PALOPO- Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Luwu, Ahmad Gazali didaulat membacakan sinopsis hari Jadi Luwu ke-758 dan Hari Perlawanan Rakyat Luwu, Jumat (23/01/2026) malam.
Di hadapan para undangan, Ahmad Gazali menyampaikan harapan “Wija To Luwu” yang beberapa terakhir ini menggemah di Luwu Raya.
“Di akhir pembacaan sinopsis ini izinkan saya menyampaikan harapan ‘Wija To Luwu’. Sebagai pengemban amanah masyarakat, dengan kapasistas kami sebagai pimpinan lembaga, dan sesuai dengan titah Yang Mulia Datu Luwu ke XL, Andi Maradang Mackulau,” katanya diakhir pembacaan sinopsi HJL dan HPRL.
“Yang semua ‘Wija To Luwu’ harapkan saat ini yaitu menginginkan Luwu Raya menjadi DOB Provinsi Luwu Raya. Kami berharap yang dibacakan di forum terhormat ini tahun depan adalah Sejarah Terbentuknya Provinsi Luwu Raya,” tambah Ketua DPRD Luwu.
Adapun kutipan singkat dari sinopsis yang dibacakan oleh Ahmad Gazali yaitu Luwu berawal dari turunnya seorang raja yang bergelar Datu dari Boting Langi ke Alekawa Attawareng (Bumi) di bukit Pensemauni ditepi sungai Cerekang, kemudian membuka tabir kerajaan besar di Sulawesi Selatan yaitu Kedatuan Luwu atau Kerajaan Luwu yang dipimpin oleh Raja pertama bernama La Togelangi Sangkuruwira atau Batara Guru.
Kerajaan ini kemudian dibagi tiga bagian yang dikenal dengan sebutan “Anak Tellue” diantaranya;
- Makole Baebunta
- Madika Bua
- Madika Ponrang
Zaman La Togelangi Sangkuruwira atau Batara Guru kemudian diketahui dengan sebutan Sawerigading dan I Lagaligo yang memiliki beberapa versi dan kemudian disimpulkan mendapat angka waktu yaitu abad VII.
Dari kalangan sejarawan Sulawesi Selatan, zaman ini tidak dianggap sebagai sebagai Hari Jadi Luwu sebab dianggap sebagai zaman “Prasejarah Luwu”.
Zaman sejarah di Luwu sendiri berada di zaman Simpurusiang yang merupakan keturunan dari Wr Tenriabeng dan seorang putri beranam Pati Anjala yang mengacu pada angka Tahun 1268 Masehi.
Sementara Perlawanan Rakyat Luwu yang diperingati setiap 23 Januari (Tahun 1946) merupakan titik kulminasi dari serentetan perlawanan rakyat untuk mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia (17 Agustur 1945).
Peristiwa ini mengalami proses panjang yang didalamnya terdapat variable-variabel sosial, politik, budaya, ekonomi, dan lain-lain. Sakata (orang Jepang) menyampaikan berita tentang kemerdekaan RI ke seorang pemuda Luwu yaitu Andi Ahmad Putra Datu Luwu Andi Djemma.
Mendapat berita itu, Andi Ahmad Putra kemudian menyampaikan pernyataan kepada enam orang temanya untuk membentuk gerakan Soekarno Muda. Adapun keenam teman Andi Ahmad Putra yaitu;
- Andi Mackulau Opu Dg Parebba
- Yusuf Arif
- Andi Tenriadjeng
- Mungkasa’
- Haji Abd. Kadir Daud
- Guli Dg. Mallimpo
Keesokan harinya (20/08/1945) ketujuh pemuda itu kemudian mengahadap ke Datu Luwu, Andi Djemma. Dalam pertemuan itu, Datu Luwu memutuskan mengirim delegasi (Sanusi Dg Matta dan Andi Mackulau) ke Makassar untuk menghadap Doktor Ratulangi selaku Gubernur Sulawesi.
Sekembalinya dari Makassar, kedua utusan ini kemudian membawa kepastian berita bahwa Proklamasi Kemerdekaan RI telah diproklamasikan oleh Bung Karno dan Bung Hatta pada 17 Agustus 1945.
Setelah mendengar berita itu, para pemuda Luwu kemudian aktif mendorong masyarakat membentuk badan-badan perjuangan di tingkat Palopo, Distrik, Desa, dan bahkan sampai ketingkat Kampong (ejaan lama red).
Badan-badan perjuangan yang bermunculan ini memiliki nama dan bentuk tersendiri namun memiliki tekad dan tujuan yang sama yaitu “Merdeka Atau Mati”.
Salah satu gerakan yang aktif dilakukan oleh badan-badan perjuangan ini yaitu mengadakan perampasan senjata di Tangsi Knil yang dipimpin oleh Andi Achmad. Pada Oktober 1945 tentara sekutu yang dipimpin oleh Mayor Right memasuki Kota Palopo yang kemudian dihadang oleh pasukan Larompong dan pasukan disebelah selatan Kota Palopo.
Beberapa peristiwa yang terjadi merupakan rangkaian aksi pemicu meletusnya perlawanan semesta rakyat Luwu 23 Januari 1946 yang juga merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari perlawanan mempertahankan proklamasi kemerdekaan.
Sebelum peristiwa 23 Januari 1946 meledak, para pemuda pejuang Luwu berkumpul dan mengadakan musyawarah (21/01/1946) yang kemudian mencapai satu kedaulatan tekad yakni mengeluarkan ultimatum keras kepada NICA/KNIL termasuk pasukan Australia.
Adapun ultimatum yang dikeluarkan yaitu; “Apabila dalam tempo 2 x 24 jam Tentara Belanda NICA/KNIL dan tentara Australia masih saja berkeliaran diluar dan mengintimidasi serta memprovokasi rakyat RI (Luwu) maka pemerintah RI (Luwu), pemuda Republik Indonesia (Luwu) dan umat islam Indonesia tidak dapat mempertanggungjawabkan tentang keamanan dan ketertiban masyarakat.
Ultimatum itu kemudian tidak diindahkan oleh pasukan NICAL/KNIL dan Australia, sehingga pimpinan PRI Luwu kemudian menginstruksi kepada seluruh pasukan bersenjata PRI Luwu untuk segera menuju Kota Palopo.(*)












