Ekonomi

Terhubung, Tumbuh, dan Terjaga; Kisah Srikandi Digital di Balik Gugusan Karst

×

Terhubung, Tumbuh, dan Terjaga; Kisah Srikandi Digital di Balik Gugusan Karst

Sebarkan artikel ini
WhatsApp Image 2023 10 17 at 11.16.57
Ade Gita Ramadhani melakukan siaran langsung di media sosial sembari memangku anaknya.
11 / 100 Skor SEO

Dari balik gugusan batuan karst Maros-Pangkep, kawasan megah di Sulawesi Selatan yang kini diakui sebagai UNESCO Global Geopark, hadir cerita nyata tentang bagaimana teknologi internet tak sekadar menghubungkan (Terhubung), melainkan menumbuhkan ekonomi (Tumbuh), sembari menguji ketahanan diri di ruang digital yang aman (Terjaga).

***

Ade Gita Ramadhani tak akan pernah lupa ketika badai pandemi Covid-19 melumpuhkan fondasi ekonominya. Toko kue yang dirintisnya selama enam tahun terpaksa gulung tikar. Sisa kas yang dialihkan untuk merintis kedai kopi bersama sang suami pun mandek. Kedai gantung mesin, modal kian terkikis.

Pada saat bersamaan, Agita—sapaan akrabnya—harus bersiap melahirkan anak kedua, sementara sang ibu mendadak harus menjalani perawatan opname di rumah sakit. Demi menyambung hidup dan menutup biaya berobat, sepeda motor Vespa kesayangan suami yang dirawat seperti anak sendiri terpaksa dilego.

“Itu titik terendah dalam hidup saya,” kenang perempuan berusia 30 tahun tersebut saat ditemui di kediamannya di Maccopa, Kabupaten Maros, tak jauh dari kawasan karst, bentang alam yang menakjubkan dan merupakan kompleks menara karst terbesar kedua di dunia setelah South China Karst di Tiongkok.

Sebagai istri, Agita tak ingin berpangku tangan. Bermodal tekad, ia melirik potensi internet. Masalahnya satu dan cukup krusial: Agita awam soal dunia digital. Keterampilan tertingginya saat itu hanyalah mengunggah Instastory.

Alumni Teknik Elektro Universitas Hasanuddin yang menggemari racikan kopi ini lantas memberanikan diri membuat video-video resep minuman dengan penyuntingan seadanya dari ponsel pintar. Awalnya, keberuntungan tak kunjung berpihak. Penonton sepi, jumlah pengikut (followers) mentok di angka 1.000, dan belum menghasilkan rupiah.

Dengan sisa uang yang sejatinya bisa dipakai membeli beras, Agita nekat mendaftar kelas pelatihan digital. Dari bedah akun oleh sang mentor, ia disarankan mengubah format: tak perlu menampilkan wajah, cukup fokus pada keindahan estetika visual gelas, sendok, dan buih kopi.Seketika, kontennya “pecah telur”. Pemirsanya tembus 1 juta penonton, dan pengikutnya melonjak ke angka 10.000 dalam dua bulan. Tak berhenti di situ, Agita terus mengasah kemampuannya dalam memahami algoritma dan tren pasar digital. Hasilnya fantastis. Satu konten afiliator yang ia garap mampu menghasilkan Rp75 juta dalam dua hari, bahkan menembus rekor Rp200 juta dalam dua pekan. Hingga pertengahan 2023, akumulasi omzet dari karya digitalnya menembus angka Rp800 juta.

Dokter, Stetoskop, dan Sinar Senter Ponsel

Kisah serupa mengalir dari Sri Rahmadani Mappiare, perempuan asal Kabupaten Pangkep—daerah tetangga Maros yang juga berdiri di hamparan bentang alam karst. Saat masih menempuh pendidikan di Fakultas Kedokteran, Rahma—sapaan akrabnya—harus memutar otak untuk menopang biaya kuliah dan operasional harian.

“Saya kuliah sampai co-ass itu sambil cari cuan. Saya sadar bukan anak sultan,” kelakar dokter berusia 30 tahun ini.

WhatsApp Image 2023 10 17 at 11.16.57 1
Sri Rahmadani Mappiare selain berprofesi sebagai dokter juga eksis sebagai kreator digital.

Mengandalkan ponsel pintar sederhana dan bantuan cahaya senter sebagai pencahayaan (lighting), Rahma mulai membuat konten tutorial make-up di Instagram. Pada masa awal, ia bahkan tak dibayar dengan uang tunai, melainkan barter produk rias.

