Pendiri Kompas Gramedia Tutup Usia

  • Whatsapp
53

JAKARTA – Pendiri Kompas Gramedia Jakob Oetama tutup usia. Jakob meninggal di usia 88 tahun. “Iya betul,” ujar Pemimpin Redaksi Harian Kompas Sutta Dharmasaputra menjawab pertanyaan soal kabar meninggalnya Jakob Utama, Rabu (9/9/2020) seperti dilansir ritmee.co.id dari Detikcom.

Mengutip kompas.id, Dr (HC) Jakob Oetama adalah wartawan dan salah satu pendiri Surat Kabar Kompas. Saat ini ia merupakan Presiden Direktur Kelompok Kompas-Gramedia.

Sebelum mendirikan Kompas, Jakob Oetama merupakan redaktur mingguan “Penabur”dan PK Ojong pemimpin redaksi mingguan “Star Weekly”.

Dikutip dalam buku ‘Syukur Tiada Akhir: Jejak Langkah Jakob Oetama’ oleh St Sularto menyebutkan bahwa awalnya Jakob Oetama bercita-cita ingin menjadi pastor. Maka setelah lulus Sekolah Menengah Pertama (SMP) Pangudi Luhur, Yogyakarta di tahun 1945 ia masuk seminari menengah di Yogyakarta, jenjang terendah dalam proses pendidikan calon imam Katolik.

Lulus pada 1952, Jacob sempat mengikuti pendidikan lanjutan di seminari tinggi. Namun hanya tiga bulan berada di asrama Jakob memutuskan untuk mundur.

Jakob Oetama memulai karier pada tahun 1950 dengan mengajar di beberapa sekolah mengikuti jejak ayahnya Raymundus Josef Sandiya Brotosoesiswo seorang guru Sekolah Rakyat. Di mata Jakob, guru merupakan profesi yang mengangkat martabat.

Namun dia juga tertarik menjadi wartawan karena kegemarannya menulis. Minat ini semakin bertumbuh setelah mendalami ilmu jurnalistik di Perguruan Tinggi Publisistik, Jakarta dan Jurusan Publisistik Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Gadjah Mada.

Pada tahun 1955 Jakob menjadi redaktur mingguan Penabur di Jakarta. Pada Agustus 1963, Jakob bersama dengan Petrus Kanisius Ojong bersama mendirikan majalah Intisari. Lalu kemudian Menteri/Panglima Angkatan Darat Letjen Achmad Yani mengusulkan kepada Drs. Frans Seda, Ketua Partai Katolik agar partainya memiliki sebuah media.

Frans Seda lalu menghubungi dua rekan yang berpengalaman menangani media massa, yaitu PK Ojong dan Jakob Oetama. Akhirnya dari tangan duet Jakob dan PK Ojong berdirilah Koran Kompas yang terbit perdana 28 Juni 1965.

Perusahaan media yang dipimpin oleh Jakob terus berkembang pesat, baik Intisari dan juga Kompas. Ia pun melebarkan sayapnya ke berbagai bidang lain termasuk perhotelan dan universitas.

Berkat pengabdiannya, Jakob Oetama mendapatkan beberapa penghargaan. Salah satunya adalah gelar Doktor Honoris Causa di bidang komunikasi dari Universitas Gajah Mada dan Bintang Mahaputra Utama dari pemerintah Indonesia pada tahun 1973. (*)



Pos terkait