Kekerasan dan Pelecehan Anak di Kutim Naik, DP3A Sebut Pemahaman Masyarakat Makin Tinggi

Kepala UPT DP3A Kutim, Lisa Ariani dan Kepala DP3A Kutim, Idham Cholid.

KUTIM – Kasus kekerasan dan pelecehan anak di Kutai Timur (Kutim) naik. Angka itu didapatkan dari perbandingan tahun ini dengan tahun lalu.

Dalam catatan Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Kutim, sebanyak 29 kasus yang dialami anak sejak Januari hingga April tahun ini. Data itu merupakan hasil dari gabungan beberapa kasus yang terjadi di Kutai Timur.

Bacaan Lainnya

“Jadi itu seperti pelecehan seksual gitu kan ada beberapa jenis seperti pencabulan, jadi semua itu kita gabungkan,” ungkap Unit Pelaksana Teknis (UPT) DP3A Kutim, Lisa Ariani.

Dia juga membeberkan dari data tersebut terdapat dua kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT).

“Pasti meningkat karena tahun 2023 kemarin dari Januari ke Desember itu sekitar 45 kasus, sementara tahun ini hingga bulan April sudah ada 29. Kami mungkinkan untuk ke Desembernya akan lebih banyak lagi,” jelasnya.

Sementara Kepala DP3A Kutim, Idam Cholid mengungkapkan pihaknya sudah melakukan berbagai cara untuk menekan kasus tersebut. Upaya yang mereka lakukan beragam, seperti sosialisasi, pelatihan hingga melibatkan masyarakat juga telah mereka lakukan.

“Sudah banyak yang kita lakukan, seperti sosialisasi, pelatihan aktivis perlindungan anak terpadu berbasis masyarakat (PATBM) di setiap kecamatan, ada parenting. Pokoknya macam-macam lah kegiatan yang kita lakukan,” ujarnya.

Meski belum mendapat hasil yang memuaskan, Idham terus berupaya agar angka kekerasan dan pelecehan terhadap anak di bawah umur dapat menurun. Dia juga meminta peran serta masyarakat untuk melakukan pencegahan terhadap kasus itu.

“Jadi kalau ada tetangganya yang seperti itu, masyarakat cepat tanggap gitu loh mau melakukan apa, atau melapornya kemana,” harapnya.

Idam mengatakan tingginya kasus yang tercatat di DP3A akibat kesadaran dan pemahaman masyarakat yang tinggi. Sehingga mereka semakin paham mengenai kekerasan dan pelecehan anak.

“Selama ini mungkin jumlahnya lebih besar, kita tidak tahu karena tidak ada yang melapor, sekarang mereka semakin paham jadi banyak yang melapor,” ungkap Idam.

Untuk itu, dia mengapresiasi peran serta masyarakat untuk membantu DP3A Kutim dalam melindungi anak dari perilaku kekerasan dan pelecehan. (adv)

Pos terkait