Bagi Rahma, konsistensi dan integritas adalah kunci. Ia tak malu bertanya dan belajar secara mandiri (autodidaktik) mengenai teknik penyuntingan video dan etika berkomunikasi di media sosial. Kini, dengan lebih dari 82 ribu pengikut, peran Rahma sebagai Key Opinion Leader (KOL) menghasilkan pendapatan yang kerap melampaui insentif utamanya sebagai tenaga medis.

“Alhamdulillah, dari hasil konten digital ini saya bisa membantu ekonomi keluarga, melengkapi peralatan kerja, hingga membeli kendaraan,” tutur Rahma.

Sinyal yang Melipat Jarak, Membuka Peluang

Lompatan ekonomi yang dirasakan Agita di Maros dan Dokter Rahma di Pangkep menggambarkan bagaimana infrastruktur digital kini kian inklusif menjangkau daerah.

Data dari Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) RI mencatat, manfaat teknologi dapat dirasakan masyarakat di seluruh Indonesia, termasuk wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T), daerah nonkomersial, serta kelompok masyarakat yang masih menghadapi kesenjangan akses digital.

Hingga kuartal I 2026, jangkauan jaringan 4G telah mencapai 98,96 persen populasi Indonesia, sementara penetrasi internet telah menembus lebih dari 80 persen. Sementara jaringan 5G dalam tahap pengembangan yang telah mencakup sekitar 2,38 persen. Capaian tersebut menunjukkan semakin luasnya akses masyarakat terhadap infrastruktur digital, sekaligus menjadi fondasi bagi perluasan pemanfaatan teknologi di berbagai sektor kehidupan.

Dalam arah pembangunan digital nasional, layanan broadband ditargetkan menuju kecepatan hingga 100 Mbps, sementara pemanfaatan pita frekuensi 1,4 GHz diarahkan untuk memperluas akses hingga 10,8 juta rumah tangga pada 2030. Hal ini menunjukkan bahwa agenda konektivitas tidak hanya berorientasi pada tersedianya sinyal, tetapi juga peningkatan kualitas dan kapasitas layanan.

Penguatan infrastruktur digital juga dilakukan melalui pemanfaatan teknologi satelit. Melalui Satelit Nusantara Lima yang berkapasitas 160 Gbps, menjadi salah satu infrastruktur strategis untuk memperkuat konektivitas nasional, khususnya dalam menjangkau wilayah yang menghadapi tantangan geografis dan keterbatasan infrastruktur terestrial. Saat ini, lebih dari 230 juta penduduk Indonesia atau sekitar 80 persen populasi telah terkoneksi internet.

Indonesia pun memiliki basis pengguna digital yang besar dan menjadi modal penting bagi pengembangan ekonomi digital, industri kreatif, inovasi teknologi, serta berbagai layanan berbasis digital. Potensi tersebut tercermin dari proyeksi nilai ekonomi digital Indonesia yang dapat mencapai sekitar USD360 miIiar pada 2030. Komdigi menempatkan transformasi digital sebagai salah satu instrumen penting untuk mendorong produktivitas dan menciptakan sumber-sumber pertumbuhan baru.

Pada tingkat pelaku usaha dan ekonomi kreatif, pemanfaatan teknologi semakin menjadi bagian dari proses produksi, pemasaran, dan pengembangan pasar. Komdigi mendorong peningkatan keterampilan digital bagi UMKM dan talenta kreatif melalui berbagai kolaborasi dan penyediaan akses terhadap perangkat produksi digital.

Pertumbuhan ekosistem inovasi juga diperkuat melalui Garuda Spark Innovation Hub. Hingga Agustus 2026, jejaring Garuda Spark telah berkembang menjadi 10 hub dan 60 spokes, menjalankan 178 program, menjangkau lebih dari 15.700 talenta digital, membina 80 startup, melibatkan 80 mitra, serta menarik investasi langsung lebih dari Rp429,5 miliar. Perluasan tersebut diarahkan agar akses terhadap pengetahuan, talenta, jejaring, permodalan, dan pasar tidak hanya terkonsentrasi di kota-kota besar.

Di bidang kecerdasan artifisial, pemerintah juga mendorong pengembangan talenta yang mampu menghasilkan solusi AI untuk kebutuhan nyata masyarakat dan industri. Sepanjang tahun 2026, Komdigi mengembangkan AI Talent Factory serta mengintegrasikannya dengan kebutuhan industri dan BUMN agar pengembangan talenta tidak berhenti pada pelatihan, tetapi berlanjut menjadi solusi dan pengalaman profesional yang memberikan dampak terhadap produktivitas.

Namun di balik itu, Komdigi merilis bahwa transformasi digital harus berlangsung dengan tetap melindungi masyarakat, menjaga keamanan data dan sistem digital, serta membangun ruang digital yang sehat, bertanggung jawab, and beretika.

