Unit Bencana KSPSI Luwu Ingatkan Terkait Potensi Bencana Sungai Bua-Pakkalolo’

  • Whatsapp

LUWU — Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (KSPSI) Kabupaten Luwu, tidak hanya aktif dalam memberikan perlindungan serta edukasi ketenagakerjaan kepada para anggotanya. Tetapi juga aktif dalam aksi sosial dan kemanusiaan. Salah satunya penanganan pra dan pasca bencana.

Melihat tingginya potensi bencana di Kabupaten Luwu, Organisasi yang diketuai, Hidayat Jaya ini mengingatkan jajaran Pemerintah Kabupaten Luwu, khususnya di tingkat pemerintahan kecamatan dan desa di Bua agar bergerak cepat. Apalagi Kecamatan Bua memiliki dua sungai besar.

Bacaan Lainnya

Ketua KSPSI Luwu, Hidayat Jaya menegaskan bahwa berkiblat pada musibah banjir bandang yang melanda Kabupaten Luwu Utara, Pemerintah Kabupaten Luwu dari tingkat desa sampai kabupaten secapatnya bergerak.

“Tidak ada yang pernah menyangka Sungai Radda dan Sungai Masamba bisa banjir bandang jika melihat debit airnya selama ini. Di Bua, setidaknya ada dua sungai besar. Ini potensi menimbulkan bencana yang besar pula jika tidak cepat diambil langkah strategis dan tegas,” tutur Hidayat, Minggu (19/7/2020).

Pengelolaan kawasan hutan, sebutnya, bisa mengkolaborasikan kearifan lokal dan hasil kajian akademik.

“Kita ketahui bersama bahwa kejadian tanah longsor seringkali terjadi di beberapa daerah di Indonesia dan tak sedikit korban yang tewas karenanya. Salah satu yang terbesar dan terjadi di Tana Luwu adalah banjir bandang Luwu Utara kemarin. Inilah sebabnya perlu dilakukan upaya dan strategi penanggulangan tanah longsor. Sebab, banjir bandang karena adanya tanah longsor. Salah satu strateginya adalah aktif penanaman pohon kayu dan sagu serta memberikan pengawasan dan pendampingan tentang pengelolaan kawasan hutan rakyat di hulu dan lereng gurung yang tidak hanya menyejahterakan tapi juga tidak menimbulkan bencana alam,” sebut salah satu tokoh pemuda Kecamatan Bua ini.

Mengutip penelitian sejumlah ahli, Hidayat menambahkan bahwa cara yang dapat dilakukan dalam mencegah bencana tanah longsor adalah menghindari pembangunan pemukiman di daerah di bawah lereng yang rawan terjadi tanah longsor, mengurangi tingkat keterjangan lereng dengan pengolahan lahan terasering di kawasan lereng, menjaga drainese lereng yang baik untuk menghindarkan air mengalir dari dalam lereng keluar lereng, pembuatan bangunan penahan supaya tidak terjadi pergerakan tanah penyebab longsor, penanaman pohon yang mempunyai perakaran yang dalam dan jarak tanam yang tidak terlalu rapat diantaranya di seling-selingi tanaman pendek yang bisa menjaga drainase air, relokasi daerah rawan longsor, meskipun butuh dana besar, sebab ini adalah upaya penting yang harus dilakukan pemerintah ketika ancaman bencana bisa merenggut nyawa dan kerugian yang besar, warning system atau teknologi peringatan bencana longsor dengan menciptkan alat-alat pendeteksi pergerakan tanah yang berisiko akan longsor di daerah-dareh longsor. Peringatan sebelum longsor bisa dilakukan kepada warga untuk melakukan tindakan mitigasi bencana.

“Upaya penanggulangan tanah longsor seperti halnya banjir, harus terintegrasi antara tindakan masyarakat yang bermukim di area rawan longsor dengan pemerintah setempat. Baik di hulu, yang hidup di bantaran sungai, maupun yang berada di muara,” tandas Hidayat. (rls)

Pos terkait