OPINI : Polisi ” Gila”

Oleh : Muhammad Nursaleh

Rambut gimbalnya sampai menyentuh tanah. Begitu kaku dan terlihat hitam telah  tenggelam oleh uban. Ia mengenakan celana cingkrang yang kehilangan warna karena usia. Sepaket kaus yang gambarnya masih cukup jelas bisa diterka meskipun mengelupas. Gambar Reog.

Bacaan Lainnya

Tampang lelaki ini sangat mirip dengan satu wajah paranormal yang telah insyaf.

Di tempat lain, seorang lelaki duduk di tepi kali kecil. Rambutnya tidak sepanjang yang pertama. Hanya sebahu.  Tapi gimbal juga. Lengan kausnya terpotong sebelah.  Pergelangan tangan dan kaki dipenuhi lilitan tali warna-warni dan beragam besi. Sangat banyak. Menumpuk tak karuan.  Jemarinya penuh cincin, bahkan sudah sampai melukai. Bengkak dan bernanah.

Dua lelaki yang saya gambarkan di atas ada dalam  tayangan pada satu halaman facebook yang sudah sebulan membuat saya kepincut, mencuri sebagian waktu malam di pembaringan. Sangat menggugah, mengulas penanganan orang gila yang sekarang sebutannya lebih manusiawi dan rada keren. ODGJ. Kalau dipanjangkan, Orang Dengan Gangguan Jiwa.  Halaman itu menampilkan rupa ODGJ dengan segala pernak pernik hidup yang dijalani sebagai sosok terkucil yang sampai hari ini masih dijadikan obat paling mujarab untuk menakut-nakuti anak kecil.

Ada satu tokoh utama di dalamnya. Ia bukan dokter jiwa. Bukan barisan paramedis. Bukan politisi kambuhan yang tiba-tiba peduli segala masalah menjelang dulang suara. Bukan paranormal. Bukan pula dukun kampung. Ia seorang polisi.

Polisi yang sehari-hari selain bertugas normalnya kerja seorang polisi, di sisi lain di jalan, di emperan toko, di ruang-ruang sepi ia pun hadir.  “Bertarung”  hanya demi menunjukkan sejatinya kemanusiaan dilekatkan pada siapa saja yang disebut manusia walau sedang mengalami gangguan jiwa.  Seorang polisi yang sedang hidup dalam keresahan seorang Nelson Mandela yang memandang penolakan pada pemenuhan hak asasi manusia berarti menantang kemanusiaan itu sendiri. Polisi yang tak tega membiarkan seseorang berada dalam penderitaan dengan kelaparan dan hidup yang penuh kekurangan.

Polisi itu tak sungkan-sungkan memeluk orang gila. Menciumnya, malah. Memotong rambut dan kuku sekalian memandikan. Memberi pakaian baru. Mengajak makan dan terus berusaha bersambung rasa, berkomunikasi meskipun jawaban yang ia terima dominan mengarah ke kiri, tak sesuai bahkan tanpa jawaban sama sekali.  Tak hanya sampai di situ,  polisi ini juga menyiapkan rumah khusus untuk menampung orang-orang gila yang tingkat harapan sembuh masih besar.

Saya pernah menonton satu tayangan khusus yang bercerita soal  rumah itu. Isinya tak jauh beda dengan rumah kebanyakan. Hanya ada satu yang unik. Di salah satu kamar, menyimpan banyak potongan rambut, tumpukan barang dan aksesoris yang dulu melekat pada tubuh orang-orang gila yang ditangani.  Kata pak polisi ;  kelak bila tuhan izinkan di depan kamar itu nantinya mereka akan tertawa dari sedih dan perih yang pernah ada. Doakan saja mereka sembuh.

Rasa-rasanya sudah pantas menyebut polisi itu Polisi  “Gila”. Gila dalam arti ia telah berani melakukan hal besar dalam hidup, memotret kemanusiaan dari sudut yang dianggap mustahil, sesuatu yang langka bahkan dalam takaran pelayanan jauh mengalahkan seorang dokter jiwa. Polisi yang ikhlas merelakan waktu dan uangnya dikuras untuk urusan yang di mata kita, manusia yang katanya waras menganggap itu sesuatu yang gila. Seolah-olah tak ada kerjaan.

Tapi fakta tetaplah fakta. Ia tak bisa dibuat kabur apalagi dikubur. Faktanya, di negeri ini ternyata ada seorang polisi yang serius urus orang gila. Memanusiakan banyak ODGJ.

Tapi yang terjadi di daerah saya, Kecamatan Belopa, Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan, berbeda adanya. Ada polisi yang dianggap mengalami gangguan jiwa. Dianggap gila lalu ditangkap. Atau saya perhalus bahasanya, diamankan polisi. Jadinya, polisi mengamankan polisi. Ini antara polisi yang menyebut dirinya waras dan polisi yang diduga mengalami gangguan jiwa. Polisi sehat mengamankan polisi sakit. Tak masalah, itu hal yang wajar. Sudah bagian dari tugas. Mengamankan.

