Ekonomi

48 Jam yang Krusial; Inovasi dan Respons Cepat Pertamina Menjaga Denyut Energi Sulsel

×

48 Jam yang Krusial; Inovasi dan Respons Cepat Pertamina Menjaga Denyut Energi Sulsel

Sebarkan artikel ini
spbu
Petugas mengisi BBM untuk kendaraan di SPBU Modular, CPI, Makassar. (FOTO: IMAM DZULKIFLI/SC)
9 / 100 Skor SEO

Pertengahan September 2026. Koridor utama yang menghubungkan Kabupaten Maros hingga ke jantung Kota Makassar, Sulsel, diuji oleh kepadatan arus lalu lintas yang tak biasa. Di sepanjang bahu jalan menuju Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) konvensional, deretan kendaraan, mulai dari armada truk logistik, bus antarkota, hingga ratusan pengendara roda dua, tampak mengular panjang. Bunyi klakson bersahut-sahutan, menambah cekam suasana.

​Di tengah barisan antrean yang merayap pelan itu, tampak Akbar, seorang pekerja swasta asal Maros, duduk tertunduk di atas sepeda motornya. Keringat menetes di pelipisnya di bawah himpitan helm, sementara matanya tak lepas memandangi jarum penunjuk bahan bakar yang sudah menyentuh garis merah.

Hari itu, Akbar harus menempuh perjalanan jauh menuju tempat kerjanya di Makassar. Kecepatan dan kepastian BBM adalah segalanya agar dapur rumah tangga tetap ngebul dan jam kerja tak terbuang sia-sia.

​”Waktu itu jam terus berputar, sementara pergerakan antrean sangat pelan karena tumpukan kendaraan meluber sampai ke jalan. Rasanya campur aduk antara cemas terlambat kantor dan khawatir kehabisan bahan bakar di jalan,” ucap Akbar menggambarkan situasi krusial yang dialaminya bersama pengendara lain.

​Deru mesin yang tak kunjung padam di tengah terik matahari pesisir Sulawesi Selatan memperlihatkan betapa tingginya ketergantungan mobilitas warga pada pasokan BBM. Petugas SPBU berompi merah bekerja ekstra cepat melayani pengisian, namun gelombang kendaraan yang terus berdatangan membuat area driveway SPBU eksisting penuh sesak.

Pemandangan antrean yang meluber tersebut menjadi sinyal krusial; diperlukan strategi pemecah arus (decongestion) yang terukur dan efisien untuk mengurai tumpukan kendaraan tanpa mengganggu urat nadi perekonomian masyarakat.

​Komando Lapangan dari Direksi

​Situasi benar-benar menyulitkan. Semua SPBU di Sulsel, tanpa terkecuali, diwarnai dengan antrean panjang. Macet di mana-mana. Status WhatsApp, status Facebook, hingga unggahan Instagram penuh dengan keluhan. Warga lelah menunggu BBM.

Merespons cepat dinamika di lapangan, Direktur Utama PT Pertamina (Persero), Simon Aloysius Mantiri, terbang langsung ke Makassar untuk meninjau secara mendalam kesiapan infrastruktur logistik dan pengawasan kondisi SPBU di lapangan. Kehadirannya membawa instruksi tegas; seluruh saluran distribusi harus dipercepat melalui langkah-langkah solutif, taktis, dan bebas dari hambatan birokrasi.

Simon menegaskan, Pertamina berkomitmen penuh mengawal transparansi, keandalan pasokan, dan kecepatan distribusi hingga ke tingkat titik tuang SPBU.

​”Momentum ini menjadi dorongan bagi kami untuk terus memperkuat tata kelola operasional dan responsibilitas pelayanan di lapangan. Kami memastikan seluruh jajaran bekerja sigap, menambah pasokan, serta berkoordinasi erat dengan pemerintah daerah dan aparat penegak hukum agar distribusi BBM berjalan lancar, transparan, dan tepat sasaran,” tutur Simon.

​Sinergi tanggap juga terjalin erat bersama jajaran pemerintah daerah dan legislatif. Kehadiran para pemangku kepentingan, seperti anggota DPRD Kabupaten Maros Marjan Massere yang turun memantau kondisi di lapangan, menjadi sinyal kolaborasi aktif antara Pertamina, Pemkab, dan aparat keamanan untuk memastikan pengaturan alur kendaraan berat di bahu jalan berjalan tertib.

“Kita memang harus segera memberikan solusinya,” ucap Marjan.

​Energizing Innovation, Hadirkan SPBU Modular di CPI

​Instruksi tegas direksi langsung dieksekusi di tingkat operasional oleh PT Pertamina Patra Niaga Regional Sulawesi melalui Satgas Layanan BBM. Salah satu langkah terobosan (operational innovation) yang menjadi pusat perhatian adalah hadirnya tiga unit SPBU Modular di kawasan ikonik Center Point of Indonesia (CPI), persis di area pelataran Masjid 99 Kubah, Makassar.

​Inovasi penempatan SPBU modular ini juga ditinjau langsung Gubernur Sulawesi Selatan, Andi Sudirman Sulaiman, yang mengapresiasi langkah kolaboratif tanggap darurat antara Pemprov Sulsel dan Pertamina. Dalam tinjauannya di lokasi, Gubernur menegaskan bahwa skema ini dihadirkan sebagai titik alternatif strategis untuk mengurai penumpukan di SPBU-SPBU kota.