Salah satu agenda utama Komdigi adalah pelaksanaan Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025 tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam Pelindungan Anak (PP TUNAS). Hingga Juli 2026, lebih dari 4,7 juta akun anak yang berisiko telah dinonaktifkan oleh platform digital sebagai bagian dari implementasi perlindungan anak di ruang digital. Capaian ini menunjukkan bahwa kebijakan perlindungan anak mulai diterjemahkan ke dalam langkah konkret di tingkat platform.

Perlindungan masyarakat juga dilakukan melalui penanganan berbagai bentuk kejahatan dan penyalahgunaan ruang digital. Dalam pemberantasan judi online, Komdigi bersama OJK dan Bank Indonesia telah memblokir sekitar 3,7 juta situs atau konten serta menutup lebih dari 32.500 rekening bank yang berkaitan dengan aktivitas tersebut. Upaya ini menunjukkan bahwa perlindungan ruang digital tidak hanya dilakukan melalui pemblokiran konten, tetapi juga melalui pemutusan ekosistem dan aliran dana kejahatan digital.

Di sisi lain, penguatan keamanan identitas digital terus dilakukan. Registrasi seluler berbasis biometrik telah digunakan oleh lebih dari 10 juta pelanggan, menjadi salah satu langkah untuk memperkuat validitas identitas pengguna sekaligus mengurangi potensi penyalahgunaan nomor seluler dalam berbagai aktivitas ilegal.

Upaya menjaga ruang digital juga membutuhkan masyarakat yang memiliki kecakapan dan kesadaran digital. Karena itu, penguatan literasi digital, etika bermedia sosial, kemampuan mengenali informasi palsu dan disinformasi, serta kesadaran terhadap keamanan data menjadi bagian penting dalam membangun masyarakat yang tidak hanya mampu menggunakan teknologi, tetapi juga mampu menggunakannya secara aman dan bertanggungjawab.

Menjaga Etika, Menularkan Berdaya

Pemberdayaan digital yang dilakoni Agita dan Rahma tak berhenti pada kesejahteraan pribadi. Agita kini mendirikan Komunitas Agita, wadah belajar berkala via Zoom dan Google Meet yang mendampingi ratusan ibu rumah tangga untuk belajar bisnis kopi rumahan, pemasaran digital, hingga literasi keuangan digital. Sementara Dokter Rahma aktif menjadi narasumber literasi digital, mengajak anak-anak muda dan kaum perempuan di Sulawesi Selatan untuk tak minder dengan keterbatasan alat.

Pemberdayaan perempuan berbasis digital ini sejalan dengan data Bank Dunia (World Bank) dan riset BCG, yang mencatat bahwa pendapatan bisnis yang dimiliki atau dikelola oleh perempuan meningkat hingga 30–40% setelah memanfaatkan platform digital dan pemasaran e-commerce.

Namun, di balik melesatnya peluang ekonomi digital, kedua perempuan ini sepakat pentingnya pilar Terjaga—yakni keamanan data, kewaspadaan finansial, dan perlindungan privasi di ruang siber. Agita, misalnya, sangat ketat dalam mengamankan alur transaksi bisnis digitalnya. Selain membatasi paparan privasi anak-anaknya di media sosial, ia menerapkan verifikasi dua langkah (2FA) pada seluruh akun perbankan dan e-commerce untuk mengantisipasi modus penipuan maupun phishing.

Begitu pula Dokter Rahma yang senantiasa menjaga etika kedokteran, integritas profesi, dan kerahasiaan data pasien ketika membagikan konten edukasi kesehatan di ruang publik, sembari membentengi akun medianya dari potensi pengambilalihan hak akses.

Ruang Terbuka untuk Semua

Fenomena yang dialami Agita dan Dokter Rahma kian mendapat perhatian. Gita Sabharwal dari United Nations Resident Coordinator (UNRC) Indonesia menyampaikan bahwa transformasi digital yang inklusif harus memastikan perempuan tidak tertinggal.

“Kesetaraan digital bukan pilihan moral, tetapi kebutuhan pembangunan. Negara yang memastikan akses setara bagi perempuan di bidang teknologi akan memiliki daya saing ekonomi yang lebih kuat,” ungkap Gita.

Sedangkan Kishore Yerraballa dari International Telecommunication Union (ITU) menekankan arti penting kerja sama global untuk memperluas akses perempuan ke pendidikan dan pelatihan teknologi.

“Kita perlu memastikan setiap anak perempuan punya peluang belajar coding, memahami data, dan mengenal AI. Dunia digital harus menjadi ruang yang terbuka bagi semua,” ujarnya.

Pengamat sosiologi ekonomi dari Universitas Hasanuddin (Unhas), Dr. Ramlah Makmur, M.Si menilai bahwa lompatan para perempuan di kawasan karst Maros-Pangkep membuktikan tingginya tingkat resiliensi ekonomi berbasis gender.