Justru cerita dibalik polisi ketemu polisi ini yang menarik. Polisi yang diduga gila ini melakukan aksi vandalisme di kantornya sendiri. Mencorat- coret kantor dan mobil dinas dengan tulisan SARANG PUNGLI SARANG KORUPSI serta RAJA PUNGLI.

Alamak ! Adakah ini manifestasi kekecewaan yang bisa saja secara sadar dilakukan pada kantor yang dinilainya tak lagi sesuai dengan mimpi-mimpinya seperti apa yang tertuang dalam Tribrata. Saya tidak sedang menuduh apalagi menyakini  apa yang ditulis polisi yang dianggap gila ini benar adanya alias terjadi di kantor itu. Sama sekali tidak.

Toh tak ada salahnya menganggap ini jalan  menuju pintu masuk untuk menguak  kebenaran yang datangnya dari seorang polisi yang dianggap gila.

Ataukah ini hanya sekadar pelampiasan yang kita nilai sama seperti ODGJ lainnya yang mengikat apa saja di tangan dan lehernya lalu ramai-ramai kita sepakat menyebutnya gila. Gangguan jiwa.

Sudah dua bulan ini institusi kepolisian menjadi sorotan sejak Sambo bikin heboh. Insitusi ditelanjangi. Pungli bagi saya lagu lama. Barunya, sesuai rilis banyak media ada konsorsium judi 303 yang melibatkan banyak petinggi sampai pada soal mobil, motor gede dan tas ibu-ibu bhayangkari yang membuat  Presiden bereaksi.

“Saya ingatkan yang namanya Polres, Kapolres, yang namanya Kapolda, yang namanya seluruh pejabat utama, perwira tinggi, ngerem total masalah gaya hidup. Jangan gagah-gagahan karena merasa punya mobil bagus, atau motor gede yang bagus, hati-hati, hati-hati, saya ingatkan hati-hati, ” kata Jokowi di Istana Negara, Jakarta, Jumat (14/10).

Jika yang ditulis polisi yang dianggap mengalami gangguan jiwa itu adalah sebuah kebenaran, mungkin saja itu cara  tuhan yang sudah enggan menitip amanah di kepala setiap manusia yang waras untuk mengungkap sebuah kebenaran. Tuhan sedang membutuhkan orang gila untuk berani mengungkap apa yang selama ini tersembunyi. Mungkin juga tuhan sudah jenuh pada orang waras yang memilih cari aman ketimbang berurusan dengan pihak pengamanan karena berani bersuara, menguak kebenaran.

Atau Tuhan sudah menganggap orang waras  sebagai orang gila yang sebenar-benarnya gila. Hanya kita saja yang tidak menyadari bahwa kitalah yang gila.

Orang yang katanya waras pasti tahu, memberi dan menerima sesuatu berupa materi hanya untuk memperlancar urusan, tahu bahwa itu telah melanggar apa yang sudah diatur, tapi tampak tenang-tenang saja, bukankah itu suatu kegilaan ? Berusaha mengaburkan kebenaran, menutupi kesalahan dengan segala macam trik intrik, mengambil sesuatu yang bukan menjadi hak, saya pikir orang gila lebih jujur.

Saya belum pernah menemukan ada orang gila yang mencuri. Kalau pun ada, sifatnya hanya kasuistik. Tidak serta-merta  stigma melekat bahwa semua orang gila adalah pencuri. Orang gila pun jarang meminta, kecuali diberi. Orang gila lebih memilih mengorek-ngorek tong sampah untuk bertahan hidup ketimbang melakukan perbuatan melawan hukum.

Manusia normal ? Manusia waras seperti kita yang diberi rezeki berkelebihan tapi masih mencuri, menipu, korupsi dan lain sebagainya. Di sekeliling banyak secara pandangan umum sudah sangat ‘wah’ hidupnya, menerima gaji dari negara. Sayang, mereka tidak malu-malu masih meminta ‘imbalan’ yang menjelma menjadi budaya. Suap, uang pelicin sudah dianggap lumrah.

Sekarang, siapa lebih gila ?

Saya punya cerita ilustrasi yang saya ambil dari sebuah media citizen journalism.

“Ada orang gila yang selalu cengar-cengir sendiri. Suatu ketika si gila menemukan sebuah pisang yang terjatuh di atas tanah. Si gila dengan serta merta karena laparnya, diambillah pisang tersebut,  kulitnya dibuka lantas dimakan.

Aksi itu terliha orang-orang waras. Mereka menggelengkan kepala seraya berkata : “ Dasar orang gila, pisang ada tanahnya dimakan. Itu, namanya sama juga makan tanah “. Kata orang waras.

Tetapi tanpa diduga si gila pun menjawab : “ Saya si gila makan tanah sebatas apa yang melekat di pisang. Tapi anda orang-orang waras yang pintar, mampu memakan tanah ribuan hektar tanah milik orang lain. Sekarang, mana yang lebih gila , saya ataukah tuan ? (*)

Belopa, 17 Oktober 2022











Pos terkait