Ibu di Luwu Ini Digugat Anak Kandungnya, Ini Masalahnya…

  • Whatsapp
Agustina Sattu, saat ditemui di Pengadilan Negeri Belopa
4

BELOPA — Agustina Sattu (77) warga Dusun Lare-lare, Desa Lare-lare Kecamatan Bua, Kabupaten Luwu, ini tak dapat menyembunyikan kesedihannya.

Tiga orang anak kandungnya yang seharusnya menjaga dan menyayangi di hari tuanya justru menggugatnya ke Pengadilan Negeri Belopa, Kabupaten Luwu.

Bacaan Lainnya

” Saya menjual sawah warisan untuk memperbaiki rumah. Nilainya Rp 60 juta. Anak saya tidak terima dan menggugat ke pengadilan,” katanya saat ditemui di PN Belopa, Kamis (25/06/2020).

Agustina Sattu memiliki 8 anak kandung dari hasil perkawinan dengan Andarias Pasuba yang sudah meninggal beberapa waktu lalu. Yang menggugatnya adalah anak kandung 1,3 dan 4.

Ketiga anaknya ini menganggap sawah warisan tersebut dijual secara diam-diam oleh ibunya. Selain ibunya, turut digugat adalah Agustina Pasuba (anak kedua) dan Hermin Munda (pembeli).

Lokasi persawahan yang dijual di Desa Lare-lare pada 2019 silam. Kasus ini sebenarnya sudah dibicarakan oleh pemerintah desa Lare-lare. Hanya saja, tidak ada penyelesaian.

” Biar bagaimana pun mereka adalah anak kandung saya. Saya tak menyangka mereka menggugat saya. Padahal, awalnya sudah saya sampaikan mau menjual sawah mereka setuju. Belakangan malah menggugat,” katanya sedih.

Kasus gugatan anak ke ibu kandung ini sementara bergulir di PN Belopa, Luwu. Bertindak sebagai pengacara penggugat adalah Karel Roni Pakambanan, SH, MH.

Karel Roni yang dihubungi menjelaskan, gugatan kepada ibu kandung dari tiga anaknya itu bukan bermaksud untuk mempermalukan atau membayar sesuatu. Tetapi, semata-mata menuntut agar jual beli itu dibatalkan.

” Jadi tidak ada maksud sama sekali mempermalukan ibunya. Mereka hanya berniat agar tanah warisan itu kembali seperti semula. Menjadi milik bersama,” katanya saat dihubungi via telepon.

Karel mengungkapkan, suami sekaligus bapak dari 8 anak yang meninggal beberapa waktu, meninggalkan warisan berupa tanah persawahan dan tanah pekarangan rumah di Desa Lare-lare.

” 9 orang termasuk ibu dan 8 anak adalah ahli waris. Mereka membuat kesepakatan secara tertulis tidak boleh menjual atau memindah tangankan warisan tersebut tanpa sepengetahuan ahli waris lainnya,” katanya.

Namun, kata dia dalam perjalanannya, sang ibu beserta seorang anaknya menjual secara diam-diam tanah warisan tersebut.

” Inilah yang tidak diterima oleh ahli waris lainnya. Tiga orang anaknya yang menggugat ini hanya atas nama di pengadilan. Anak-anak lainnya juga tidak setuju tanah dijual,” ungkapnya.

Sebelum sampai ke pengadilan, perkara tersebut pernah dibicarakan di tingkat desa. Sang ibu mengaku menjual tanah untuk membangun rumah.

” Anaknya setuju. Dengan catatan rumah tersebut dibuat 8 kamar supaya adil dan menjadi rumah bersama. Tetapi, ibunya tidak setuju. Karena kesepakatan tidak tercapai di tingkat desa makanya berlanjut ke pengadilan,” tandasnya. (fit)

Pos terkait