inovasi rantai nilai ini, Kelompok Laleng Kassie kini mampu memproduksi ratusan butir telur bebek segar setiap minggu. Tidak berhenti pada telur mentah, warga juga berhasil melakukan diversifikasi produk menjadi telur asin berkualitas tinggi yang memiliki nilai jual jauh lebih tinggi di pasaran,” terang Andreas.

Sebagai penyempurna konsep zero waste (nihil limbah), sisa bahan makanan yang tidak terserap untuk pakan bebek langsung dialirkan sebagai media budidaya larva Black Soldier Fly (BSF) atau maggot. Maggot berprotein tinggi ini kemudian diolah kembali menjadi pakan tambahan alami bagi unggas, menutup siklus ekosistem secara sempurna.

Direktur Wilayah III Badan Gizi Nasional, Enny Indarty, memberikan apresiasi tinggi atas terobosan tersebut. “Ini bukan sekadar urusan pengelolaan sampah, melainkan model inovasi sosial dan ekonomi baru yang menopang ketahanan gizi masyarakat secara berkelanjutan dari desa,” tegas Enny.

Memperluas Ekosistem Pangan Lestari Desa

Dampak keberadaan Pertamina di Desa Baji Mangngai kian komprehensif dengan hadirnya program Kelas Pangan Lestari di Dusun Pao-Pao. Program ini menyasar Kelompok Wanita Tani (KWT) Baji Minasa untuk mengoptimalkan pekarangan rumah sebagai lumbung pangan keluarga dan sumber pendapatan tambahan.

Melalui pendampingan berkala, para ibu rumah tangga dibekali keterampilan budidaya hidroponik, pembuatan pupuk organik mandiri, hingga teknik pengemasan hasil panen.

Kepala Desa Baji Mangngai, Abdul Latif, menyampaikan rasa syukurnya atas konsistensi pendampingan tersebut. “Dukungan Pertamina menyentuh langsung akar rumput; mulai dari lingkungan, kesehatan gizi, hingga kebangkitan ekonomi warga kami,” ujarnya.

Area Manager Communication, Relations & CSR Pertamina Patra Niaga Regional Sulawesi, Lilik Hardiyanto, menambahkan bahwa inisiatif ini merupakan wujud komitmen perusahaan dalam mengimplementasikan Environmental, Social, and Governance (ESG), serta mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 2 (Tanpa Kelaparan) dan SDG 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab).

Dari tetesan probiotik limbah operasional hingga lorong-lorong dapur sekolah dan pekarangan desa, Pertamina AFT Hasanuddin membuktikan bahwa inovasi energi dan kepedulian sosial mampu merajut senyum kemandirian di bumi Baji Mangngai. (imam dzulkifli)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *