MAKASSAR- Salah satu wujud nyata komitmen PT Vale Indonesia Tbk untuk tumbuh dan berkembang bersama masyarakat sekitar wilayah operasionalnya yakni penguatan produk kriya lokal, anyaman teduhu yang dipamerkan melalui ajang Dewan Kerajinan Nasional (Dekranas) di Makassar 9 sampai 11 2025.
Produk kerajinan binaan PT Vale tersebut ditampilkan dalam kegiatan Pendampingan Kewirausahaan dan Pengembangan Produk Kerajinan Khas Daerah bagi UMKM Wilayah Sekitar Tambang dan Hulu Migas dalam rangka Hari Kesatuan Gerak (HKG) PKK Nasional ke-54 dan HUT Dekranas ke-46, Jumat (10/07/2026).
Head of External Relation Sorowako and Outer Area PT Vale, Yusri Yunus menjelaskan bahwa, PT Vale menaruh perhatian besar pada keberlangsungan kearifan lokal. Saat ini kata dia, PT Vale membina generasi kedua pengrajin yang berusia 16 hingga 23 tahun untuk meneruskan keahlian para pengrajin senior yang kini berusia 40 hingga 50 tahun.
“Prinsip kami adalah, tumbuh bersama masyarakat. Kami ingin memastikan produk lokal seperti teduhu memiliki daya saing tinggi dan tradisi tetap Lestari. Untuk itu, PT Vale memberikan pendampingan, mulai dari pengenalan bahan baku berkelanjutan, inovasi, Teknik menganyam, perlindungan Hak Kekayaan Intelektual (KHI), manajemen usaha, hingga membuka akses pasar seluas-luasnya,” terang Yusri.
Sebagai bentuk dukungan konkret, lanjut Yusri, PT Vale kini membina dua komunitas yakni Komunitas Teduhu dari Desa Nuha (12 pengrajin) yang mengolah pakis hutan, serta Komunitas Sampa Konao dari Desa Matano (10 pengrajin muda) yang mengolah pelepah pohon aren.
“Perusahaan juga mengintegrasikan produk ini ke dalam ekosistem bisnis dengan menjadikannya sebagai souvenir resmi bagi pada tamu korporat serta memasarkannya di jaringan hotel dan galeri,” ungkapnya.
Salah satu pengrajin Teduhu asal Desa Nuha, Yulianti mengaku bahwa, dukungan PT Vale telah membawa manfaat bagi pengrajin di desanya. Tradisi menganyam yang sudah ada sejak tahun 1970-an itu, kini terus berkembang secara ertetika dan variasi produk sejak para pengrajin mulai memanfaatkan serat teduhu pada tahun 2006.
“Bersama PT Vale, kami bisa melalukan inovasi produk mulai dari kotak tisu hingga tas modern, sekaligis mengajak anak-anak muda di desa untuk ikut menjaga tradisi ini agar tidak punah. Kesempatan mengenal teduhu di ajang Dekranas ini sangat berharga untuk memperluas pasar dan membuka peluang kerja sama baru,” ucap Yulianti optimis.
Bagi PT Vale sendiri, pengenalan anyaman teduhu merupakan bagian dari strategi investasi sosial untuk mendorong kemandirian ekonomi masyarakat secara jangka panjang.
Melalui Program Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat (PPM), penguatan produk lokal ini difokuskan pada aspek keberlanjutan tradisi melalui program regenerasi yang terukur.
Dekranas Apresiasi Upaya PT Vale Membina Pengrajin Muda
Kehadiran produk lokal tersebut di HKG PKK Nasional ke-54 dan HUT Dekranas ke-46 sukses memikat Ketua Harian Dekranas, Tri Tito Karnavian bersama Wakil Ketua II Dekranas, Sri Suparni Bahlil Lahadalia.
Keduanya secara khusus mengunjungi booth PT Vale untuk berbincang dengan para pengrajin serta mengapresiasi keunikan tas anyaman dari tanaman teduhu (pakis hutan) asal Desa Nuha dan kain motif taipa khas Danau Matano, Luwu Timur.
“Tentu kami sangat bangga melihat semangat dan antusiasme para pengrajin, khususnya pengrajin muda yang terus bermunculan. Berkat pembinaan selama ini oleh perusahaan mitra ESDM separti PT Vale. Banyak pengrajin muda yang penuh semangat dan sudah mengikuti berbagai coaching,” ujar Sri Suparni Bahlil saat memberikan apresiasi di booth PT Vale.
Melalui sinergi erat bersama Kementerian ESDM, Kemenparekraf, dan Dekranas, PT Vale menegaskan kembali komitmennya bahwa penguatan potensi lokal dan pelestarian budaya merupakan investasi sosial yang tidak terpisahkan dari operasional bisnis pertambangan yang berkelanjutan. (**)












