HeadlineBisnisIndustriNasional

PT Vale Indonesia Tbk Umumkan Hasil Produksi dan Kinerja Keuangan Triwulan Kedua Tahun 2026

×

PT Vale Indonesia Tbk Umumkan Hasil Produksi dan Kinerja Keuangan Triwulan Kedua Tahun 2026

Sebarkan artikel ini
IMG 20260730 WA0052 e1785479775972
Foto dokumentasi PT Vale Indonesia Tbk.
60 / 100 Skor SEO

JAKARTA- PT Vale Indonesia Tbk (“PT Vale “ atau “Perseroan”, Kode Saham IDX: INCO) per 29 Juli 2026 mengumumkan hasil produksi dan kinerja keuangan untuk triwulan kedua tahun 2026, Jumat (31/07/2026).

(2T26). Perseroan membukukan kinerja operasional dan keuangan yang solid selama periode tersebut, yang mencerminkan kemajuan dalam membangun fondasi produksi yang lebih kuat.

Didukung oleh disiplin dalam pelaksanaan operasional serta keberlanjutan peningkatan kapasitas operasi penambangan, PT Vale tetap berada pada posisi yang baik untuk menciptakan nilai keberlanjutan di tengah dinamika pasar yang terus berlangsung.

Pada 2T26, PT Vale memproduksi 16.152 metrik ton (ton) nikel matte, meningkat sekitar 19% dibandingkan 13.620 ton pada 1T26. Dengan demikian, total produksi nikel matte pada semester pertama 2026 mencapai 29.773 ton.

Peningkatan ini mencerminkan kinerja operasional yang lebih kuat setelah selesainya proyek Pembangunan Kembali Tanur Listrik 3 pada Juni 2026, dengan tetap mempertahankan fokus yang tinggi pada keselamatan kerja dan keandalan operasional,

Perseroan tetap berada pada jalur yang tepat untuk mencapai target produksi tahunan, serta berada dalam posisi yang baik untuk memanfaatkan fundamental pasar nikel yang kondusif.

Selain produkasi nikel dalam matte, PT Vale terus memperkuat platform pertumbuhannya melalui pengoperasian tiga hub pertambangan di Sorowako, Bahodopi, dan Pomalaa yang juga menandai tonggak penting dalam transformasi Perseroan.

Ekpansi strategis ini menghasilkan pertumbuhan yang signifikan pada volume produksi dan penjualan bijih nikel. Pada 2T26, Blok Bahodopi membukukan penjualan bijih nikel saprolite sebesar 1,07 juta wet metric ton (wmt), meningkatk dari 886 ribu wmt pada triwulan sebelumnya, sehingga total volume penjualan pada semester pertama mencapai 1,96 juta wmt.

Sementara di Blok Pomalaa, juga mencatat peningkatan signifikan dalam penjualan bijih nikel menjadi 1,26 wmt pada 2T26, dibandingkan 89 ribu wmt pada 1T26, sehingga volume penjualan kumulatif pada semester pertama mencapai 1,35 juta wmt.

Kinerja kuat dari kedua proyek pertumbuhan tersebut menunjukkan keberhasilan peningkatan kapasitas operasi serta memperkuat strategi PT Vale untuk mendiversifikasi sumber pendapatannya dan membangun fondasi operasional yang lebih kokoh guna mendukung pertumbuhan jangka panjang.

Pada 2T26, PT Vale kembali membukukan kinerja keuangan yang solid, didukung oleh peningkatan produksi, penguatan harga nikel, serta pelaksanaan operasional yang disiplin.

Produksi nikel matte meningkat 19% secara triwulan (QoQ) menjadi 16.153 ton, sementara volume penjualan tetap stabil di 13.932 ton. Dengan memperoleh manfaat dari kenaikan harga realisasi rata-rata nikel matte menjadi AS$14.765 per ton, meningkat 4% QoQ, yang turut mendorong pendapatan mencapai AS$290 juta, atau naik 15% dibandingkan 1T26.

Dari sisi biaya, biaya tunai pokok penjualan nikel matte tetap kompetitif di level AS$10.005 per ton pada 2T26, membaik dibandingkan AS$10.382 per ton pada 1T26, mencerminkan disiplin dan ketangguhan Perseroan yang berkelanjutan dalam pengelolaan biaya.