“Perempuan memiliki kecenderungan melakukan coping mechanism (strategi adaptasi) yang sangat cepat saat ruang domestik atau keluarga mereka terancam krisis keuangan. Kehadiran internet di wilayah pelosok berfungsi sebagai enabler—pengungkit yang melompati sekat-sekat geografis. Ketika ruang fisik mereka dibatasi oleh tebalnya benteng batuan karst, mereka menciptakan ruang pasar baru di dunia siber,” jelasnya.

Berdasarkan data terbaru Otoritas Jasa Keuangan (OJK), sebanyak 64,5 persen dari 65,5 juta usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) di Indonesia dikelola oleh perempuan, namun seiring meningkatnya skala perusahaan, jumlah perempuan sebagai pemilik usaha justru makin berkurang. Karena itulah pemerintah terus memperkuat kapasitas sekaligus jejaring perempuan pelaku usaha.

Direktur Kemitraan Komunikasi Lembaga dan Kehumasan Kemkomdigi, Marroli J Indarto menegaskan pentingnya memperkuat peran perempuan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) agar mampu berkembang dan naik kelas melalui pemanfaatan teknologi digital.

“Ketika kita bicara tentang UMKM perempuan, kita sesungguhnya tidak sedang berbicara mengenai kelompok ekonomi yang kecil atau pelengkap, namun angka yang besar,” kata Marroli.

Menurutnya, perempuan selama ini telah menjadi tulang punggung ekonomi keluarga sekaligus penggerak utama ekonomi kerakyatan. Karena itu, pemberdayaan perempuan pelaku UMKM perlu terus diperkuat agar mampu memperluas skala usahanya.

Meski demikian, besarnya jumlah pelaku UMKM perempuan yang mencapai sekitar 37 juta orang menurut data OJK belum diikuti dengan kesempatan yang setara untuk berkembang.

“Angka yang besar belum selalu berarti peluang yang setara. Ini yang perlu kita garis bawahi, bukan soal perempuan tidak mampu bertumbuh, tetapi soal tangga yang mereka panjat lebih sedikit pijakan,” ujar dia.

Komitmen Komdigi; Menatap Indonesia Digital yang Inklusif

Fenomena kebangkitan perempuan di Sulawesi Selatan ini selaras dengan arah baru kebijakan transformasi digital Indonesia di bawah kepemimpinan Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi) Meutya Hafid. Dalam Rencana Strategis (Renstra) Kementerian Komdigi, pemerintah menegaskan kerangka prioritas pembangunan nasional melalui visi Terhubung, Tumbuh, Terjaga (T3).

Meutya Hafid menegaskan bahwa Terhubung, Tumbuh, Terjaga bukan sekadar slogan, melainkan kompas agar transformasi digital berdampak langsung bagi peningkatan kesejahteraan rakyat.

“Infrastruktur digital sudah kita bangun, tetapi produktivitas ekosistemnya harus kita tingkatkan. Transformasi digital bukan sekadar tentang teknologi, melainkan bagaimana teknologi itu memberi manfaat nyata, memperluas kesempatan, dan meningkatkan produktivitas masyarakat secara inklusif. Dari Terhubung harus ada Tumbuh, dan kita wajib memastikan dampaknya Terjaga secara positif,” tegas Meutya.

dXBsb2Fkcy8yMDI2LzkvMTAvOTk5YTVkOGUtZjA5NS00ZjY0LTlkM2MtYTY3OTRlZGRiZWNlLnBuZw
Menkomdigi Meutya Hafid bersama Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Luhut Binsar Pandjaitan memberikan keterangan kepada awak media.

Pemerintah menargetkan penyelesaian konektivitas hingga ke ribuan desa di kawasan timur Indonesia (pilar Terhubung), memperkuat digitalisasi usaha lokal/UMKM (pilar Tumbuh), serta secara paralel membentengi ruang digital dari ancaman penipuan, judi online, hingga kebocoran data pribadi (pilar Terjaga). Langkah ini diperkuat melalui program inklusif pada berbagai kegiatan yang menempatkan kaum perempuan sebagai porsi terbesar peserta pelatihan.

Teknologi, lanjut Meutya, pada akhirnya bukan sekadar soal gawai canggih atau koneksi internet berkecepatan tinggi. Di tangan perempuan-perempuan tangguh seperti Agita di Maros dan Dokter Rahma di Pangkep, kecakapan digital adalah instrumen untuk terhubung dengan dunia, tumbuh secara mandiri, dan tetap menjaga nilai-nilai kebaikan bagi keluarga serta masyarakat sekitarnya. (imam dzulkifli)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *