OPINI : Pilkada Dan Bencana

  • Whatsapp
11

Oleh : Samsul Alam (Direktur SErasi Institute)

NIAT tulus manusia dari berbagai belahan indonesia di awal pasca-kejadian sungguh sangat mengharukan yang membuat mata berbinar-binar.

Bacaan Lainnya

Lutra masih berantakan, dengan suasana muram dan sedih serta onggokan kayu, lumpur pasir dan mayat yang tertimbun. Orang-orang yang menonton tayangan di televisi tentang dahsyatnya banjir bandang luwu utara, hasil rekaman warga korban, tergerak menyumbangkan apa saja yang mereka miliki. Uang, barang, waktu, tenaga, keahlian, bahkan hingga doa yang tulus.

Menyusuri jalan kampung untuk bisa menembus daerah yang “terisolir” agar dapat menjumpai korban dan bantuan dapat tersalurkan. Suatu pemandangan filantropik yang sungguh sangat mengagumkan dan mengharukan.
solidaritas tanpa batas yang berlangsung di masyarakat bawah, kaum muda yang tanpa letih menggalang dana, para relawan yang datang bagai debu.

Sebulan telah berlalu, perlahan dan pasti, selangkah demi selangkah masyarakat mulai bangkit membenahi hidup menatap hari esok, mengais lumpur yang menimbun tempat tinggal mereka dengan penuh harap ada yang masih bisa ditemukan meskipun hanya sekedar lembaran identitas.

Bencana banjir bandang telah mengungkap betapa rapuhnya kehidupan kita dihadapan alam raya. Bagi kita yang berada dijazirah tana luwu kita seperti hidup dalam undian dari geografi ring of fire dengan kerentanan sangat tinggi terpapar bencana alam banjir bandang karena hulu sungai adalah jejeran gunung yang telah banyak terjamah manusia. Itu artinya kerusakan hulu akan berdampak langsung terhadap kehidupan dibagian dataran rendah dan daerah hilir.

Namun demikian dengan mengungkap kerapuhan, bencana banjir bandang ini bisa menawarkan kesempatan untuk membuat hidup lebih tidak berbahaya dan membangun institusi sosial yang kuat dan berpikir lebih bebas untuk mempertimbangkan bukan tempat yang mungkin – tetapi kemungkinan membangun wilayah hunian baru yang nyaman dan aman kita harapkan dimasa yang akan datang.

Bencana Sebagai Wahana Evaluasi

Ditengah himpitan dua jenis bencana yaitu bencana banjir bandang (bencana alam) dan pandemi covid-19 (bencana non alam) berlangsung pelaksanaan pemilihan kepala daerah (Pilkada)
Dengan bencana ini masyarakat memiliki pengetahuan untuk lebih jernih menilai pemimpin yang ada sekarang (petahan) baik kemampuan teknis- manajerial, maupun kemampuan kepemimpinan lainnya seperti kesesuaian antara apa yang pernah dijanjikan dan diucapkan dengan yang dilaksanakannya.

Bencana ini menjadi wahana evaluatif bagi yang sedang berkuasa, “kehebatannya” yang provokasikan diberbagai media dengan bingkai imagologi dengan bumbu dan jargon-jargon filosofis dengan formulasi moralistik sudah saatnya dikonfrontasikan dengan fakta lapangan, bagaimana ia mengambil langkah-langkah taktis dan strategis menghadapi bencana dan pasca bencana. Bagaimana mengorganisir seluruh sumber daya yang dimiliki untuk menyelamatkan warga dari bencana, membangun empati yang dimanifestasikan dalam tindakan-tindakan nyata.

Bencana menjadi alat ukur yang gamblang dan terbuka bagi masyarakat untuk melihat dan menilai kapasitas petahana. Bencana bahkan menjadi semacam moment of truth untuk menilai kualitas kepemimpinan petahana termasuk yang mau mencalonkan diri sebagai kepala daerah.

Pilkada yang dilaksanakan ditengah bencana juga mesti diawasi secara ketat. Doktrin perebutan kekuasaan yang telah jatuh pada dalil “menghalalkan segala cara” memungkinkan bencana dimanfaatkan untuk kebutuhan elektoral, beroperasi di masa kekacauan, untuk memanfaatkan kerusakan akibat bencana dan cara pendistribusian bantuan bencana yang terkumpul dari para dermawan rentan dimanipulasi untuk menghasilkan keuntungan politik.

Bagi penantang, sebaliknya mampu membangun harapan melalui visi yang bersesuaian dengan kondisi daerah, berbagai asumsi dan pendapat tentang kerentanan wilayah dari terjangan banjir bandang adalah salah satu masalah yang mampu ditangani secara utuh bahkan holistik.

Kecemasan yang meningkat dimasyarakat dengan melihat eskalasi banjir bandang masamba-radda harus bisa diobati melalui visi dan program-program yang berkaitan dengan wilayah hulu secara menyeluruh dan permanen. Curah hujan yang tinggi di daerah ini harus menjadi berkah bagi kehidupan masyarakat karena itu kebutuhan akan konsep pengelolaan daerah hulu menjadi wajib bagi seluruh bakal calon yang bisa diuji secara akademik dan secara politik dapat dilaksanakan.

Dengan demikian politik pencitraan yang selama ini menjadi instrumen mengelabui untuk mengeruk ceruk pemilih secara tidak bertanggungjawab sudah harus dihancurkan dan digantikan dengan budaya politik otentik yang membawa visi yang dapat ditagih dikemudian hari.

Jika itu bisa diciptakan maka sisi esoteris kekuasaan sebagai penyelamat harapan dapat diwujudkan karena pilkada telah menjadi wahana deliberatif untuk mengikat janji secara jujur. (*)

Pos terkait