Sinkron Program Kakao Lanjutan, Pemkab Lutra Bertemu Dua Lembaga Internasional

  • Whatsapp
3

LUTRA – Sekretaris Daerah Kabupaten Luwu Utara, Armiadi memimpin pertemuan dengan Lembaga Internasional yakni ICRAFT dan Rainforest Alliance, Rabu (16/12/2020) yang turut dihadiri Kepala Bappeda Rusydi Rasyid,  Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Alauddin Sukri dan Kepala Bidang Perkebunan Luwu Utara Iswanu Priharsanto.

Pertemuan yang berlangsung di Command Center Kantor Bupati Luwu Utara  ini bertujuan mensinkronkan program kakao berkelanjutan di Kabupaten Luwu Utara.

Bacaan Lainnya

“Kami bangga dan berterima kasih atas kepercayaan dari Lembaga donor melalui IFAD, dan Lembaga Internasional yang telah menetapkan dan memilih Luwu Utara sebagai lokasi implementasi program bersama dengan daerah lain yang ada di Indonesia. Luwu utara sebagai penghasil kakao di Sulawesi Selatan akan siap mendukung peningkatan produksi  kakao yang sebelumnya telah terjadi penurunan luas lahan dan produksi akibat serangan hama PBK yang melanda petani kita,” terang Armiadi, yang juga Mantan Kepala DKP ini.

Lebih lanjut, Armiadi menuturkan, sejak 2015 hingga 2019, Luwu Utara sudah mengalami peningkatan  10,48 persen dan produksi juga setelah meningkat sebesar 26,04 persen dan produktifitas juga meningkat dari 990 kg/Ha menjadi 1005 kg/Ha.

“Hal ini tentu tidak terlepas dari kerja kolektif antara Petani, Pendamping kakao, Lembaga lain dan sector privat yang Bersama sama membantu pemerintah dalam mengembangkan dan memulihkan kondisi produksi kakao di Luwu Utara,” pungkasnya.

Pada kesempatan yang sama melalui online meeting, turut berbicara dari ICRAFT oleh Dr. Betha Lusiana dan Hasrun Hafid dari Rainforest Alliance. ICRAFT merupakan Lembaga riset dengan kantor pusat ICRAF berada di Nairobi, Kenya, dengan 5 kantor wilayah di Cameroon, India, Indonesia, Kenya and Peru.

Dr.Betha Lusiana menjelaskan bahwa kesempatan untuk membawa program ke Luwu Utara adalah pilihan yang tepat di tengah upaya pemerintah untuk mempercepat pemulihan sector pertanian dan perkebunan pasca bencana.

“Sebagai lembaga yang fokus pada penelitian di sektor tersebut, maka kita akan mendorong pengkajian dan penerapan implementasi prinsip pertanian yang baik dengan meningkatkan dukungan jasa lingkungan sehingga konsep budidaya kakao di Luwu Utara dapat ramah petani dan ramah lingkungan. Di Luwu Utara, menjadi lokasi program SFITAL. SFITAL didanai oleh IFAD selama 5 tahun pada periode tahun 2020-2025, bekerjasama dengan Rainforest Alliance dan MARS. SFITAL berkomitmen untuk mendukung petani dalam melaksanakan pertanian kakao dan kelapa sawit yang berkelanjutan dan meningkatkan akses petani ke pasar global dengan mendorong terbentuknya kemitraan yang setara antara petani, sektor publik, dan swasta.  SFITAL akan bekerja sama dengan : 1. Petani/produsen kecil untuk meningkatkan resiliensi, penghidupan dan produktifitas lahan serta akses ke skema kemitraan yang setara; 2. UMKM untuk meningkatkan keterampilan, akses finansial, teknologi, pasar dan informasi. 3. Pemerintah Kabupaten untuk mendukung pembangunan hijau berdasarkan perencanaan wilayah yang inklusif dan integratif 4. Pemerintah Pusat dan Lembaga Nasional untuk menyusun kebijakan yang mendukung pengembangan standar keberlanjutan dan rantai komoditas hijau,” papar Dr. Betha.

Hasrun Hafid dari Rainforest Alliance menjelaskan bahwa sebagai organisasi non-pemerintah internasional yang berbasis di New York City dan Amsterdam, dan beroperasi di lebih dari 60 negara dimana Rainforest Alliance bekerja untuk melestarikan keanekaragaman hayati dan kelangsungan ekologis dengan mengawasi praktek-praktek penggunaan lahan. Luwu Utara mendapat banyak dukungan untuk peningkatan produksi kakao, hal ini didukung dengan hadirnya sejumlah pelaku usaha kakao baik tingkatan lokal, multinasional, serta projek yang sedang berlansung melalui dukungan Lembaga donor seperti IFAD melalui program Readsi.

“Pada projek SFITAl juga didukung oleh IFAD dalam bentuk Hibah dan dukungan dari mitra seperti ICRAFT dan Mars, maka kita mengharapkan peluang untuk meningkatkan produktifitas kebun kakao bisa kita tingkatkan baik dari segi mutu dan produksi. Masih banyak kasus yang kita dapati di beberapa lokasi yang ada di Luwu Utara, seperti kasus di Sabbang Selatan yakni Mari-mari dan Bone Subur dimana didapati mutu yang baik tetapi produksi kurang. Penurunan produksi akibat dilakukan replanting,  Dua lokasi ini merupakan hamparan besar yang ada di Sabbang selatan. Mutu baik karena sebagian tanaman yang produksi adalah tanaman baru dari klonal/SS-Mcc02. Di desa Terpedo Jaya dan Tete uri. Sementara di Kecamatan Sukamaju, dimana mutu dan produksi kurang oleh karena tanaman tua, alih fungsi lahan di Desa Kaluku, Wonosari dan Katulungan, kakao ke palawija dan sawah dan beberapa kasus lain pada desa-desa penghasil kakao di Luwu Utara,” jelanya.
  
Sementara itu, Kepala Bappeda, Rusydi Rasyid dalam presentasinya juga menjelaskan bahwa kebijakan pemerintah dalam mendukung pengembangan tanaman kakao di Luwu utara yaitu menjadi prioritas utama dalam program pembangunan, penganggaran yang berpihak pada petani kakao seperti penyediaan bibit, sarana produksi dan infrastruktur pada kantong produksi.

“Selain itu membangun kebun entrees kakao di Desa Batu Alang dan Desa Marobo. Membangun Sumber benih batang bawah di Desa Bakka. Melakukan peremajaan kakao dan juga mendukung program Readsi dalam pemberdayaan petani serta program lain untuk kepentingan petani kakao seperti SFITAL. Setelah kegiatan pertemuan awal ini, maka kegiatan berikutnya akan ditindaklanjuti dengan MoU atau pendatanganan nota kesepahaman antara Pemerintah Daerah Kabupaten Luwu utara Bersama dengan Lembaga tersebut pada Januari 2021, mendatang,” tutup Rusydi. (hms)

Pos terkait