​”Di sini ada tiga modular. Modular ini kita hadirkan untuk mengurai antrean di tempat SPBU lainnya untuk kemudian diarahkan ke sana,” ujar Sudirman saat memantau pengoperasian SPBU Modular di CPI.

Ic7yO0sKVY8YhnAahzi0GngHEqNHl6mPyGzevV9I
Gubernur Sulsel, Andi Sudirman Sulaiman bersama Direktur Utama PT Pertamina (Persero), Simon Aloysius Mantiri dan jajaran Pertamina Patra Niaga Regional Sulawesi meninjau lokasi Modular SPBU di CPI, Makassar.

Gubernur juga mengimbau masyarakat agar memanfaatkan fasilitas terobosan ini dengan mematuhi ketentuan petunjuk teknis serta senantiasa menjaga ketertiban selama berada di lokasi.

​Pemandangan di SPBU Modular CPI pun menghadirkan suasana yang kontras dan menenangkan. Di bawah langit cerah kawasan pesisir, dispenser modular berdesain ringkas namun canggih berdiri sigap. Alih-alih antrean panjang yang berjejal, lalu lintas kendaraan roda dua mengalir sangat tertib. Petugas Pertamina dengan senyum ramah mengarahkan para pengendara masuk dalam alur antrean teratur.

​Tampak puluhan pengemudi Ojek Online (Ojol) dan pekerja harian seperti Akbar mengantre dengan tenang. Kebijakan pembebasan aturan ganjil-genap khusus bagi Ojol disambut lega, menjadi oase di tengah padatnya mobilitas mereka mencari nafkah harian. Proses pengisian BBM jenis Pertalite yang dibatasi maksimal 3 liter per kendaraan berjalan sangat cepat; hanya butuh waktu kurang dari dua menit bagi setiap pengendara untuk kembali melaju menembus jalanan kota.

​Inovasi penempatan SPBU modular hasil kolaborasi strategis Pertamina dengan Pemprov Sulsel ini terbukti efektif menjadi “katup pengaman” (relief valve), menyedot dan memecah tumpukan kendaraan roda dua dari SPBU-SPBU konvensional di sekitarnya.

​Tak hanya menghadirkan titik layanan darurat di CPI, Pertamina menggerakkan skema tanggap darurat (quick response) secara simultan; memobilisasi armada tangki secara bergelombang (extra dropping) dari Integrated Terminal Makassar, memfungsikan 25 SPBU strategis secara nonstop 24 jam, serta menambah penyiapan nozzle dan operator di jalur-jalur padat.

​Pjs. Area Manager Communication, Relation, & CSR Pertamina Patra Niaga Regional Sulawesi, Okky Aditya Wibowo, mengonfirmasi bahwa efektivitas inovasi operasional dan ekstra dropping ini langsung membuahkan hasil nyata dalam waktu relatif singkat.

​”Kami melihat kondisi antrean di sejumlah SPBU Makassar dan sekitarnya menunjukkan perkembangan yang sangat baik dan semakin landai. Kami terus memperkuat pelayanan melalui penambahan titik pengisian, pengoperasian SPBU 24 jam, penambahan nozzle dan operator, serta memastikan distribusi BBM terus berjalan lancar,” ungkap Okky.

​Presisi Manajemen Krisis & Monitoring Digital

​Langkah intervensi cepat dan inovatif yang mampu memulihkan kelancaran distribusi dalam kurun waktu kurang dari 48 jam tersebut mendapat apresiasi positif dari kalangan akademisi. Pakar pengolahan dan distribusi energi, Dr. Eng. Ir. Jalaluddin, S.T., M.T., menilai langkah darurat yang diambil Pertamina terbukti presisi dari sudut pandang supply chain crisis management.

​”Kunci utama penanganan lonjakan permintaan di lapangan adalah kecepatan redistribusi dan pemecahan titik tumpuk. Turunnya jajaran direksi ke lapangan memberikan kepastian eksekusi logistic,” pandangnya.

“Keputusan Pertamina menghadirkan SPBU modular di CPI untuk kendaraan roda dua dan Ojol, dipadu pengoperasian armada tangki nonstop 24 jam di koridor Makassar–Maros, merupakan bentuk inovasi manajemen krisis yang sangat presisi. Langkah ini secara efektif mengembalikan kurva distribusi ke titik normal,” jelas Jalaluddin, lagi.

​Keandalan distribusi ini turut ditopang oleh pemanfaatan teknologi pemantauan stok digital (real-time monitoring) pada tangki pendam SPBU serta saluran komunikasi terintegrasi melalui Pertamina Contact Center (PCC) 135.

​Sinergi tanggap antara Pemda, legislatif, kepolisian, dan langkah terobosan Pertamina menjadi cerminan nyata semangat Energizing Innovation, bahwa ketahanan energi nasional dijaga bukan hanya lewat kepastian pasokan, tetapi juga melalui kepemimpinan yang responsif, kolaborasi lintas sektor, dan keberanian menghadirkan inovasi operasional di saat-saat krusial. (imam dzulkifli)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *