ISMAIL tidak berencana pergi jauh pagi itu. Lelaki 31 tahun tersebut hanya ingin menuju sawahnya di Kecamatan Moncongloe, Kabupaten Maros. Mengenakan kaus oblong lengan panjang, celana panjang longgar, dan sepatu lars hijau army, ia menarik santai gas sepeda motor tuanya.
Baru berjalan seratusan meter, ia menginjak pedal rem di sudut perlimaan jalan, lalu mematikan mesin tepat di depan dispenser pengisian bahan bakar lembaga penyalur resmi Pertamina.
“Pertamax, full tangki,” katanya ramah kepada Wahyuni, petugas pengisian BBM berkaus merah resmi Pertamina.
Ismail adalah seorang petani padi yang juga aktif mengurus kebun singkong. Kendati bermukim di kawasan sub-urban yang jauh dari hiruk-pikuk pusat kota, ia memiliki literasi energi yang mumpuni. Pilihan bahan bakarnya tegas; Pertamax dengan angka oktan (Research Octane Number/RON) 92. Tak ada niat kembali ke bahan bakar berkualitas di bawahnya.
Cukup lama Ismail dan rekan-rekan sesama petani bergantung pada BBM bersubsidi. Alasannya seragam, mengejar harga murah. Namun, beberapa tahun terakhir Ismail menyadari, penggunaan bahan bakar dengan spesifikasi yang tidak sesuai rasio kompresi mesin justru memicu penumpukan kerak karbon (carbon deposit) pada ruang bakar sepeda motornya. Ujung-ujungnya, biaya perawatan berkala jauh lebih mahal.
Di lembaga penyalur resmi Pertamina pedesaan tersebut, harga Pertamax dipatok persis sama dengan SPBU di ibu kota kabupaten. BBM yang diisikan ke sepeda motor Ismail sama persis dengan bahan bakar yang digunakan mobil-mobil keluaran terbaru di kota besar.
”Ternyata kalau beli di penyalur resmi, Pertamax sangat terjangkau dibanding beli bensin eceran di botol. Mesin motor tua saya juga jadi jauh lebih enteng, responsif, dan irit,” ucap Ismail seraya mendorong kendaraannya pelan ke tepi jalan.
Literasi Energi hingga Pelosok
Kehadiran titik penyalur BBM Pertamina hingga kawasan pelosok merupakan bagian dari inovasi pemerataan akses energi dan jaminan ketersediaan. Petani di Moncongloe Bulu seperti Ismail kini tak perlu lagi membuang waktu dan biaya menempuh puluhan kilometer ke perkotaan hanya untuk mendapatkan BBM berkualitas tinggi dan ramah lingkungan.
Hal serupa dirasakan Suryadi, petani asal Kecamatan Tompobulu yang bertetangga dengan Moncongloe. Ia tak perlu lagi berkendara jauh menembus batas kota menuju SPBU Daya di Kota Makassar.
Suryadi memarkirkan sepeda motor matic-nya yang mengangkut boks berisi alat penyemprot pupuk dan hama. “Sebelum ada penyalur resmi di dekat sini, saya memang sudah membiasakan pakai Pertamax. Pernah mencoba kembali ke BBM oktan rendah, tetapi terasa beda sekali. Motor jauh lebih stabil dan tarikannya responsif saat membawa beban berat,” tuturnya.
Suryadi juga memperlihatkan pemahaman ekologis yang baik, sebuah potret literasi energi warga akar rumput. “Sebagai petani, kami tidak mungkin lepas dari kendaraan dan alat mesin pertanian (alsintan). Tapi kami bisa memilih mengurangi emisi gas buang dengan memakai BBM yang lebih ramah lingkungan,” timpalnya.
Efisiensi Pembakaran dan Penurunan Emisi Karbon
Pilihan para petani di Maros ini sejalan dengan kaidah teknis konversi energi. Pakar teknik otomotif dan konversi energi Dr. Eng. Ir. Jalaluddin, S.T., M.T., menjelaskan, kesadaran petani menggunakan BBM beroktan 92 merupakan langkah tepat untuk efisiensi operasional dan perlindungan lingkungan pedesaan.
“BBM beroktan 92 yang dilengkapi aditif pembersih, mampu mencegah dan melarutkan penumpukan deposit karbon pada intake valve dan ruang bakar. Untuk kendaraan maupun mesin operasional pertanian yang sering bekerja ekstra dengan beban tinggi, bahan bakar berkualitas tinggi menghasilkan pembakaran sempurna,” jelas Jalaluddin.
Secara teknis, pembakaran sempurna meminimalkan pemicu knocking (mesin ngelitik), menghemat konsumsi BBM hingga 5–8 persen, serta menekan emisi gas buang berbahaya seperti Karbon Monoksida (CO) dan Hidrokarbon (HC) hingga lebih dari 20 persen di lingkungan pertanian pedesaan.
Pengawasan Digital & Inovasi Rantai Pasok
Literasi masyarakat desa yang kian tinggi terhadap energi berkualitas berbanding lurus dengan komitmen penjaminan mutu dari PT Pertamina Patra Niaga. Di balik nozzle dispenser yang mengucurkan Pertamax ke tangki motor petani Maros, terdapat rantai inovasi teknologi digital yang bekerja tanpa henti.
Melalui sistem pemantauan terintegrasi Pertamina Integrated Enterprise Data and Command Center (PIEDCC) dan modernisasi armada Red Logistics, Pertamina memantau pergerakan mobil tangki dan kualitas BBM secara real-time berbasis GPS dan sensor digital sejak keluar dari Integrated Terminal (IT) Makassar hingga ke titik serah konsumen pedesaan.
Area Manager Communication, Relations & CSR Pertamina Patra Niaga Regional Sulawesi, Lilik Hardiyanto, menegaskan, penjaminan mutu dan kelancaran distribusi BBM ramah lingkungan di Sulawesi menjadi prioritas utama.
“Pemerataan akses BBM berkualitas hingga ke level perdesaan merupakan bagian komitmen kami dalam menjamin ketersediaan energi yang equitable dan berwawasan lingkungan di Sulawesi. Kami terus mendorong digitalisasi rantai pasok dan pemantauan distribusi secara terintegrasi agar produk BBM berkualitas tinggi seperti Pertamax dapat dinikmati masyarakat perdesaan dengan standar mutu, harga, dan ketersediaan yang sama persis seperti di perkotaan,” ujar Lilik.
Sejalan dengan hal tersebut, Corporate Secretary PT Pertamina Patra Niaga, Roberth MV Dumatubun, menegaskan bahwa spesifikasi produk yang diterima masyarakat konsisten mematuhi ketentuan teknis pemerintah di angka RON 92.
“Produk yang masuk ke terminal BBM Pertamina merupakan produk jadi yang sesuai dengan standar spesifikasi Ditjen Migas. Penambahan formula aditif khusus difungsikan untuk meningkatkan performa mesin serta menjaga kebersihan ruang bakar. Kami memastikan seluruh rantai pasok mematuhi prosedur kontrol kualitas ketat (Zero Tolerance) agar masyarakat hingga tingkat desa mendapatkan bahan bakar berkualitas terbaik,” ungkap Roberth.
Transparansi dan Aksesibilitas Keberlanjutan
Keterbukaan tata kelola dan pengawasan ketat ini diperkuat lewat sinergi audit independen secara berkala bersama Lemigas Kementerian ESDM untuk memastikan perlindungan konsumen dan menjaga standar kualitas produk di lapangan.
Direktur Utama PT Pertamina (Persero), Simon Aloysius Mantiri, menyatakan komitmen perusahaan dalam menjalankan operasional yang transparan, akuntabel, dan berorientasi pada keberlanjutan.
“Uji petik (sampling) kualitas produk BBM Pertamina dilakukan secara berkala dan rutin di SPBU maupun titik penyalur oleh pihak independen Lemigas. Hasil pengujian mengonfirmasi bahwa spesifikasi teknis produk yang disalurkan mematuhi standar Ditjen Migas Kementerian ESDM,” tegas Simon.
Pertamina juga memperluas kanal partisipasi publik melalui Call Center 135 dan aplikasi MyPertamina guna memastikan respon cepat atas kebutuhan energi masyarakat.
Kemudahan akses BBM berkualitas di pedesaan Maros tak sekadar menggerakkan roda ekonomi pertanian dan menghemat biaya perawatan alat kerja warga. Lebih dari itu, literasi energi dari Moncongloe hingga Tompobulu menandai babak baru kesadaran ekologis dari desa. Membuktikan bahwa kemandirian pangan, efisiensi ekonomi, dan transisi energi bersih dapat berjalan selaras dari sudut terdepan Nusantara. (imam dzulkifli)











