Curhat Pengusaha Galian C di Lutra, Awalnya Diminta Membantu Pemerintah Pasca Banjir Bandang, Kini Berhenti Akibat Diperas Oknum Polisi

Ilustrasi

LUTRA — Pengusaha tambang galian C di Masamba Kabupaten Luwu Utara curhat mengenai aktifitas mereka yang diperas oleh oknum aparat polisi dengan dalih untuk setoran kapolres.

Padahal, keberadaan mereka selama ini hanya niat membantu pemerintah mengeruk pasir di sungai yang melimpah pasca banjir bandang Masamba pada tahun 2020 lalu.

Bacaan Lainnya

Menurut salah satu pengusaha tambang galian C yang tidak ingin namanya di mediakan, kegiatan ini bermula dari kerjasama antara pihak balai dengan pengusaha tambang galian c, untuk pengerukan sedimen di sungai akibat pendangkalan pasca banjir bandang di kabupaten Luwu Utara.

“Kami melakukan pengerukan itu atas izin balai, karena waktu itu pihak balai tidak punya anggaran. Sedangkan masyarakat mendesak agar secepatnya dilakukan pengerukan terhadap sungai-sungai tersebut,” ungkapnya.

Setelah aktifitas itu berjalan, pihaknya mengaku menjual sedimen hasil pengerukan. Katanya untuk keperluan operasional di lapangan.

“Kan pemerintah tidak punya anggaran, kami bisa membantu asal sedimen tersebut kami jual, untuk membiayai keperluan operasional kegiatan di lapangan,” katanya belum lama ini.

Setelah berjalan, pengusaha tersebut mengaku mulai mendapat sorotan dari aparat kepolisian. Pihaknya mengklaim melalui oknum aparat, kapolres Luwu Utara meminta jatah untuk setiap alat yang bekerja di lapangan.

“Sudah berjalan, tiba-tiba ada pihak yang merasa kami ini mengambil keuntungan, dia meminta biaya untuk setiap alat yang bekerja itu Rp 3 juta perbulannya, ini atas permintaan kapolres,” bebernya.

Tidak berhenti di situ, pihaknya juga mengklaim permintaan dari oknum tersebut tidak hanya setoran setiap bulannya.

“Belum lagi itu (setoran perbulan). Sedikit-sedkit minta duit untuk ke mana-mana,” tambahnya.

Pihaknya merasa sakit hati lantaran ketika permintaan tersebut tidak dipenuhi, kegiatan mereka akan langsung di hentikan oleh oknum aparat kepolisian.

“Sakit sekali hati saya pak, kita inikan sudah membantu pemerintah. Jadi sudah lah saya memilih untuk berhenti saja, terakhir sekitar tiga bulan lalu saya kasi Rp5 juta lalu berhenti,” ucapnya dengan kesal.

Terpisah, Kapolres Luwu Utara, AKBP Galih Indragiri saat dikonfirmasi membantah keras tuduhan tersebut.

“Masa kapolres minta setoran galian C bro? Yang bener aja lah. Ga bonafit sekali,” katanya Kamis (19/10/2023) malam.

“Siapa namanya? Biar saya suruh hajar sekalian. Perintah saya tidak ada lagi pelaku galian c, yang belum ada izinnya. Silahkan segera dibuatkan izinnya,” tandasnya. (*)



Pos terkait