Pada bisnis bijih nikel, biaya tunai per unit tetap stabil, yaitu AS21 per ton di Bahodopi, dan AS$7 per ton di Pomalaa, termasuk biaya royalty dan logistik. Secara khusus, operasi Pomalaa memperoleh manfaat dari optimalisasi biaya tunai yang lebih lanjut, didorong oleh peningkatan volume penjualan seiring kapasitas operasi yang terus meningkat pada 2T26.

Untuk komsumsi energi meningkat terutama sejalan dengan kenaikan produksi nikel dalam matte dibandingkan triwulan sebelumnya. Penurunan komsumsi HSFO selama periode tersebut Sebagian besar diimbangi oleh peningkatan volume penggunaan bati bara untuk mendukung kebutuhan operasional.

Komsumsi diesel juga mengalami peningkatan, mencerminkan bertambahnya aktivitas penambangan di operasi Sorowako. Sementara itu, harga energi menunjukkan tren kenaikan dengan harga HSFO, diesel, dan batu bara masing-masing meningkat sekitar 25%, 40%, dan 12%.

Kenaikan ini dipengaruhi oleh situasi geopolitik yang berlangsung serta dampaknya terhadap pasar global energi.

EBITDA meningkat signifikan sebesar 45% secara triwulan menjadi AS$116 juta, mencerminkan peningkatan operating leverage dan profitabilitas Perseroan. Laba bersih mencapai AS$61 juta, meningkat 39% dibanding AS$44 juta pada triwulan sebelumnya, yang menegaskan pertumbuhan laba Perseroan yang kuat di tengah lingkungan harga yang lebih kondusif.

Selama triwulan tersebut, Perseroan merealisasikan belanja modal sekitar AS$116 juta untuk mendukung keberlanjutan operasi serta pengembangan proyek-proyek pertumbuhan strategis.

Pada 30 Juni 2026, saldo kas dan setara kas tercatat sebesar AS$111 juta, dibandingkan AS$220 juta pada 31 Maret 2026, hal ini terutama mencerminkan aktivitas investasi yang terus berlangsung selama periode tersebut.

PT Vale tetap berkomitmen pada alokasi modal yang bijaksana dan manajemen likuiditas yang disiplin untuk menjaga ketahanan keuangan sekaligus terus mendukung pertumbuhan jangka panjang.

Industri hilirisasi nikel Indonesia terus menunjukkan kemajuan yang signifikan, yang ditandai dengan tibanya autoclave untuk Proyek HPAL Sambalagi, sebuah komponen utama dari Indonesia Growth Project (IGP) Morowali milik PT Vale.

Bekerja sama dengan GEM Co., Ltd. Dan EcoPro, PT Vale memperingati tonggak penting ini melalui acara BNSI Autoclave Delivery Ceremony yang diselenggarakan pada 22 Juli 2026.

Acara tersebut dihadiri oleh Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM sekaligus CEO Danantara Indonesia, Rosan P. Roeslani, yang menegaskan pentingnya proyek tersebut secara strategis.

“Kedatangan autoclave tersebut merupakan langkah maju yang signifikan dalam pengembangan rantai nilai bahan baku bateri terintegrasi di Indonesia serta memperkuat komitmen PT Vale untuk mendukung agenda hilirisasi nasional,” ujar Bernardus Irmanto, Presiden Direktur dan Chief Executive Officer PT Vale.

Ke depan, Perseroan akan terus mempercepat pengembangan proyek-proyek HPAL untuk mengolah bijih limonit menjadi Mixed Hydroxide Precipitate (MHP), yaitu produk antara yang sangat penting dalam rantain pasok global baterai kendaraan listrik.

PT Vale juga mengimbau pembaca untuk melihat ikhtisar pencapaian Perseroan. Pencapaian operasional dan hasil keuangan interim telah dirangkum pada halaman-halaman selanjutnya-semua angka dinyatakan dalam AS$ kecuali untuk produksi nikel dalam matte dan pengiriman yang dinyatakan dalam metrik ton. (**)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *